Takdir Bersamamu

Takdir Bersamamu
Near Death Experience


__ADS_3

Waktu terus bergulir, Hera sudah menerima surat pemecatan dari pekerjaannya. Keterpurukan dan keterputusasaan hampir menguasai dirinya, ingin rasanya Hera mengakhiri jalan hidupnya. Fitnah yang besar itu sangat memberatkan punggungnya dan menyesakkan hatinya. Pintu jeruji dibuka oleh seeorang polisi.


"Ada kunjungan untuk anda!" ujar polisi tersebut sambil mengiringnya ke satu ruangan.


Seorang wanita berpakaian mewah, rambutnya dipotong bop, bibirnya merah cabe. Melihat Hera sudah berada diruangan yang sama, perempuan itu tersenyum langsung memeluknya, Hera membalas pelukannya dan menanggis disana.


"Bu, aku tidak melakukannya, ini fitnah." ujar Hera pada ibu mertuannya.


Wanita itu hanya terus menenangkan Hera, dengan menepuk-nepuk punggungnya. Kemudian dia mengiringnya ke kursi untuk duduk. Meja dipenuhi makanan.


" Makanlah, kau sangat kurus beberapa hari disini!" ujar ibu mertuanya.


Hera tersenyum dan melahap makanan yang dibawakan oleh ibu mertuanya. Seulas senyumansenang terukir di wajah ibu mertuanya melihat Hera menikmati hidangannya.


" Habiskan jangan kau sisakan, aku sengaja membuatnya sendiri untukmu!" ujar ibu mertua sambil tersenyum.


" Terima kasih bu, aku pikir ibu tidak peduli padaku, maafkan aku!" ujar Hera sambil memakan sup dan meneteskan air matanya.


" Aku juga butuh kekuatan melihatmu disini." ujar Ibu mertua.


Piring makanan yang sudah bersih langsung dikemas oleh ibu mertua. Senyuman terukir sepanjang bersama Hera. Jam besuk sudah selesai, ibu mertua berpamitan. Hera melangkahkan kakinya memasuki sel nya, tapi tiba-tiba perutnya kram, rasa sakit menjalar di seluruh tubuhnya, Hera meraih tangan polisi yang sedang mengunci sel nya. Tangannya sudah berkeringat, pandangannya kabur Hera terkulai lemas, mulutnya mengeluarkan busa. Polisi yang bertugas bergegas membawanya keluar dari sel. Hera dimasukkan ke mobil ambulan.


*****


" Dziiik, isteri lo dibawa ke rumah sakit!" ujar Zidan setengah berteriak di telponnya.


" Apa! dibawa ke rumah sakit mana?" jawab Dzikra.


" Gue juga mau kesana, gue jemput lo sekalian!" ujar Zidan sambil menutup ponselnya.


"Sial! Sial! Sial!" ujar Dzikra memukul mejanya.


****


Hera sudah mengunakan selang Infus, detak jantungnya melemah. Beberapa kali dokter menekankan defibrilator ke dadanya, untuk memacu jantungnya memompa normal. Dokter terlihat bercucuran keringat berkali-kali menekan defibrilator.


"Bagaimana dok?" tanya seorang suster.


"Kita coba sekali lagi," ujar dokter.


Suster menekan pengaturan, dokter pun menekankannya berkali-kali, Dzikra yang sudah frustasi melihat Hera didalam sana, langsung menerobos beberapa orang yang berjaga, para penjaga segera menariknya keluar. Tapi Zidan memberikan isyarat agar para penjaga membiarkan Dzikra menghampiri Hera.

__ADS_1


"Ra, bangun Ra, kamu harus bangun! Bangun Ra." Ujar Dzikra sambil memegang tangan yang sudah dingin.


Suara itu sampai ke dalam alam bawah sadar Hera, aku gak bisa Dzik, aku gak sanggup, maaf! ujar Hera dalam kebisuannya. Perlahan suara Dzikra begitu terdengar jauh sekali.


Tiiiiiiiiiiiiiiiiiit! suara layar monitor defibrilator berbunyi, semua yang hadir melihat layar yang memunculkan garis horizontal. Semua wajah tampak lesu, tertunduk. Dzikra tidak bisa menahan air matanya lagi.


"TIDAAAAAK! Dokter coba sekali lagi!" ujar Dzikra memohon pada seorang Dokter.


Dokter hanya mengelengkan kepala, semua yang hadir hanya mematung, kain putih ditutupkan ke wajah yang sudah mulai memucat, semua peralatan dimatikan. Dzikra masih sibuk menangisi kepergian Hera, Zidan mengepal keras tangannya, ia juga ikut menangis. Dokter sibuk berbincang dengan polisi.


"16.05 kematian saudari Hera akibat keracunan makanan," ujar Dokter pada seorang polisi.


"Racun apa yang digunakan?" tanya polisi.


"Melihat tanda-tandanya ini racun sianida, untuk lebih lanjut harus dilakukan autopsi." ujar Dokter tersebut.


