Takdir Bersamamu

Takdir Bersamamu
Malam +++


__ADS_3

Hera memasuki kamar, Dzikra terlihat sedang sibuk dengan pekerjaannya di ruang sebelah, Hera masih sering merasa malu bertemu Dzikra setelah kejadian malam kemarin. Tapi melihat Dzikra sama sekali tidak terlihat sudah terjadi hal yang besar bagi Hera, membuat Hera merasa kesal. Hera melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


Pintu kamar mandi dibuka, Hera sudah mengenakan piyamanya. Melangkahkan kakinya menuju kasur dan kaget melihat Dzikra sudah berbaring di atas kasur. Hera perlahan-lahan menaiki ranjang kasur namun seketika tangan besar menariknya, Hera jatuh kedalam pelukan Dzikra.


"Malam sekali pulangnya!" ujar Dzikra sambil mengelus rambut Hera.


Wangi parfum daun mint menyeruak menusuk hidung Hera, bau itu membuat pikiran Hera terasa jernih, ia mengeratkan tangannya melingkari badan Dzikra. Degup Jantung Dzikra terdengar tenang ditelinga Hera.


"Ada banyak sekali yang konsul hari ini," ujar Hera.


"Kalau terlalu melelahkan bekerja, resign aja." ujar Dzikra.


"Di rumah saja justru merasa membuatku lelah, jika nanti aku sudah punya anak aku akan freelance."Ujar Hera sambil mengangkat wajahnya menatap Dzikra.


"Iya terserah kamu, tapi kalau sudah punya bayi, aku ingin kamu fokus mengurus nya." Ujar Dzikra menatap tajam pada Hera.


"Iya bang," ujar Hera tersenyum sambil mencubit hidung Dzikra.


"Kamu nakal!" ucap Dzikra menyerigai pada Hera, yang dibalas dengan senyuman.


Dzikra memindahkan kepala Hera ke atas bantal, badannya menyamping disisi badan Hera. Mata mereka saling bertemu, Dzikra membenarkan anak rambut di kening Hera, lalu mendaratkan kecupan disana, Hera matanya terpejam mendapatkan hal tersebut. Dzikra kemudian membelai pipi Hera. Merah merona mewarnai pipi Hera. Dzikra melihatnya merasa lucu sekali.


"Apa selalu seperti ini?" tanya Dzikra.


"Apa bang?" tanya Hera bingung.


Dzikra tidak menjawab pertanyaan hanya mencium kedua pipi Hera. Mendadak jantung Hera berdetak cepat. Lalu Dzikra menatap lembut dan dalam bola mata isterinya itu.


"Tuhan mentakdirkan kita bersama," ujar Dzikra.


"Iya, seperti sebuah mimpi," ujar Hera tersenyum.


"Kau tahu ada yang manis tapi bukan gula, apa kamu tahu apa itu?" ujar Dzikra sambil tersenyum.


" Apa itu teka-teki? Hmm.. Menurutku banyak yang manis, jeruk juga manis, coklat? tanya Hera pada Dzikra.

__ADS_1


"Bukan itu!" jawab Dzikra tersenyum geli.


" lalu apa?" Jawab Hera sambil mengerutkan bibirnya.


Dzikra tersenyum malu, tidak berapa lama bibir lembut itu menyapu bibir Hera. Lagi-lagi jantung itu melonjak. Hera memejamkan matanya, tangannya mengait di leher Dzikra. Namun tidak lama Dzikra melepaskan kecupanya. Hera kembali membuka matanya.


"Sudah terbawa suasana ya?" tanya Dzikra mengoda Hera yang pipinya sudah seperti kepiting rebus.


Hera tidak menanggapi perkataan Dzikra, ia segera melepaskan tangannya di leher Dzikra, ia menolehkan wajahnya ke samping karena malu. Wajah Dzikra juga terlalu dekat padanya, hal itu saja cukup membuat Hera melayang-layang pikirannya. Dzikra semaking usil ingin mengodanya.


"Apa yang coba kau tutupi?" tanya Dzikra sambil mengarahkan wajahnya mendekati wajah Hera.


Hera kaget bukan main, wajahnya sudah benar-benar memerah, ia segera mengalihkan wajahnya ke arah lain. Dzikra langsung terkekeh melihat tingkah Hera.


"Jangan mengerjaiku!" ujar Hera mulai kesal dibuat malu oleh Dzikra.


Dzikra langsung membelai pipi Hera dengan punggung tangannya, satu tangannya menyangga di samping kepala Hera. Seketika Hera membalikan wajahnya menatap Dzikra. Senyuman Dzikra membuatnya mengerjapkan mata berkali-kali, Dzikra menatap bibir Hera, dan wajahnya semakin mendekat, Hera segera menutup matanya perlahan, namun sayangnya tidak ada sapuan lembut menghampir bibirnya, Hera kesal membuka matanya. Tepat Dzikra di depan wajahnya tersenyum.


