Takdir Bersamamu

Takdir Bersamamu
Merebut hatinya kembali


__ADS_3

Seorang lelaki jika dihadapkan pada tiga hal yaitu harta, tahta, dan wanita cantik pasti akan goyah. Apalagi jika hal tersebut dihadapkan berbarengan seperti yang terjadi pada Dzikra tentu akan mengiurkan dan meruntuhkan imannya.


Lelaki butuh untuk disadarkan ketika dia menempuh jalan yang salah, karena lelaki pada nyatanya seperti bayi besar, hanya fisiknya saja yang besar tapi pikirannya terkadang tidak dewasa.


****


"Apa maksud anda Pak Dzikra?" tanya Riechoten tidak terima.


"Saya menolak menikah dengan Larisya! saya tidak bisa menduakan isteri saya!" tegas Dzikra mentap tajam Riechoten ayah Larisya.


"Lalu apa maksud anda selama dua bulan ini bersama anak saya!"Riechoten semakin mengeraskan rahangnya.


"Itu permintaan puteri Anda agar saya membersamainya selama dua bulan!" jawab Dzikra tanpa mengalihkan tatapannya pada Riechoten yang sedang gusar.


"Jadi selama ini anda membohongi saya! anda berlaku seperti kekasih anak saya!" tegas Riechoten matanyaa sudah membulat penuh.


"Maaf tuan, saya tidak pernah menjadi kekasihnya! semua yang saya lakukan atas permintaannya," ucap Dzikra dingin masih mengengam tangan Hera.


"Larisya kamu juga bilang pak Dzikra seorang duda! Aku tunggu penjelasanmu!" ujar Richoten bangkit dari kursinya keluar dari restoran dengan emosi masih mengebu-ngebu.


Kini suasana menjadi hening, seorang pelayan datang membawa makanan dan minuman yang dipesan. Meja sudah dipenuhi oleh makanan dari aneka seafood terdapat octopus, udang, cumi, kerang pedas sambel ijo, ikan salmon, kepiting dengan saus merah disetiap makanan seafood tersebut. Hera merasa senang melihat sajian makanan tersebut namun malu untuk menyantapnya karena belum ada yang memulai menyentuh makanan tersebut.


"Kamu yakin dengan keputusanmu?" tanya kakek dengan dingin.


"Iya kek," jawab Dzikra.


"Mulai sekarang kamu bukan seorang direktur utama, dan kamu juga tidak akan mendapat sepeser pun warisa dariku!" ujar Kakek dingin.


"Iya kek, tidak apa-apa!" ujar Dzikra.


"Bagus Dzikra! kamu memilih menghancurkan masa depanmu demi seorang wanita dan cinta!" ujar kakek sambil bangkit keluar dari restoran.


Dua orang sudah meninggalkan meja, keadaan menjadi sunyi kembali, kini giliran Larisya yang sudah berkaca-kaca menatap Dzikra. Oke, menanggis adalah senjata wanita menaklukan lelaki.


"Tidak adakah rasa sedikit pun untuk saya?" tanya Larisya sambil bergetar.


"Ada, rasa marah!" ujar Dzikra dingin menatap Larisya.

__ADS_1


"Kamu jahat Dzikra, kamu jahat!" Larisya menanggis hingga menjadi pusat perhatian pengunjung lain.


"Aku tidak pernah tertarik padamu dari awal, kamu yang meminta aku melakukan segala hal sesuai keinginan mu! Harusnya kamu mundur dari awal, kamu menyakiti dirimu sendiri!" ujar Dzikra tidak luluh dengan tangisan Larisya.


Larisya bangkit meraih segelas jus jeruk dan di guyurkan ke wajah Dzikra yang menatapnya dingin. Larisya kemudian berjalan keluar restoran sambil menanggis terisak. Hera yang melihat kejadian tersebut hanya terdiam dan mengambil tisu kemudian mengelap wajah suaminya.


"Wah, wajahmu jadi manis sepertinya," ujar Hera membuat wajah Dzikra menolehnya lalu tersenyum dengan guyonan Hera.


"Mau nyoba nyicipin?" goda Dzikra raut wajahnya sudah berubah hangat kembali membuat wajah Hera hampir merah.


Kruyuuuk Kruyuuuuk kruyuk


Suara perut Hera terdengar jelas, Hera merasakan malu, namun berbeda dengan Dzikra yang malah tergelak tertawa, lalu mengecup bibir isterinya.


"Kau sama saja seperti dulu, ayo kita makan!" ujar Dzikra.


