
Mobil yang dikendarai oleh Dzikra terparkir didepan sebuah rumah bercat kuning. Nampak tuan Rumah, langsung menyambut kedatangan tamu tersebut. Seorang wanita berambut sebahu memeluk Hera, mereka cipika cipiki.
" Aduuuuuh Ndo, kamu tambah cantik aja, maafin loh, mbak gak bisa dateng waktu nikahan kamu."Ucap kakak ipar Hera sambil memegang kedua pundak Hera.
" Gak apa-apa mbak, kan Gilang lagi sakit, jadi aku maklumi." Jawab Hera sambil tersenyum.
Dzikra keluar dari mobil sambil meleparkan senyuman dan memgangguk pada kakak ipar Hera. Sejenak kakak Ipar mengeryitkan dahinya.
"Ini Dzikra mbak, suami aku mbak. Bang Dzikra, ini mbak Siti kakak ipar aku." Ucap Hera mengenalkan kakak iparnya pada Dzikra.
" Oh, iya Mbak. Saya suaminya Hera, maaf baru sekarang datang kesini." ucap Dzikra.
" Oh iya, gak apa-apa. Ayo masuk!" ajak Mbak Siti.
Mereka bertiga masuk ke dalam rumah bercat kuning tersebut, dan duduk di ruang tamu. Sedangkan tuan rumah pergi ke dapur mengambilkan jamuan.
" Mas Farhan, ada ndo Hera datang." teriak Mbak Siti kepada suaminya.
Farhan yang merupakan kakak kandung Hera langsung bergegas turun dari tangga menengok tamu yanh datang. Senyumannya mengembang tatkala melihat Hera berada diruang tamu. Hera menyambutnya dengan mencium tangannya, begitu pun Dzikra langsung bersalaman dengan Farhan.
" Owalaaah.. Jadi ini suamimu de. Cakep bener." Goda Farhan.
" Iya dong kak, lebih tampan dari kakak." timpal Hera sambil tersenyum.
Dzikra melihat dirinya dipuji oleh Hera, hatinya berbunga-bunga, sudut bibirnya menyungingkan senyuman. Sedangkan Farhan mendengar adiknya memuji suaminya tertawa terbahak-bahak.
"Oke-oke de, sekarang kamu udah gede ya. Nah, ini tumbenan mampir kemari de. Mau pamer ke kakak nih?" goda Farhan.
" Iya dongs. Tapi sebenarnya ada yang mau diobrolkan kak." ujar Hera berubah jadi serius.
" Oh, hal apa?" tanya Farhan.
" Mau aku atau abang yang cerita?" tanya Hera pada Dzikra.
" Kamu aja, nanti aku nambahin?" kata Dzikra.
__ADS_1
" Hmmm.. Ok jadi gini kak. Suami aku, bang Dzikra mengalami kecelakaan saat akan melangsungkan pernikahan dengan Rahel yang sekarang jadi kakak ipar aku. Waktu itu mobil yang ditumpangi bang Dzikra dan ayahnya tiba-tiba rem blong. Akhirnya mobil menabrak pembatas jalan dan terjatuh ke jurang. Ayah bang Dzikra meninggal," jelas Hera.
Farhan mendengarkan kata demi kata yang terucap dari adiknya dengan seksama. Ia mencoba memahaminya.
"dan orang yang membuat rem blong itu ada yang bilang itu perbuatan kakak. Apa benar kak?" tanya Hera serius menatap Farhan.
Praaaaaang
Suara gelas yang beradu dengan lantai, rupanya gelas yang berisi minuman itu meluncur terlepas dari tangan Mbak Siti. Ketiga orang yang sedang duduk ruang tamu menoleh pada Mbak Siti. Farhan berdiri dan memunguti pecahan gelas tersebut lalu membersihkannya, sedangkan Mbak Siti terdiam jantungnya masih kaget. Farhan segera membawa isterinya ke kamar. Seketika ia pun datang kembali menatap tamunya dengan dingin.
" Sepertinya hal tersebut kurang baik dibicarakan sekarang." Ucap Farhan.
Hera dan Dzikra langsung bertatapan, mereka menghela nafas, karena Farhan secara tidak langsung mengusir mereka.
" Baiklah kak. Aku menunggu jawaban kaka, aku harap itu tidak benar." ucap Hera pada Farhan.
Farhan tidak menjawab, padangannya dialihkan keluar jendela. Kehangatan beberapa menit lalu hilang dalam seketika. Suasana menjadi sangat canggung.
" Sepertinya ini sudah larut malam, saya dan Hera pamit kak Farhan. Mohon maaf menganggu waktunya." Ucap Dzikra pada Farhan dengan canggung.
" Jangan terlalu dipikirkan." ucap Dzikra.
" Bagaimana jika kakakku benar-benar terlibat Dzik?" ujar Hera sambil menoleh pada suaminya.
