
Setelah kejadian pagi yang mendebarkan Hera. Ia sangat tidak fokus, banyak melamun terkadang senyum-senyum sendiri didepan kaca. Pipinya merah merona setiap mengingat kejadian dikasur itu. Tiap kali terlintas ingatan itu dia memegang bibirnya kemudian menepuk nepuk pipinya.
"Kenapa kamu? Jangan bertingkah aneh didepan orang lain. Aku tidak mau mendengar godaan pengantin muda dari orang sekeliling, Aku risih. Jadi bertindak dewasalah, tadi pagi hanya kecelakaan dan bukan apa-apa, jadi jangan terus membayangkannya." ucap Dzikra dengan sinis dan tajam.
"Huh, iya itu hanya kecelakaan." ucap Hera sedikit kesal merasa tidak ada yang spesial dengan hal yang baru terjadi dimata Dzikra.
" Cepatlah keluar, kakek menyuruhku untuk membawamu ke gedung resepsi, dan kamu jangan sekali-kali menyusahkan aku. " Ucap Dzikra sambil berjalan mengunakan tongkat menuju pintu.
" Aih, siapa juga yang akan menyusahkanmu, aku yang akan membantumu." Jawab Hera seraya bangkit dari kursi meja rias berjalan mendekati Dzikra dan mengandengnya.
Dzikra melemparkan tatapan sinis dan tajam ke Hera. Tapi Hera pura- pura tidak melihatnya.
" Jangan membuatku tampak menyedihkan dengan perilakumu." mengibaskan tangannya dari Hera.
Hera cukup terkejut dengan sikap Dzikra yang tidak bersahabat sama sekali dengannya. Baru menikah dalam hitungan 60 Jam tapi Hera sudah merasa tidak tahan dengan sikap Dzikra yang selalu mempermasalahkan segala hal. Hera hanya menatap Dzikra penuh kekesalan, dan membuka pintu lebih dahulu kemudian meninggalkan Dzikra yang berjalan perlahan-lahan. Dzikra yang menyaksikan hal tersebut tersenyum kecut dan membuang muka penuh kebencian.
***
Hera sudah mengenakan gaun penikahan berwarna putih, ditangannya mengengam sebuket bunga Daisy. Bunga favorit Hera, wajahnya dipoles dengan riasan pengantin dari MUA ternama, Hera nampak sangat anggun dan manis. Sebenarnya memang Hera wanita cantik dengan kulit putih sawo matang, bibir rangnum, mata belo dan bulu mata lentik, dia juga memiliki lesung pipi, jika tersenyum semua mata akan terpana melihat kecantikannya. Boleh dikata Hera ini Suzy Miss A versi Indonesia, dengan kulit putih sawo matang.
Saat ini, Hera sudah duduk dipelaminan seorang diri, Dzikra tidak kunjung terlihat batang hidungnya. Sedangkan acara resepsi akan segera di mulai, Hera sedikit gelisah. Tapi dia percaya Dzikra bukan orang yang lepas tanggungjawab seperti itu.
Akhirnya 5 menit sebelum acara dimulai Dzikra mengenakan tuksedo berjalan ke kursi pelaminan. Hati Hera langsung melonjak, meski hanya melihatnya saja, Hera sudah senang walau terkadang Dzikra selalu mengintimidasinya. Dzikra duduk disamping Hera tanpa berkata sepatah katapun, matanya tak meliriknya sedikit pun. Hera melihat Dzikra tidak meliriknya sama sekali, sedkit kecewa. Kemudian Hera pun mengengam tangan Dzikra dan hanya melihat kedepan berusaha memperlihatkan wajah bahagianya. Dzikra yang dipegang tangannya merasa tidak senang berusaha melepaskannya, tetapi Hera mengengamnya dengan erat.
" Kamu bukan orang yang mau terjatuh ke Jurang, kenapa memegang tanganku seperti ini." bisik Dzikra.
