
Kututup mata dengan hati yang begitu berdebar. Deru nafas dari Damar membuatku semakin merasakan panas. Tak pernah kubayangkan bahwa Damar akan memingatku dan menyelamatkanku dari nyonya Zilvana.
Tak ada sentuhan apapun di wajahku apalagi di bibirku. Kuberanikan membuka mata, terlihat damar sedang menatapku sambil tertawa.
"Kaget ya Liy?" tanyanya.
Pipiku pasti sudah merah seperti udang rebus. Malu saat ini kurasakan karena telah menunggu Damar untuk menyentuhku. Dasar wanita bodoh. Kupukul keras kepalaku.
Damar kian mendekat kearah tubuhku yang terduduk diatas kasur kingsize.
"Liy, aku memang sudah membelimu. Tapi bagiku kau adalah manusia dan bukan barang. Aku takan pernah mau menyentuh wanita yang tidak dengan suka rela memberikan apa yang dia punya padaku. Aku tahu aku salah karena selalu mengambil apa yang dulu pacarku punya. Tapi kami melakukan itu suka sama suka dan tanpa ada paksaan sedikitpun. Lain halnya dengan kau. Kau adalah wanita lugu dan polos Liy. Aku gak mau sampai harus merusakmu karena hawa nafsuku. Sekarang kau ikut aku. Kita akan pergi dari sini dan pulang kerumahmu"
Tanganlu ditarik paksa oleh Damar. Aku berjalan beriringan dengannya. Hingga saat aku melewati salah satu kamar yang terbuka, kulihat Raline tengah bersama seorang pria tua bertubuh gempal.
Raline menatapku dan tersenyum penuh kepalsuan. Ku tahu bahwa dia saat ini tengah menahan luka yang dalam. Ketidak berdayaannya membuat Raline diam saja ketika nyonya Zilvana menjual tubuhnya.
"Mas bisakah kau bebaskan juga Raline? dia gadis baik mas kasihan dia" ucapku pada Mas Damar.
"Kau tanya dulu sama Raline. Maukah dia bebas dari tempat ini"
Kuhampiri Raline yang tengah bersiap menutup pintu kamar. Senyumnya yang manis membuat air mataku jatuh seketika.
__ADS_1
"Ayo kita pergi! kau akan bebas dari sini. Mas Damar akan bantu kamu keluar dari rumah nyonya Zilvana" kupegang tangan gadi cantik didepanku.
"Maaf Liyani, aku gak bisa. Ini adalah tempatku. Aku sudah kotor dan hidupku sudah berantakan. Aku tak bisa keluar dari sini dengan begitu saja. Kau pergilah dan hiduplah dengan bahagia. Kau beruntung bisa bebas dari tempat ini dengan selamat. Kau jangan lupakan aku. Aku janji jika hatiku sudah tergerak untuk melanjutkan hidupku dengan lebih baik, maka aku akan kelaur dari tempat terkutuk ini"
Pintu tertutup dengan rapat. Bulir bening terlihat dimatanya yang indah. Tangisku pecah dan langkahku goyah. Kupeluk tubuh Mas Damar yang sudah siap sedia berada di depanku.
Kutumpahkan semua kesedihan yang aku alami selama ini. Dengan lembut, Mas Damar mengelus pucuk kepalaku dan berkata bahwa semuanya akan baik baik saja.
Tangaku kini digengam erat oleh Mas Damar. Aku berjalan menuju mobil putih dan duduk dikursi paling depan.
"Liyani, aku akan antar kamu pergi dari sini dan keluar dari rumah paman serta bibimu. Aku akan menyewa kosan untuk sementara kamu tinggal"
"Aku gak bisa mas. Aku ingin pulang saja kerumah bibi. Aku minta tolong, Mas Damar temui paman serta bibiku dan bicaralah baik baik dengan mereka, buatlah perjanjian agar mereka tak menjualku kembali kepada nyonya Zilvana. Aku janji aku akan baik baik saja disana. Aku masih ingin tinggal bersama paman dan bibi karena bisa setiap saat pergi kemakan ibu dan Ayah"
Kutundukan kepala dan mulai menenangkan hatiku. Terlihat penyesalan di wajah Mas Damar karena telah membentakku.
