Takdir Bersamamu

Takdir Bersamamu
Apakah isteriku berselingkuh?


__ADS_3

Kegiatan di rumah mertuanya sudah selesai, Dzikra membawa Hera kembali ke apartemenya. Namun, Dzikra tidak mengajaknya mengobrol sepanjang hari itu. Tentu, hal itu membuat Hera keheranan. Tapi, Hera mencoba menepis pikirannya yang tidak-tidak.


"Dzik, maaf ya aku ketiduran pas kamu pulang? " ujar Hera setelah saat makan siang.


"Dzik Dzik, kamu gak bisa apa panggil jangan panggil nama, aku ini suamimu! " bentak Dzikra membuat Hera terkejut mendengarnya.


Dzikra bangkit berjalan keluar dari apartemen dengan emosi yang masih meledak-ledak. Hera mengikutinya dibelakang mengejar Dzikra yang berjalan ke basment.


"Dzikraaaa tungguuuu! Dzikraaaa tungguu!" teriak Hera sambil setengah berlari memegangi perutnya.


Dzikra tidak peduli dengan teriakan Hera, ia hanya merasa marah karena memikirkan Hera yang diam-diam bermain dibelakangnya. Hingga tepukan keras mengenai pundaknya.


"Apaaan sih Raaa! " teriaknya sambil membalikan badan.


Namun ternyata bukan Hera yang menepuk punggungnya, tetapi seorang lelaki berbaju security. Wajah Dzikra langsung jadi malu.


"Maaf pak," ujar Security takut-takut karena dibentak Dzikra.


"Oh iya, saya yang minta maaf, ada apa pak Karjo?" tanya Dzikra sopan.


"Anu pak, isterinya jatoh! " ujar Security tersebut.


Dzikra yang mendengar hal tersebut langsung berlari meninggalkan security tersebut. Benar saja, Hera nampak meringgis kesakitan, memijat kaki. Dzikra langsung menghambur mengendongnya membawanya kembali ke apartemennya. Sepanjang didalam lift Dzikra hanya terdiam sambil mengendong isterinya, begitu pun Hera yang menunduk dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya sambil menanggis.


Setelah sampai di apartemen, Dzikra langsung mendudukan diatas sofa. Kaki Hera terkilir ringan, Dzikra langsung memeriksanya segera membawa obat pijat, berjongkok memijat pelan kaki isterinya dan mengembalikan posisi urat yang berkerut, sehingga Hera berteriak keras karena sakit dan memukul wajah Dzikra dengan bantal.


"Kamu mau bunuh aku ya? " ujar Hera matanya sudah berair menatap sendu pada Dzikra.


"Kalo mau ngebunuh gak kaya gini, langsung aja aku tusuk disini! " ujar Dzikra sambi menunjuk ke arah perut besar Hera.


"Disini, " menunjuk ke jantung Hera semakin membuatnya bergindik.


Kemudian Dzikra dengan mata serius mendekat ke wajah Hera, lalu pandangannya jatuh ke leher Hera yang tertutup Jilbab.


"Aku potong disini, " ujar Dzikra.


Hera semakin bungkam mendengar ucapan Dzikra yang cukup menakutkan. Tapi berbeda dengan Dzikra yang wajahnya jaraknya begitu dekat dengan Hera.


Cup


Dzikra mendaratkan kecupan dibibir Hera, membuat Hera terkesiap karenanya. Lalu Dzikra beranjak dari hadapan Hera menuju dapur mengangkat telpon dari temannya.


*****


Hera memandangi punggung Dzikra yang tengah bertelpon. Hera menunggu Dzikra menyelesaikan urusannya dengan rekannya. Dzikra terkejut saat mendapati Hera berada dibelakangnya.


"Ada apa? " tanyanya dingin.


"Aku bingung, kenapa abang tiba-tiba marah?" ujar Hera mencoba mengunakan panggilan sayang yang sudah tengelam lama.

__ADS_1


Dzikra menatap wajah isterinya lalu menghempaskan nafasnya pelan.


"Baiklah, kita bicara, " ujar Dzikra mulai melunak.


"Kemarin telpon abang gak ke angkat, maaf ya, " ujar Hera yang dibalas tatapan datar oleh Dzikra.


"Terus, " timpal Dzikra.


"Iya, maaf sms juga gak keburu dibales, aku ketiduran." ujar Hera semakin gelisah mendapat respon dari Dzikra.


"Terus," ujar Dzikra masih menatap lekat isterinya dengan tatapan datar.


"Udah bang, " ucap Hera menunduk.


"Itu aja? gak ada yang mau disampaikan lagi?" tanya Dzikra menatap Hera yang mengelengkan kepalanya.


"Apa rencana kamu hari ini? apa kamu akan pergi keluar? " ujar Dzikra.


"Tidak, kalau tidak sama kamu bang, " ujar Hera.


" Aku ada urusan sama Adit, " ujar Dzikra berjalan meninggalkan Hera.


Itu hanyalah alasan dari Dzikra, sebenarnya tidak ada janji dengan Adit, Dzikra hanya ingin membuktikan ucapan Hera. Dzikra sengaja mengawasi Hera di luar apartemen. Kemudian tiba-tiba muncul pesan.