Hera langsung menolehnya, melihat wajah Dzikra yang cukup dekat dengannya. Kemudian dia melepaskan gengamannya dan beralih kedua tangannya menangkup kedua wajah Dzikra.
"Kamera siap Ok" kata fotographer.
__ADS_1
Ekspresi itu diabdikan untuk sesi foto. Hera kemudian menjauhkan tangannya dari wajah Dzikra. Baru menyadarinya mereka ternyata memulai sesi photo.
"Coba bergaya lebih intim lagi kalian". Pinta fotographer.
Hera tanpa aba-aba meraih tangan Dzikra dan meletakannya dipinggangnya, tanganya diletakkan diatas pundak Dzikra. Kemudian wajahnya tersenyum ke kamera.
"Ok. good, perpect!" Ucap fotographer.
Sesi photo cukup lama berlangsung sampai tamu undangan memenuhi seisi gedung. Prosesi nikahan di laksanakan dengan mengunakan Upacara adat Sunda. Setelah itu dilangsungkan acara sungkeman. Barulah hiburan modern. Semua tamu sudah dipersilahkan menikmati hidangan yang sudah tersaji. Dan diperbolehkan mengambil photo dengan pengantin.
" Jo, gile loe ya, diem-diem aja mau nikah. Gila loe bener bener gila tau. Sakit gue diginiin." Seru Rangga teman dekat Hera saat menyapanya diatas pelaminan.
Hera hanya tersenyum melihat cadaan temannya.
" Iya, sorry gak inget. Tapi sekarang jangan panggil lagi Jojo." Ucap Hera.
" Iya, iya deh ibu ratu. Eh ngomong-ngomong loe jago dapetin yang tajir keren gini hehe." kata Rangga sambil memperlihatkan barisan giginya yang rapih tertawa cengegesan.
" Loe gak pake pelet kan?" Gelak tawa Rangga menyertai akhir perkataannya.
Wajah Hera, menunjukan emosi ke Rangga. Karena berbicara sembarangan.
" Idiih jangan marah bu guyuu.." Rangga seraya berlalu dan menyalami Dzikra dan memeluknya.
" Walau gue gak kenal loe, gue titip Hera sama loe jadiin dia pembokat hehe." Rangga masih saja bercanda.
Hera yang mendengarnya kembali melototi Rangga. Yang dipelototi hanya tersenyum puas telah membuatnya kesal setengah mati. Rangga berjalan berlalu menuruni pelaminan, wajahnya yang berpura-pura tegar berubah penuh kekecewaan yang mendalam, hatinya hancur. Tamu undangan bergantian menyalami kedua mempelai pengantin. Kebanyakan mereka kenalan Dzikra, karyawannya dan kenalan kakeknya Dzikra. Prosesi pernikahan baru selesai menjelang pukul 16.00. Hera dan Dzikra setelah resepsi selesai langsung diterbangkan ke Kota Bandung, ke Lembang. Mereka sampai di kota Bandung sudah larut malam, mereka tidak banyak berbicara mereka langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur.
****
__ADS_1
Hera terbangun, tidak ada Dzikra di sampingnya, jam menunjukan pukul 5 pagi. Hera tertegun kemudian dia melangkah menuju kamar mandi, ruangan itu lantainya masih kering, menandakan belum tersentuh oleh manusia. Hera tidak ambil pusing, melanjutkan masuk ke kamar mandi dan membersihkan badannya. Cuaca Lembang sangat dingin membuatnya hampir merasa mau beku. Hera segera keluar dari kamar mandi dan menunaikan shoat subuh kemudian membaca ayat suci alquran. Jam sudah menunjukan pukul 6 pagi. Hera segera keluar dari kamar mencari Dzikra, tetapi suaminya rupanya tidak ada di tempat itu. Hera berjalan berkeliling. Pikirannya mengatakan mungkin Dzikra sedang jalan-jalan menghirup udara segar.