" Selesaikan dengan hukum. Kamu kok panggil lagi nama sih, tadi dirumah kakak panggilnya abang. Gak konsisten!" ujar Dzikra datar.
"Iya. Biar kakaku tidak berkomentar, gara-gara aku manggil suami masih pakai namanya. Mau dipanggil apa?" tanya Hera.
" Abang!" ucap Dzikra datar sambil terus menatap jalanan.
Hera mendengar perkataan Dzikra, membuatnya mengulum senyuman. Hera pun mengecup pipi Dzikra, membuat jantung Dzikra terpompa karena kagetnya.
****
Matahari sudah berada diatas kepala, dua kursi sudah terisi oleh kakak beradik yang masih diam membisu. Sedangkan makanan dan minuman sudah terhidang dimeja. Kedua orang tersebut masih sibuk dengab pikirannya masih-masing.
__ADS_1
" Kaka menelponmu kesini untuk membicarakan masalah yang semalam." ujar Farhan.
" Kenapa kaka tidak menjelaskannya semalam?" tanya Hera.
" De, masalah ini seharusnya kamu tutup mulut." Ucap Farhan.
" Kenapa kak?" tanya Hera ia keheranan.
Farhan menghirup udara dalam-dalam kemudian membuangnya. Ia butuh banyak kekuatan untuk menjelaskan sebuah fakta besar.
" Ibu tiri Dzikra dengan mbak Siti itu bersaudara. Orang tua mereka bos mafia paling terkenal di Jawa. Dulu ayah kita bersahabat dengan ayahnya Dzikra, mereka membangun bisnis. Banyak investor asing yang menanam modal dibisnis tersebut. Ayah ditunjuk sebagai Direktur perusahaan, sehingga perusahan maju sangat cepat. Tapi ayah Dzikra, diam-diam membuka cabang bisnis baru. Ayah Dzikra bersekongkol dengan bos mafia untuk menjatuhkan perusahaan ayah, akhirnya para investor banyak yang menarik modalnya dan ayah jatuh bangkrut, bahkan harus membayar hutang. Sedangkan ayah Dzikra, saat itu dia menjadi pembisnis yang maju, para investor berdatangan. Kemudian Bos mafia meminta imbalan kerjasamanya dengan perkawinan politik. Mereka menikah dan dikaruniani dua anak. Tapi lelaki itu berselingkuh dengan ibunya Dzikra, sampai melahirkan Dzikra. Saat mengetahui suaminya berselingkuh. Ibunya Dzikra diseret dan dibakar hidup-hidup. Tapi sayangnya mertuamu itu tidak dapat membunuh Dzikra karena dia diamankan oleh kakeknya. Insiden kecelakaan Dzikra, kaka terlibat didalamnya, jika kaka tidak membantu kaka dipaksa bercerai dengan mbak Siti, selain itu kakak dijanjikan membangkitkan kembali usaha keluarga kita." ucap Farhan menceritakan dengan panjang lebar.
Farhan menghentikan ceritanya, sedangkan Hera masih terbengong saat mengetahui fakta tersebut, otaknya merasa pusing, pikirannya seolah menolak fakta yang sebenarnya terjadi.
" Apa itu benar kak?" tanya Hera menyakinkan.
" Kaka menyaksikannya sendiri, semua terjadi saat kamu masih kecil de, jadi kamu sekarang mengertikan?" tanya Farhan.
Hera hanya tertunduk lemas, mengetahui hal sebesar ini, bahkan selama ini dia merasa semuanya baik-baik saja.
" De, jangan terlibat dan jangan melalukan apapun. Biarkan semuanya berlalu dan anggap saja kamu tidak mengetahui apapun," kata Farhan.
"Bagaimana aku bisa diam saja kak?" tanya Hera.
" Jika kamu ikut campur, semua akan semakin runyam, tidak hanya keluarga kaka yang hancur, rumah tangga kamu, Dzikra terancam dibunuh, jangan berupaya memenjarakannya dia tidak akan bisa dipenjara, yang ada kamu yang akan dipenjara." ucap Farhan.
Hera mendengar saran dari kakaknya tertunduk lesu, mencari jalan terbaik menghadapi permasalahan. Seketika Hera menyesal memberitahukan Dzikra mengenai keterlibatan kakaknya dalam insiden tersebut.
****
Matahari tidak lagi menampakan wajahnya, kini hanya bintang-bintang yang menghiasi langit. Hera berjalan memasuki rumahnya. Ia berpapasan dengan ibu mertua yang berjalan ke dapur, senyuman mengembang diwajahnya. Ia juga melihat Dzikra sedang menantinya dilantai dua, matanya berbinar-binar melihat melihat kedatangannya. Semua itu menjadikan hatinya merasa tidak sanggup menghancurkan keluarga yang sudah damai.
BERSAMBUNG....
Jangan lupa kawan pembaca setia, tinggalkan jejaknya dengan cara like atau vote atau comment. Thank youu❤
__ADS_1