"Maaf Liy, aku tak bermaksud membentakmu. Aku hanya tak ingin kau masuk kedalam lubang yang sama. Mereka sudah tega menjualmu dan kau masih mau tinggal bersama mereka. Liy sadar, mereka buka ayah dan ibumu. Mereka itu jahat. Tapi jika kau memang ingin tinggal bersama mereka aku bisa apa. Sekarang aku akan mengantarmu pulang jika ada apa apa kau larilah kerumahku yang dulu. Aku berada disana selama satu minggu kedepan. Dan aku akan sering datang kerumahmu nanti"
Kutatap wajah pria disampingku. Terlihat beberapa helai kumis yang berada di bawah hidungnya. Lucu sekali dia. Dulu dia adalah anak yang gemuk dengan rambut yang panjang. Sekarang dia berubah menjadi pria tampan yang sangat bersih dan rapih.
Mobil yang kami tumpangi berjalan dengan cepat. Didesaku hanya ada beberapa orang saja yang memiliki mobil. Hanya orang orang kaya yang berasal dari kota yang memiliki mobil. Disini masyarakat yang notabene adalah seorang petani hanya memiliki sepeda dan itupun sudah usang karena dipakai mengangkut hasil panen.
__ADS_1
"Mas sudah menikah?"
Mas Damar yang mendengar perkataanku tersedak dan batuk. Matanya yang bulat kini menatapku tajam.
"Aku belum menikah dan mungkin takan pernah. Aku hanya pria nakal Liy, bagiku pernikahan hanyalah sebuah perjanjian yang akan mengekang kedua belah pihak. Aku bisa mendapakatkan kehangatan seorang wanita dengan gampang. Uangku banyak dan banyak wanita rela memberikan tubuhnya padaku secara suka rela asalkan aku memberikan apapun yang mereka mau. Maaf Liy, aku sekarang adalah pria yang nakal, mungkin aku bisa menyebut diriku sebagai lelaki baji*ngan. Aku pernah melakukan hubungan bad*n dengan beberapa wanita yang berkencan denganku. Kau jangan terkejut. Ini lah aku yang sekarang."
Mataku terbuka sempurna. Entah apa yang harus kukatakan saat mendengar ucapannya saat ini. Mas Damar terlihat begitu santai membeberkan gaya hidupnya yang sekarang bebas.
Pakaiannya yang rapih, wajahnya yang tampan serta uang banyak yang dimilikinya sekarang membuat ia menjadi pria yang bebas melakukan hal yang tabu dikampungku. Tak ada percakapan diantara kami. Hanya deru angin yang menerpa menjadi sahabat kami.
Diputarnya alunan musik yang membuat hatiku sedikit tenang dan rilex. Aku yang masih berpakaian kurang bahan sedikit merasa risih karena jujur saja baru pertama kali aku memakai baju dengan panjang bawahan hanya sampai satu jengkal dari paha.
"Pakai ini" ucap Mas Damar seraya memberikanku jas yang ia kenakan.
"Maksih mas. Karena sudah membantuku"
Senyum manis terukir diwajahnya. Entah mengapa dia begitu tampak mempesona sekarang. Jujur dia adalah laki laki yang baik, walaupun karakter yang sekarang bisa disebut sebagai lelaki ba*jingan.
"Liy kau tahu, aku sebetulnya dari tadi sudah tegang saat melihat tubuhmu yang sangat menggoda. Namun aku masih ingat bagaimana kakek melindungimu dari para preman yang akan menodaimu hingga membuatku sadar bahwa mungkin saat ini kakek masih hidup, beliau akan menghajarku habis habisan bila memiliki niat jahat padamu. Aku pria normal dan kau tahu itu. Jadi aku tak salah jika berpikiran kotor saat melihat tubuhmu yang hanya terbungkus kain tipis dan ketat seperti itu. Kau pakai jasku dan ambilah sebagai kenang kenangan. Aku akan sering mengunjungimu"
"Te...terimakasih mas"
__ADS_1
Hanya kata itu yang bisa aku ucapkan padanya.
Kulihat beberapa kali Mas Damar menelan ludah kala melihat kakiku yang tak hanya tertutup jas nya. Takut sudah pasti, walaupun ku tahu bahwa Mas Damar takan mungkin melakukan hal diluar batasnya.