
Bahtera rumah tangga itu seperti kita berada dalam perahu yang mengarungi lautan, terkadang dihadapkan dengan ombak-ombak kecil dan ombak besar, bahkan badai. Tak selamanya hidup ini bahagia terus, terkadang ada kesedihan yang akan membuat kita sadar dan bersikap bijak menghadapi masalah dalam hidup ini.
Sebulan yang lalu kehangatan masih dapat dirasakan oleh Hera, sosok suami yang dicintainya selalu memanjakannya. Tapi, semua kehangatan seakan kian terkikis setiap hari. Dzikra mulai sering pulang larut malam dan setiap mengangkat telpon selalu menjauh dari Hera.
Drrt Drrt Drrt
Dzikra langsung meraih ponselnya dan bangkit dari ranjang berjalan menuju balkon. Sayup-sayup terdengar Dzikra berbicara lembut dengan suara wanita disebrang sana.
"Iya, aku baru bangun, kamu sendiri?" kata Dzikra
"Oh," jawab Dzikra menanggapi penelpon
"Tentu, aku memakannya," jawab dizikra sambil tersenyum
" Sangat enak, kau buat sendiri?"
" Jangan seperti itu, aku tidak bisa membandingkannya!"
Tidak berapa lama terdengar gelak tawa Dzikra dibalkon, Hera bukan tidak tahu, karena dia melihat dibalik gorden percakapan Dzikra dengan Larisya ditelpon tersebut.
Kamu mencintainya ternyata bang, batin Hera.
Hera tidak sanggup lagi mendengar percakapan Dzikra ditelpon, Hera kembali ke kamarnya membaringkan dirinya dikasur. Dzikra akan berbicara lama di telpon itu.
Pagi membuat Hera bersemangat menyiapkan sarapan untuk suaminya, Hera akan berbicara dengan Dzikra dilain waktu saat Dzikra ada waktu dengannya. Nampak Dzikra sudah berpakaian rapi, dan terburu buru berangkat.
"Bang, sarapan dulu! belum telat kok!" seru Hera mendekati suaminya.
"Tidak Ra, aku ada rapat pagi!" ujar Dzikra berjalan keluar dari pintu apartemen.
Hera bengong melihat suaminya sangat sibuk. Suaminya tidak pernah memanggil sayang lagi. Tapi ia segera mengenyahkan pikiran negatif ke suaminya Hera berniat menyiapkan makan siang untuk suaminya karena tidak sempat sarapan.
Siang itu Hera sudah membawa bekal untuk suaminya, ia memasuki gedung megah tempat suaminya bekerja, Hera mengunjungi resepsionis untuk mengantarkan ke ruangan suaminya. Sampai didepan ruangan suaminya, nampak Risma terkejut dengan kedatangan Hera.
"Bu Hera kemari kenapa tidak menghubungi saya terlebih dahulu?" tanya Risma.
"Saya tidak punya nomormu Ris," ujar Hera tersenyum.
"Oh, ibu sudah menghubungi pak Dzikra sebelumnya?" tanya Risma takut-takut.
"Belum, takut dia sedang sibuk rapat," ujar Hera.
"Oh, saat ini pak Dzikra tidak ada diruangannya bu!" ujar Risma.
"Kemana?" tanya Hera.
"Makan siang sama bu Larisya!" ujar Risma membuat raut wajah Hera berubah.
"Mereka setiap hari makan siang bersama?" tanya Hera.
__ADS_1
"Aduuh, bu Maafin saya bukan mau manas manasin ibu," ujar Risma mendadak takut.
" Jawab saya!" ujar Heru sudah dalam mode galak level 30 bon cabe.
"Iya bu!" ujar Risma masih tertunduk.
"Dia sering antar jemput Larisya?" tanya Hera mulai mengatur emosinya untuk lebih tenang.
"Iya, kalo bu Larisya nganter makan siang," ujar Risma.
"Ini makan saja oleh mu Ris! terima kasih infonya saya pulang dulu." ujar Hera.
Hera menyerahkan makan siang yang sudah disiapkan untuk Dzikra pada Risma, dan berjalan dengan tergesa-gesa meninggalkan kantor suaminya.
Berani sekali kamu Dzikra selingkuh! Awas kamu!! batin Hera sepajang jalan menuju apartemennnya.
****
Dzikra kembali ke kantornya setelah makan siang, dia melihat tempat makan yang familiar banget bertahta dimeja sekertarisnya. Dzikra pun mendekat ke meja sekertarisnya sehingga membuat Risma sontak berdiri hormat. Risma memahami atasannya yang memperhatikan tempat makan tersebut.
"Maaf pak, tadi bu Hera datang mengantarkan makanan kesini, karena bapak gak ada jadi diberikan pada saya," ujar Risma.
"Dia nanya aku kemana?" tanya Dzikra.
"Iya pak, saya bilang bapak sedang makan siang dengan bu Larisya!" jawab Risma.
"Maaf pak, saya tidak bisa berbohong," ujar Risma menunduk.
