
Hera terbangun lebih segar pagi ini, setelah demam tinggi semalaman. Berbanding terbalik dengan Dzikra yang justru terlihat kurang tidur. Matahari sudah naik, Hera sudah mondar mandir bolak balik ke kamar dengan menghentakan kaki agar Dzikra bangun, tapi Dzikra seolah tuli masih asik bergabung dengan dunia mimpinya.
Hera sambil menatap Dzikra bertolak pinggang menghadap kasur batinya berkata, "oh inikah rasanya, kalau memiliki suami pengangguran? Oke, dia gak nganggur, tapi aku gak suka kayak gini!"
Hera pun naik ke atas ranjang, mengoyangkan badan Dzikra.
" Ini udah siang! mau tidur terus! kamu belum makan!" setengah teriak Hera.
"Iya sayang, nanti aku bangun," suara Dzikra serak berat mengeliat sambil mengerjapkan manik coklatnya.
"Bangun gak sekarang juga! ini udah masuk Dzuhur! itu telpon terus berdering dari tadi! " ujar Hera sambil cemberut.
"Iya, iya sayang, "ujar Dzikra langsung bangun dengan malasnya mendudukan badannya.
Bawel banget sih, gak tau suami cape, Batin Dzikra emosi karena dibangunkan paksa.
"Kamu marah ya sama aku? " selidik Hera sambil menatap tajam suaminya.
"Enggak, " ujar Dzikra sambil menyibakkan selimutnya berjalan ke kamar mandi.
Tidak berapa lama Dzikra keluar dari kamar mandi sudah melilitkan handuknya dipinggang. Hera sigap membantu suaminya memakaikan pakaian. Dzikra emosinya sudah reda melihat Hera yang begitu memperhatikannya.
"Masih demam gak? " ujar Dzikra sambil menempelkan punggung tangannya di kening Hera.
"Udah sembuh kok, " jawab Hera sedikit merona pipinya karena sentuhan Dzikra.
"Syukurlah, " ujar Dzikra sambil mengecup kening isterinya dan itu cukup memporak- porandakan hati seorang wanita.
Dzikra meninggalkan Hera yang masih tersenyum-senyum, ia mengambil ponsel dinakasnya, banyak panggilan masuk ke ponselnya, pesan sudah memenuhi ponselnya.
"Yang, hari ini kita ke rumah mamah ya, aku udah cerita kejadian kemarin jadi mama khawatir karena belum syukuran 7 bulanan makanya ada kejadian kayak gitu katanya, " ujar Dzikra sambil terus mengecek pesan-pesan di handphonenya.
"Mamah?" ujar Hera bingung.
"Iya mamah kamu yang, mamah aku kan udah gak ada, " ucap Dzikra sambil menoleh melemparkan senyuman.
"Kenapa selama ini kamu menyembunyikan mamah dari aku? kenapa aku gak dibolehin ngobrol sama mamah selama ini? terus kenapa tiba-tiba sekarang kayak gini! kamu kok egois! " cerocos Hera sambil berkaca-kaca.
__ADS_1
Dzikra langsung menepuk jidatnya, memahami kesalahannya tidak menjelaskan kepada Hera, dan alhasil Hera emosinya gak teratur sensitif banget. Dzikra tidak ada pilihan lain langsung berjalan mendekat pada Hera dan memeluknya.
"Maafin aku ya, nanti aku jelasin ya, jangan marah-marah dulu," ujar Dzikra sambil mengelus punggung isterinya.
"Jahat! "gugam Hera didalam pelukan Dzikra.
"Iya aku jahat, " jawab Dzikra.
"Orang jahat mana ada yang ngaku! "Ujar Hera melepaskan pelukan Dzikra menengadah menatap manik coklat suaminya.
Salah mulu gue, orang hamil nyebelin banget! Huh! Sabar Dzikra, sabar Dzikra, batin Dzikra dalam hatinya menahan emosi.
"Kok diem! " selidik Hera, "Lagi mikirin cewe lain ya? atau kamu lagi bilang aku ini cerewet ya? " ujar Hera semakin dalam menatap manik suaminya.
"Enggak sayang, kamu negatif thinking mulu sih! justru aku lagi mikir pengen cium kamu," goda Dzikra untuk menghilangkan frustasinya menghadapi Hera.
"Ganjen, mesum, nafsuan, " ujar Hera pipinya sudah merona sambil melangkah ke lemari baju.
Dzikra mengulum senyumannya sambil mendekat ke Hera dan memeluknya dari belakang menghirup aroma khas isterinya.
"Iya boleh, aku anterin kamu ke rumah mamah sekarang tapi maaf aku gak bisa nemenin acara syukuran soalnya Adit minta aku ke cafenya," ujar Dzikra tidak menolak karena mode Hera sedang tidak mau ditentang.