Hera berjalan ditepi kolam tempat penginapan tersebut. Memotret beberapa hal yang indah dimatanya. Sampai pukul 7 pagi dia kembali ke kamarnya, tidak menemukan Dzikra. Hera memutuskan sarapan pagi dahulu. Setelah itu Ia kembali menunggu Dzikra, tapi tidak muncul juga. Hera memutuskan menelponnya tetapi nomornya tidak aktif. Hera mau menelpon ke rumah tidak mungkin, takut yang dirumah khawatir. Hera kembali ke meja Recepsionis dan menanyakan mengenai Dzikra, tapi tidak menemukan jawaban apapun. Hera benar-benar bingung, dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya, Dzikra dalam sekejap menghilang disampingnya. Hera mencoba berpikir positif, dia berniat meninggalkan pesan kepada Dzikra, dia akan berjalan-jalan sendiri.
Hera kembali ke kamarnya mengambil tasnya kemudian mencari lokasi wisata terdekat. Dipilihlah dia pergi ke Bougenvile, kemudian Rumah Bambu, dan berakhir di Farm House. Hera kembali saat menjelang isya. Hera mengirim pesab kepada Dzikra, menanyakan keberadaanya. Tapi dua pesan dari pagi hanya bercentang satu. Hera menghela nafas, semuanya sama tapi dia masih berpikir mungkin Dzikra sekarang sedang di kamar penginapan. Hera kembali ke kamar penginapan, tapi kamar itu masih gelap, menandakan tidak ada yang datang ke kamar tersebut. Hera pun terkulai, air matanya mengalir deras, dia terisak menangisi ketidakberadaan Dzikra.
Dzikra kamu dimana? kamu baik-baik saja. Aku tidak tahu harus bagaimana. Tolong jangan sembunyi.
Air matanya terus mengalir deras menghujani pipinya sepanjang malam. Hera tidak sanggup menutup matanya, berkali -kali mencoba menghubungi Dzikra, tapi hasilmya tetap nihil. Hera baru tertidur pukul 2 pagi, dia kembali terbangun kemudian melihat sekeliling dan meraba kesamping kasurnya mencari Dzikra. Berlari ke kamar mandi tidak ada siapa pun. Air matanya kembali menetes. Akhirnya setelah mandi dan solat langsung berkemas, memilih kembali pulang ke Jakarta. Dan melaporkan kejadian ini kepada kakeknya. Karena kakeknya pun tidak menggangkat telpon sedari kemarin, ibu mertua juga tidak. Akhirnya Hera putus asa, Hera segera mengambil tiket kereta api ke Jakarta.
***
3 jam berlalu.
Hera sudah berada di Jakarta, dia memasuki pekarangan rumah Dzikra yang didapatnya dari ibu mertua saat pernikahan kemarin. Hera mengetuk pintu rumah. Ibu mertua membuka kannya.
" Kalian tidak datang bersama. Apa kalian ada masalah?" tanya ibu mertua.
" emmm..?" Hera bingung dengan pertanyaan ibu mertua.
" Dzikra tadi sudah datang dari Subuh, dan kau baru datang sekarang. Ada apa dengan kalian?"
Deg jantung Hera, kaget setengah mati, selama ini Dzikra ternyata pulang lebih dulu, dan meninggalkannya di kota Bandung.
" Kamar Dzikra sebelah mana bu?"
" Dzikra di lantai dua kamarnya sebelah kanan ya, jangan lupa ya langsung bereskan masalah kalian di ranjang." Ibu mertua sambil cekikikan. Hera tidak menanggapinya hanya tersenyum.
" Hera ka atas dulu ya bu". ucap Hera dengan sopan.
__ADS_1
Hera tersenyum canggung kepada ibu mertua dan dia bergegas ke lantai dua dan masuk ke kamar Dzikra. Benar saja di kamar itu Dzikra sedang melihat pemandangan di loteng. Hera hatinya sakit, ingin marah tapi dia malah berlari dan memeluk Dzikra dari belakang.
BERSAMBUNG....