"Jika isteriku nanya nanya lagi jangan dijawab lagu!" ujar Dzikra melangkahkan kaki masuk ke dalam kantornya.
****
Hera merasa hatinya sesak, berkali -kali menghembuskan nafasnya kasar, Hera malas sekali melakukan aktivitasnya, pikirannya kacau. Jam sudah menunjukan pukul 8.00 malam, Dzikra sudah pulang, Hera berusaha menyembunyikan perasaannya ia tetap mempersiapkan pakaian tidur suaminya dan makan malamnya.
Makan malam itu hanya diisi suara dentingan sendok. Dzikra sibuk dengan ponselnya yang sesekali membaca pesan. Hera hanya memperhatikannya dengan menatap tajam sikap Dzikra.
Kamu gak sadar bang, aku didepanmu sedang bunting! kamu dibelakangku malah selingkuh!" batin Hera.
Ingin rasanya Hera berteriak didepan wajah suaminya, tapi niatnya diurungkan, Hera segera mengakhiri makan malamnya meninggalkan Dzikra yang masih di meja makan.
Hera menyederkan badannya dipangkal kasur sambil membaca buku, melihat Dzikra dengan gontai masuk kamar, Hera kekesalannya sudah dipucuk ubun-ubun.
"Jadi gimana makan SIANG dengan bu LARISYA? ENAK? sindir Hera dengan menekankan beberapa kata dalam kalimatnya.
Dzikra yang mendengarnya merasa salah tingkah dengan sikap Hera. Dzikra hanya menatap Hera sejenak lalu menganggukan pelan, sambil mengosok pundaknya.
"Oh, gimana masakannya juga? SANGAT ENAK?" Cecer Hera makin tinggi nadanya.
"Sudahlah Ra, kamu bicara apa!" ujar Dzikra membuat Hera menoleh pada suaminya.
__ADS_1
"Aku membicarakanmu bang sama Larisya!" timpal Hera kesal.
"Sudah Ra, aku cape gak mau berdebat sama kamu!" ujar Dzikra duduk dipinggir ranjang hendak merebahkan diri.
Drrt Drrt Drrt
Ponsel Dzikra berbunyi seketika Dzikra langsung bangkit dan mengambil ponselnya keluar dari kamar.
"Katanya cape tapi ngangkat telponnya aja masih semangat " teriak Hera didalam kamar.
Dzikra tidak memperdulikan teriakan Hera, ia tetap berjalan ke balkon, asyik berbicara ditelpon.
Ok fix Dzikra kamu mengabaikanku!" batin Hera.
Hera akhirnya bangkit berjalan keluar kamar dan mendapati Dzikra masih cekikikan dengan orang yang ditelponnya.
"Iya, honey!" ujar Dzikra masih menelpon.
Perkataan Dzikra cukup membuat Hera membulatkan matanya, segera Hera ambil piring dan membuka pintu balkon tepat dibelakang Dzikra piring dipecahkan. Dzikra sontak kaget mendengar pecahan piring, dan Hera sudah bertolak pinggang disana dengan tatapan singa lapar, Dzikra masih bengong.
"hallo...Dzikra sayang" ujar ditelpon tersebut.
Hera sekuat tenaga melangkah dan menginjak pecaha piring, darah sudah mengalir disana, tapi rasa sakit hatinya lebih besar dari rasa sakit dikakinya. Hera mengambil alih ponsel Dzikra.
"Hai nona Larisya! anda jaga sopan santun! jangan menganggu suami orang lain!" bentak Hera.
"Hahahah, tapi suamimu senang aku ganggu, mau bagaimana lagi, suamimu menyukaiku!" tegas suara wanita disebrang sana.
"Murahan!" ujar Hera sambil mematikan telpon sebelum dijawab oleh lawan bicaranya.
" makan tuh honeyhoney itu!" tegas Hera menatap. tajam Dzikra.
Ponsel Dzikra langsung diambil alih, dan nomor Larisya di blokir dan dihapus dari kontak ponsel Dzikra. Baru Hera menyerahkan ponsel itu ke Dzikra.
"Coba menerima telponnya lagi atau menghubungi dan bertemu dengannya lagi, jangan harap kita bisa mempertahankan pernikahan ini lagi Dzikra!" Tegas Hera menatap tajam.
"Ra, maaf!" ucap Dzikra.
"Iya kau harus meminta maaf, bahkan taubatan nasuha kau ini!" cerocos Hera kesal sambil meninggalkan Dzikra yang mematung.
Iya ini salah Dzikra, kenapa kamu melakukannya, batin Dzikra.
Hera emosinya masih memburu, dia mengatur nafasnya setelah dikamar dan barulah dia mulai menitikan air matanya.
"Hera gak boleh cengeng, kasian anakmu! nak ibu gak apa-apa jangan sedih ya!" ujar Hera berbicara sendiri sambil mengelus perut buncitnya.
Hera tidak peduli dengan kakinya yang perih, dia langsung merebahkan dirinya dan membiarkan luka dikakinya. Maklum semakin besar kandungannya semakin sulit untuk meraih kakinya.
BERSAMBUNG....
__ADS_1