Takdir Cinta Ceo Psyco

Takdir Cinta Ceo Psyco
Pilihan Bibi Menjualku


__ADS_3

Aku tak tahu, jika aku harus menjalani hidup sesakit ini. Bibi dan paman selalu saja menjadikanku sebagai pembantu dirumahnya. Tak sedikipun kasih sayang yang mereka berikan untukku.


Setiap hari aku harus menuruti perkataannya dan tak boleh memabangkang. Aku sadar, aku bukanlah keluarga asli mereka, hanya saja aku juga manusia yang butuh kasih sayang dari orang tua sepertinya.


Saat umurku menginjak 16tahun, bibi berniat menjualku pada nyonya Zilvana. Kali pertama aku mendapatkan haid, bibi dan paman sangat senang dan langsung mengajakku menuju rumah nyonga Zilvana.


Disana banyak sekali gadis muda yang seumuran denganku bahkan dibawahku. Mereka menatapku dengan iba dan menggelengkan kepala saat aku melewatinya.


Pakaian yang mereka kenakan sangatlah minim dan membuatku bergidik ngeri. Saat kutatap nyonya Zilvana, dia langsung mencium keningku dan menyebutku adalah sebuah berlian.


"Kau mau menjual dia padaku? bagus kalau begitu. Akan aku bayar mahal gadis ini. Wajahnya yang cantik dan kulitnya yang putih bersih, akan membuat para pelangganku mengantri untuk bisa mencicipi dirinya. Kau sungguh beruntung bisa menemukan anak sepertinya"


Mata bibi dan paman berbinar melihat uang yang digengam nyonya Zilvana. Saat nyonya Zilvana mulai menarikku untuk masuk kedalam salah satu kamar, kulihat ada wanita yang kelihatannya satu tahun lebih muda dariku.


Dia menatapku dengan sendu juga menyuruhku agar kabur dari tempat ini.


"Kamu anak baru? kenalin aku Raline. Aku tahu kamu tak mau berada ditempat ini. Aku juga tak mau ada anak lain yang bernasib sama sepertiku. Maka dari itu, aku mau kamu kabur dari tempat ini sejauh mungkin dan hiduplah menjadi wanita baik baik. Aku sudah berada disini dua tahun yang lalu. Saat ayah membawaku dan menjual diriku pada Mami Zilvana mulai hari itu, tubuhku sudah sangat kotor dan akupun merasa jijik pada tubuhku"


"Aku Liyani"


Kuulurkan tangan kearahnya dan mendengarkan setiap cerita yang ia katakan. Aku yang tak tahu apapun saat itu ,hanya bisa pasrah pada takdir dan berharap ada keajaiban yang bisa membebaskanku dari tempat kotor ini.


Paman dan bibi sudah pulang setelah mereka mendapatkan sejumlah uang dari nyonya Zilvana dan meninggalkanku disini sendirian.


Pintu terbuka, menampilkan nyonya Zilvana yang membawa pakaian berwarna merah terang kehadapanku dan Raline.


"Raline, cepat kau suruh dia memakai pakaian ini dan dandani dia dengan cantik. Kau hanya perlu memoles sedikit bedak kewajahnya dan lipstik pada bibirnya. Dia sudah cantik jadi tak perlu kau memakaikan make up terlalu tebal pada dia!" ucap nyonya Zilvana pada Raline.


"Baik mami"


Nyonya Zilvana berlalu meninggalkan kami berdua disini. Mau tidak mau aku harus memakai pakaian ketat ini dan diam saat tangan Raline dengan lihai memoles wajahku.


"Aku mau diapakan sama nyonya?" tanyaku pada Raline.


Hembusan nafas terdengar dari Raline. Hingga saat make up yang di berikan pada wajahku sudah selesai dia mengenggam tanganku dengan erat.