"Kenapa selalu menutup mata? Apa aku seperti hantu?" tanya Dzikra dengan melipat bibirnya.


"hmm..Entahlah insting," ujar Hera mulai cemberut.


"Enggak! Udah aku mau tidur!" ujar Hera sambil mendorong tubuh Dzikra.


Namun, Dzikra tidak bergeming masih dalam posisinya, menatap wajah Hera, yang sudah campur aduk. Ada kebahagian melihat Hera seperti itu.


"Mau ngapain?" tanya Hera sudah bete, tapi Dzikra masih diam saja.


"Ya sudah, kamu mau seperti itu aja? aku mau tidur." Lanjut Hera sambil menutup matanya.


" Memangnya kamu bisa tidur, kalau aku seperti ini?" ujar Dzikra sambil mengembangkan senyuman.


"Kamu membuatku bingung!" ujar Hera membuka kelopak matanya sambil menyipitkan matanya.


" Aku tidak melupakan yang kemarin terjadi!" ujar Dzikra menatap lekat wajah Hera.

__ADS_1


" Oooh," jawab Hera pelan sambil senyuman kecil tergambar diwajahnya, wajahnya sudah memanas mengingatnya.


Dzikra mengecup kening Hera, kali ini Hera tidak ingin menutup matanya, ia hanya menurunkan kelopak matanya. Dzikra turun mengecup hidung. Hera sudah mulai gelagapan, detak jantungnya sudah tidak karuan. Tangannya meremas seprei, matanya berkeliaran menahan kegugupan, berkali-kali ia menelan ludahnya. Dzikra sudah melepaskan tali piyama yang mengikatnya, Dzikra memiringkan wajahnya memberikan kecupan di bibir. Kedua tangan mereka saling bertautan disamping kepala Hera. Lalu semua pakaian sudah terlepas dari kedua insan, berserakan dilantai.


Menjelang subuh, semuanya sudah usai. Dzikra nampak terlelap kelelahan. Hera menyender dibahu polos Dzikra, menatap pemuda yang sangat di cintainya itu. Ia membelai wajah itu, kemudian tangannya menepuk pelan dada suaminya.


"Makasih ya," suara itu keluar dari mulut Dzikra yang setengah sadar.


"Iya, tidur lagi bang," ujar Hera sambil menengelamkan kepalanya didada bidang suaminya.


Hera mencoba tertidur sebentar sebelum menjelang subuh, dia pasang alarm setengah lima. Namun Hera rupanya ketiduran suara alarm tidak terdengar. Ia terperajat Dzikra sudah tidak ada disampingnya. Setengah tidak sadar Hera mengambil piyama yang berserakan dilantai dan memakainya.


Tanpa mengetuk pintu, Hera menerobos masuk ke kamar mandi karena panik. Dzikra yang berada dibawah Shower sama terkejutnya dengan Hera, ia hendak keluar dari sana tapi tangannya ditarik ke dalam oleh Dzikra.


Keduanya keluar dari kamar mandi, Hera wajahnya ditekuk, dia yang buru-buru malah jadi beneran kesiangan karena ulah Dzikra di kamar mandi. Dzikra terkekeh melihat Hera yang cemberut.


"Udah jangan cemberut! itu biar kita cepet punya bayi!" ujar Dzikra sambil mencubit pipi isterinya


****


Hera terburu -buru berjalan ke dapur rumah,


ibu mertuanya sudah mulai memasak, Hera bergegas membantunya menyiapkan menu sarapan pagi, baru Rahel masuk ke dapur dengan lesu.


"aku semakin sulit bangun pagi setelah hamil ini," ujar Rahel.


"Uek Uek Uek" Rahel langsung muntah di wastafel.


"Istirahat saja!" ujar Bu Mertua dingin.


"Tidak, aku akan membantu sedikit." ujar Rahel sambil mengambil beberapa sayuran dan mencucinya.


"Kamu juga Ra, akhir-akhir ini sering bangun siang, kamu juga jalan aneh, kamu lagi sakit ************ atau lagi hamil juga?" tanya bu Mertua dengan tajam.


"ooh enggak bu, banyak kerjaan akhir-akhir ini jadi bergadang terus!" ujar Hera gelagapan, Rahel mendengarnya tersenyum sinis.

__ADS_1


Rahel tahu yang terjadi selama dua malam itu, telinganya terasa sakit setiap melewati pintu kamar Hera dan Dzikra. Rahel yang sedang hamil sering bangun malam sehingga suara-suara itu terdengar, jauh dilubuk hatinya dia merasa perih melihat Dzikra sedang melakukannya dengan Hera.


BERSAMBUNG....


__ADS_2