Hera: Bang aku ada keperluan dadakan keluar, gak apa-apa kan aku keluar sendirian.


Sial! cara kamu murahan Ra, ternyata kamu mau nemuin tuh Cowo! batin Dzikra saat membaca pesan dari Hera.


*Centang biru tanda langsung dibaca pesan tersebut.


Hera: Ke restoran Xone.


Pintar sekali kamu berbohong Ra! Oke kita lihat sejauh mana kamu akan berbohong! batin Dzikra semakin panas.


Dzikra: ok


Hera: Makasih sayang 😘.


Tidak berapa lama Hera nampak angun mengenakan gamis warna salem keluar dari apartemen. Mobil online sudah terparkir, mereka melaju ke suatu tempat yang diikuti oleh Dzikra. Tepat direstoran Xone mobil berhenti. Hera keluar dan masuk ke dalam restoran, kemudian duduk disatu kursi. Dzikra mengamati dari jauh gerak-gerik isterinya. Hera nampak memesan beberapa makanan, tidak lama muncul seorang lelaki menuju meja Hera.


Sialan Ra, Lo beneran selingkuhin gue! gerutu Dzikra sambil mengepalkan tangannya.


Hera dan lelaki tersebut nampak berbicara hangat, bahkan Hera memegang tangan lelaki yang terlihat lebih muda darinya itu. Setelah menyelesaikan makannya, mereka bedua beranjak pergi menaiki mobil. Dzikra masih membuntutinya, namun kaget bukan kepalang Dzikra saat melihat Hera membawa lelaki itu masuk ke apartemennya.


Ra Lo Gila! Sialan! selama ini Lo main di apartemen saat gue gak ada! Shit Shit what the hell! sumpah serapah Dzikra semakin memuncak.


Saat memasuki Lift, Dzikra mengambur ikut masuk, Hera nampak kaget dengan keberadaan Dzikra.


Kena Lo! Masih bisa lo bohong sama gue! batin Dzikra sambil menatap tajam Hera bergantian dengan lelaki disampingnya.

__ADS_1


"Bang, udah pulang lagi? " tanya Hera gugup.


"Iya, kenapa? " jawab Dzikra datar.


"Enggak apa-apa, " ujar Hera menundukan pandangannya.


"Ini temennya? " ujar Dzikra.


"Aku Syabil, " jawab lelaki muda samping Hera itu tetsenyum menjulurkan tangan.


"Aku suaminya! " ujar Dzikra menjabat tangan lelaki tersebut.


*****


Kedua lelaki itu sudah duduk disofa, Hera mengambilkan minum untuk dua lelaki tersebut. Dzikra dengan tegap menatap tajam pada pemuda dihadapannya yang sedang tertunduk. Aura peperangan nampak mengebu-ngebu dimata Dzikra. Hera datang memberikab minuman tersebut.


"Maafin ya bang, aku gak bilang ngajak Syabil kesini! " ujar Hera sambil meletakan tangan dipaha Dzira.


Dzikra tidak menyahuti ucapan Hera. Seketika Hera merasa bingung dengan suasana yang nampak canggung tersebut.


" Bang! Jangan ditatap gitu kasian Syabil! " ujar Hera memohon padda Dzikra.


"Hmm! " ucap Dzikra mengalihkan tatapannya ke Hera.


"Maafin kak Hera, kayaknya Syabil ganggu deh! Syabil mau balik aja, " ujar Syabil.


"Kak!! " teriak Dzikra terkejut memandang bergantian Hera dan Syabil


"I..I.. iya bang ini Syabil, adik aku yang kuliah di Turki! "ujar Hera terbata-bata.


"Adik?" ujar Dzikra matanya terbelalak dan wajahnya sudah memerah menahan malu.


Dzikra pun langsung bangkit dan merangkul kuat Syabil, adegan itu membuat Hera aneh dengan sikap Dzikra.


"Selamat datang adik iparku! maaf sikapku tadi, habisnya kita tidak pernah jumpa!" sambut Dzikra.


*****


Didalam kamar Dzikra berbaring disamping Hera. Dzikra mengumpulkan keberanian untuk berbicara dengan Hera.


"Yang, kemarin aku buka pesan dihp kamu, ada yang ngajak ketemu di hotel Horison?" ujar Dzikra.


"Syabil nelpon pake nomor Rangga. Terus Rangga sms pengen ketemu, " jelas singkat Hera sambil menatap mata indah suaminya dan mengelus jambang tipisnya.


"Loh, kenapa gak ketemuan sama Rangga?" ujar Dzikra sambil menatap tajam.


" Sempet kepikiran mau nemuin dia, tapi lain kali aja bareng kamu bang," ujar Hera sambil mengecup pipi suaminya.


"Kamu takut aku cemburu?" ujar Dzikra mengerutkan dahinya yang dibalas anggukan oleh Hera.

__ADS_1


"Maafin sikap aku tadi siang ya? " ujar Dzikra yang dibalas anggukan oleh Hera.


BERSAMBUNG...


__ADS_2