"Entah kenapa ketika melihat dirimu, aku seakan melihat diriku yang dulu. Aku tak mau jika kau bernasib sama sepertiku, menjadi pemuas lelaki hidung belang diluaran sana. Saat ini kau akan diperkenalkan kepada para tamu dan bos besar sebagai pelayan baru disini. Jika kau tak melarikan diri sebelum masa haidmu selesai, maka kau akan menjadi kotor sepertiku"


"Tapi, bagaimana caranya aku bisa kabur dari sini?"

__ADS_1


"Kau hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk kabur. Saat semua pengawal dan Mami Zilvana lengah, kau harus cepat lari dari tempat ini sejauh mungkin dan kuharap kau baik baik saja. Namun resiko ini akan terlalu berbahya. Sebab jika sampai kau gagal kabur dari tempat ini, maka kau harus mendapat hukuman untuk melayani g*igolo yang kejam. Nyawamu akan jadi taruhannya"


Nyonya Zilvana masuk kembali kedalam kamar ini. Aku yang ketakutan hanya bisa menunduk dan tak mau menatap matanya.


"Kau sangat cantik. Ku harap kau akan menjadi ladang emasku. Dan sekarang namamu adalah Lily bukan Liyani"


Aku berjalan mengikuti Nyonya Zilvana menuju atas panggung kecil dirumah ini. Bau alkohol dan banyak pria yang kuperkirakan bos bos besar kini menatap lapar kearahku.


Diambilnya sebuah mic dan mulai berbicara dihadapan para lelaki yang sudah berumur memperkenalkanku.


"Hai semuanya. Mami punya anak baru disini, perkenalkan dia adalah Lily dan dia masih berumur 16tahun. Siapapun yang akan menghabiskan waktu bersamanya, apalagi sampai ingin melakukan hal yang kalian sukai, kalian harus menaruh tarif saat ini. Jadi tarif dimulai dari harga 15juta. Ayo siapa yang mau ?" teriak nyonya Zilvana.


Aku yang mentap nanar pada wanita paruh baya didepanku hanya bisa menangis tersedu sedu. Aku dijadikan sebuah barang lelang bagi para pria hidung belang yang mampu menaruh tarif paling banyak.


"17juta!" teriak seorang pria berkepala plontos.


"18juta!"


"21juta!"


Kericuhan mulai terjadi saat orang bertubuh gempal kini menaruh harga paling tinggi untuk bisa mengahbiskan waktunya bersamaku.


Hingga seorang pemuda datang menembus barisan paling depan dan melihat kearahku.


Pria yang dapat kuperkirakan berumur 24tahunan naik keatas panggung dan menaruh kartu nama di tangan nyonya Zilvana.


"Aku bayar dia 30 juta untuk satu hari. Selain itu, aku juga ingin membelinya. Kau taruh harga berapa?"


Mataku basah karna bulir beningbterus saja meluncur deras dipipiku. Tak bisa kubayangkan jika harus memberikan kehormatanku pada pria yang jelas jelas bukan suamiku.


"Kau yakin ingin membelinya?" ucap nyonya Zilvana.


"Kau kira aku bercanda hah?! Aku akan membelinya berapapun harga yang kau taruh padanya. Sebutkan saja aku akan membayarnya"


Nyonya Zilvana seolah mendapatkan hadiah tak terduga mendengar perkataan pria didepanku.


"Baik kalau begitu. Aku akan menaruh harga 350juta untuknya. Apakah kau sanggup membayarnya?"


Tanpa menunggu lama, pria didepanku mengekuarkan kertas cek didalam saku jas yang dia pakai. Lalu menulis jumlah uang pada cek tersebut.

__ADS_1


"Ambilah cek ini dan kau bisa cairkan dibank manapun. Aku menaruh angka 500juta untuknya. Dan kau tak lagi memiliki hak atas wanita ini. Dia sekarang milikku. Paham!"