*****
Rumah sederhana yang begitu asri sudah banyak orang yang berdatangan, karena pemilik rumah sengaja mengundangnya untuk acara syukuran 7 bulanan. Dzikra mengandeng tangan Hera memasuki rumahnya, ibu-ibu pengajian nampak terpesona oleh Dzikra yang begitu ramah pada ibu - ibu tersebut. Sedangkan Hera langsung menemui ibunya melepas rindu.
Keberadaan Dzikra dikampung tersebut, cukup membuat orang-orang berbondong-bondong datang ke acara syukuran Hera, hanya ingin memastikan wajah tampan Dzikra. Banyak yang mencari perhatian Dzikra dengan berdandan. Sedangkan Dzikra yang duduk dibarisan bapak-bapak tidak tenang karena diperhatikan oleh kelompok ibu-ibu yang mengodanya.
Hera sudah muncul memasuki ruang tengah dengan memakai gamis wajahnya sangat berseri-seri karena dipoles sedikit make up. Dzikra langsung berpamitan karena harus menyelesaikan amanah bisnisnya. Dihalaman Hera mengantarkan suaminya berangkat.
"Aku berangkat dulu ya, nanti malam aku kesini lagi, " ujar Dzikra menangkup wajah Isterinya.
"Iya, hati-hati. Kabarin ya kalau sudah sampai, "ucap Hera sambil berjinjit lalu mengecup pipi suaminya.
Dzikra sangat kaget dengan sikap Hera yang sulit terbaca, akhirnya hanya tersenyum dan membalas dengan kecupan dikeningnya. Didalam ruang ibu-ibu sudah berdesakan mengintip dua pasangan tersebut melalui jendela. Saat adengan romantis itu pekikan patah hati para janda dan gadis membuncah.
Hera dalam hatinya tertawa penuh kemenangan, " rasain tuh jangan godain suami aku! "batin Hera.
__ADS_1
Setelah Hera masuk, acara pengajian pun dimulai. Pak Ustad dan Pak Lebe sudah memimpin doa-doa keselamatan kemudian dilanjutkan membaca ayat suci alquran surat Ar rohman, surat yusuf, surat yasin dan surat maryam. Doa ditutup dengan tahlil dan dzikir.
Selanjutnya makan-makan, Hera membantu para ibu-ibu mengedarkan makanan. Lalu bergabung duduk dekat ibunya untuk makan bersama dengan kumpulan ibu-ibu.
"Enak ya, punya mantu ganteng udah gitu tajir ya mpok, " ujar ibu yang berkerudung kuning dengan mulut masih penuh nasi kuning, untungnya tidak ikut bertebaran saat ia berbicara.
"Iya alhamdulillah," jawab ibunya Hera sambil tersenyum.
"Neng Hera gimana bisa dapet yang model gitu, biar nanti anak tante juga si Ratih jodohnya kayak neng Hera," ucap ibu kerudung merah menyala dengan lipstik merah cabe bertahta dibibir tebalnya.
"Jodoh urusan Allah, saya juga gak tahu bu," ujar Hera sambil tersenyum.
"Neng Hera, boleh gak kalo suaminya nikah lagi sama anak saya," ujar seorang ibu yang berada dipojokan.
Seketika wajah Hera berubah masam mendengar ucapan ibu tersebut. Hera hanya tersenyum samar membalasnya.
"Atau sama saya aja, saya walaupun janda tapi saya gak punya anak, " ujar wanita dihadapan Hera semakin membuat Hera naik pitam.
Kenapa ibu-ibu ini ganjen banget, siapa juga yang mau suaminya nikah lagi! emangnya kalian mau kalo suaminya nikah lagi! rutuk Hera dalam hatinya.
Seorang wanita dengan krudung lebih panjang dan wajahnya putih karena tebal mengunakan foundation, melihat Hera terdiam akhirnya mencairkan suasana.
"Suaminya nak Hera belum tentu menyukai anak-anak ibu atau kamu yang janda, maaf ya nak Hera ibu-ibu emang suka bercanda, " ujarnya ramah.
"Iya bu gak apa-apa, " jawab Hera sambil menarik senyuman.
*****
Dzikra kesal karena Hera setiap ditelpon panggilan sibuk terus. Api cemburu tiba-tiba berkobar, chat whattshap hanya dibaca saja oleh Hera.
Sekitar pukul 10.00 malam, Dzikra sudah kembali ke rumah mertuanya dan mendapati isterinya sudah terlelap. Dzikra pun ikut merebahkan diri disamping Hera, namun ponsel Hera muncul notif.
08xxxxxx: Kita ketemu di hotel Horison. Gue kangen sama Lo.
Dzikra membaca pesan tersebut langsung mengecek panggilan telpon, Hera ternyata bertelponan dengan nomor itu berkali-kali hari ini.
BERSAMBUNG...
__ADS_1