"Kami akan meminta persetujuan keluarganya!" ujar Polisi.


"Ada satu hal lagi, wanita ini sedang hamil!" ujar Dokter.


"Apa? hamil?" tanya polisi sambil mengerutkan dahinya.


" Iya, " ujar dokter.


****


Polisi keluar dari ruangan, disambut oleh Zidan yang sudah menunggu. Zidan dengan sigap mengajak polisi itu sedikit menjauh dari ruangan tersebut.


"bagaimana?" tanya Zidan.


"Selidiki cepat, semuanya harus cepat sebelum mereka bergerak cepat!" ujar polisi.


"Baiklah!" ujar Zidan.


"Harus dilakukan autopsi secepatnya!" ujar polisi yang dibalas anggukan oleh Zidan.


*****


Jasad Hera langsung dibawa ke ruang jenazah oleh para petugas rumah sakit, Dzikra terus membuntutinya, air matanya tidak berhenti mengalir membasahi pipinya. Dzikra terhenti saat para petugas masuk ke kamar jenazah. Dzikra hanya terduduk lesu, Zidan menepuk pundak sahabatnya itu.


"Ikhlaskan Dzik! bersihkan nama isteri Lo sekarang! biar rasa bersalah Lo berkurang!" ujar Zidan pada Dzikra.

__ADS_1


Dzikra tidak menghiraukan Zidan, ia berjalan lemah keluar dari rumah sakit dan mengambil mobilnya, ia menyetir mobil dengan kencang menuju rumahnya. Ia memasuki pekarangan rumah, langsung menaiki tangga masuk ke kamarnya yang dingin, tiba-tiba bayangan Hera terlihat dimatanya, saat Hera keluar kamar mandi terkejut, saat Hera tertidur di ranjangnya dan terakhir saat Hera memasangkan dasinya saat akan berangkat bekerja. Dzikra semakin tidak kuasa, sedetik pun dia tidak bisa melupakan Hera. Ia memukul dadanya yang terasa sesak.


"Ra, maafin aku!" lirih Dzikra sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.


****


Seorang wanita dibalik kain putih itu tersentak bangkit, matanya mengedar keseisi ruangan yang sepi dan dingin, tempat itu sangat asing baginya. Berderet kain putih menutupi jenazah disana. Ia tampak kebingungan perlahan berdiri menutupi badannya dengan kain kain putih. Ia melihat kakinya terdapat tanda pengenal jenazah, matanya terbelalak.


Baru saja aku melewati pintu kematian, jadi aku masih hidup sekarang. Berarti benar yang dikatakan kakak aku masih hidup, berarti tadi bukan mimpi! pikir Hera berdiri menghadap pintu jenazah.


Terdengar suara seorang petugas berjalan mendekat sambil mendorong ranjang, ia mengerutu karena harus mengantarkan jenazah.


" Gue mulu kalo disuruh nganterin Jenazah! " gerutu petugas itu.


Pintu dibukakan oleh petugas, dan ia tersentak melihat seseorang tengah berdiri di ruangan tersebut. Petugas itu berkeringat dingin, ingin lari tapi malu karena sudah biasa ia melihat yang demikian, ia memaksakan diri tidak melihat Hera dan berusaha tenang mendorong ranjang jenazah. Hera terus melihat ke arah petugas tersebut.


" Aku masih hidup!" ujar Hera.


"Banyak orang mati yang merasa dirinya masih hidup," ujar petugas tersebut.


" Tapi aku beneran masih hidup! bisa bawa aku keluar dari sini!" ujar Hera.


" Aku anak Indigo, bisa lihat yang begituan! kamu sudah meninggal!" ujar petugas tersebut.


Hera akhirnya berjalan mendekati pemuda yang bertugas itu, kemudian meraih tangan petugas tersebut. Petugas itu langsung membulatkan matanya.


" Bawakan aku pakaian!" ujar Hera.


Petugas itu langsung gelagap, ia berlari keluar kamar mayat. Hera merasa kesal, tapi tidak berapa lama suster dan dokter wanita datang ke ruangan tersebut melihat Hera. Mereka langsung memberikan pakaian, Hera segera digiring masuk ke satu kamar, dia diperiksa dan berikan cairan inpus. Para dokter bergantian memeriksa Hera, mereka memberikan vitamin pada Hera yang tubuhnya masih pucat pasi.


***


Dzikra tertidur karena kelelahan menangis, terbangun saat ponselnya berdering. Zidan menelponya tengah malam. Dengan malas Dzikra mengeser tombol hijau.


" Ada apa?" tanya Dzikra.


" Buruan ke rumah sakit sekarang!" ujar Zidan.


________________________________________________


Near Death Experience adalah istilah kedokteran yang mengambarkan jantung berhenti tetapi otak masih terus berjalan, hal ini menimbulkan kematian sementara, karena otak masih berfungsi sehingga memungkinkan orang yang mengalaminya akan hidup lagi dari kematian, atau dikenal dengan mati suri.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2