Tubuh nyonya kini lemas memegang cek bernilai ratusan juta ditangannya. Saat bibi menjualku dia hanya memberikan uang 5juta, sedangkan sekarang dia mendapatkan berkali kali lipat dari uang yang dia keluarkan.


"Baik kalau begitu. Aku sepakat, dia sekarang milikmu!"


Teriakan kecewa dari para tamu dihadapan kami membuatku takut. Pria yang telah membeliku kini mencengkram tanganku, lalu menyeret tubuhku menuju salah satu kamar.


Aku ketakutan, tubuhku bergetar dan air mataku terus saja mengalir. Tubuhku dihempas begitu saja olehnya diatas ranjang kemudian dia melepaskan jas yang dia pakai.


"Tuan kasihanilah saya. Sa...saya sedang datang bulan, kumohon jangan apa apakan saya"


Tatapan matanya begitu nyalang kearahku. Aku semakin takut kala melihat kemarahan yang terpancar dimatanya. Pria berparas tampan dan bertubuh kekar kini berjalan menghampiri tubuhku yang terlentang.


"Mengapa kau tak kabur dari keluarga seta*n seperti mereka!" teriaknya padaku.


Aku menatap heran akan semua pertanyaan yang dia katakan.


"Mak...maksud anda apa tuan?"


"Kau lupa padaku hah?! kau lupa? Aku Damar Liy, aku Damar!"


Kuingat ingat nama Damar yang tak asing ditelingaku. Hingga saat aku benar benar mengingatnya aku terhenyak tak menyangka bahwa dia masih mengingatku, padahal kami hanya bertemu satu kali saja saat kakek menolongku dulu.


"Kau masih mengingatku? dan mengapa kau tahu aku Liyani, anak yang kakekmu tolong dulu?"


"Aku tahu kamu Liy. Aku tadi tak sengaja melihatmu saat sedang diseret oleh paman dan bibimu menuju rumah ini. Dan aku masih mengingatmu karna sebenarnya aku sering pergi kerumahmu diam diam, dan memandangmu dari kejauhan. Kau pasti tak akan percaya jika aku selama bertahun tahun ini selalu memandangku dari jauh. Dulu aku oernah satu kali pergi menuju rumah bibimu diantar kakek. Namun saat kami sampai kau tak ada dirumah, saat itu hanya ada paman dan bibimu yang langsung mengusirku dan kakek untuk segera pergi dari rumahnya"


Aku memandang wajah pria dihadapanku. Dia terlihat begitu garang namun kenyataannya berhati baik.


"Lalu bagaimana kau bisa memiliki uang sebanyak itu untuk membeliku dari nyonya? dan apakah kakek tahu bahwa kau pergi ke tempat seperti ini?"


Damar memandang sendu, terkihat kesedihan yang tengah ia rasakan.


"Kekek meninggal satu tahun yang lalu Liy. Dan kenpa aku bisa memiliki uang banyak adalah karena sekarang aku sudah bertemu orang tua kandungku yang ternyata adalah pengusaha terkaya nomor 2 di Asia. Ternyata selama ini Kakek adalah orang baik yang menolongku waktu kecil. Aku adalah anak yang hilang diculik dan ditemukan oleh kakek dalam keadaan pingsan didekat sungai"


"Inalillahi. Aku tak tahu bahwa kakek sudah meninggal. Maafkan aku. Dan terimaksih banyak"


Damar kini mendekat kerahku. Aku yang tengah tetbaring diatas ranjang kini mencoba bangun saat tubuh Damar mulai perlahan menjadi lebih dekat pada tubuhku.

__ADS_1


"Mau apa kamu?" ucapku gugup.


Tangannya yang kekar kini menempel diwajahku, diusapnya bi*birku dan mulai menengadahkannya kearah wajahnya. Nafas dan jantungku terasa lebih cepat dari biasanya. Kupaksakan untuk menerima konsekuensi yang dia lakukan untukku. Hingga akhirnya aku pun memejamkan mata.


__ADS_2