"Baju kamu basah," ujar Hera pelan.


"Lalu? aku harus bukan baju disini sekarang?" tanya Dzikra menyipitkan matanya.


"Tidak perlu, kita makan saja!" ujar Hera langsung meraih makan yang sudah meronta-ronta untuk dilahap.


"Habis ini mau jalan?" tanya Dzikra disela makannya.


" Kamu tidak membereskan barang kantor!" jawab Hera sibuk dengan makanannya.


"Aku suruh Risma merapihkannya dan mengirimkannya ke apartemen. Hari ini ada festival mau kesana?" Dzikra mengajak ulang Hera yang dibalas angggukan oleh Hera.


****


Dzikra menemani Hera berjalan dikerumunan orang, Hera nampak begitu bersemangat mencoba setiap makanan daerah, saat menemui tempat mencoba pakaian adat Hera menarik Dzikra mencobanya. Ini mungkin satu-satunya foto sedang hamil Hera untuk anak pertamanya. Hera kegirangan saat fotonya sudah dicetak senyuman mengembang dari Dzikra.


"Masih mau jalan-jalan lagi?" tanya Dzikra.


"Enggak, kakiku pegel!" ujar Hera.


" Mana aku pijit," jawab Dzikra membopong Hera duduk dikursi dan memijit kakinya.

__ADS_1


Saat sedang menikmati pijitan, terbesit pikiran jahil Hera membalas sikap Dzikra, ia pun tersenyum.


"Aku pengen kamu mengelus kepala botak itu!" ujar Hera.


"Hah!"Dzikra mendongkak dan melihat ke arah yang ditunjuk Hera.


"Iya ngelusnya diem-diem jangan bilang ke orangnya, aku lagi ngidam kayaknya!" ujar Hera sambil mengelus perutnya.


"Kamu yakin sayang?" tanya Dzikra mengeryitkaan dahinya yang dibalas anggukan oleh Hera.


Dzikra pun pasrah bangkit berjalan ke arah orang botak yang bertato itu, saat akan mengelusnya dari belakang orang itu terus menolehnya sehingga Dzikra mengurungkan niatnya, Dzikra berpindah posisi mencoba berada dibelakang orang tersebut, tapi sayangnya orang tersebut juga terus menatap Dzikra akhirnya mereka saling mengejar, tampak seperti orang yang mengintari sesuatu, hingga dikesempatan Dzikra mengusap kepala itu dengan cepat, si botak naik pitam. Dzikra langsung lari ke arah Hera yang sudah tertawa terbahak-bahak.


"Udah sayang ayo kita pulang!" ujar Dzikra meraih tangan Hera.


"Aku gak bisa jalan, masih pegel!" ujar Hera memelas.


Dzikra pun dengan gesit memangku tubuh Hera dengan cepat menuju mobil yang terparkir. Hera segera dimasukan ke dalam mobil. Terpacu dengan cepat mobil menuju apartemen. Hera didalam hatinya tertawa dengan senang mengerjai suaminya.


*****


Hera sudah berada diperaduan dengan gelisah tidak bisa tidur, punggungnya terasa terbakar, sakit jika tidur terlentang sedangkan Dzikra diluar sedang berbicara serius dengan seseorang. Saat Dzikra masuk kamar melihat Hera meringgis gelisah diatas kasur langsung menghamburnya.


"Kenapa yang? kita ke dokter?" tanya Dzikra yang dijawab gelengan kepala oleh Hera.


" Lalu apa yang harus aku lakukan?" lanjut Dzikra.


"Punggungnya panas!" ringgis Hera sambil terduduk dikasur.


Dzikra dengan sigap langsung naik ke kasur, dan mengelus punggung Hera dengan lembut.


"Bacain surat !" ujar Hera.


"Kamu kerasukan?" tanya Dzikra terkejut.


"Enggaklah Dzik!" pertanyaan Dzikra membuat Hera emosi.


Dzikra tidak mau membuat Hera semakin emosi, langsung mengelus punggung Hera sambil berbaring keduanya. Dzikra mengelus punggung isterinya sambil membaca surat Ar-Rahman. Hera akhirnya terlelap mendengar alunan surat ar Rahman dari suara suaminya. Dzikra melihat isterinya sudah terlelap, langsung menarik selimut dan mengecup pipi isterinya.

__ADS_1


"Selamat tidur, sayang!"ujarr Dzikra yang memeluk isterinya dari belakang.


BERSAMBUNG...


__ADS_2