Takdir Cinta Ceo Psyco

Takdir Cinta Ceo Psyco
Tiba tiba


__ADS_3

Tiba tiba saja ponsel Arga kembali bergetar. Ia bahkan berusaha untuk tetap fokus pada pembicaraannya dengan Kanaya namun tetap saja ponselnya yang berdring cukup kencang membuat Arga terpaksa menjauh dari gadis di depannya.


"Aku pergi dulu sebentar. Nanti kita bicarakan lagi" Arga pergi berlalu meninggalkan Kanaya yang masih berakting dengan rasa sakitnya.


Dering di ponselnya terhenti kala Arga menjawab panggilan tersebut.


"Ya ada apa?" tanya Arga dengab kesal.


"Maaf tuan jika saya menganggu anda . Tapi saya memiliki bukti baru tentang pembantaian yang terjadi di rumah anda"


Mata Arga terbelalak mendengar perkataan pria yang selama ini ia percaya. Ini adalah kabar yang telah lama Arga tunggu bahkan selama tujuh belas tahun lamanya.


"Bukti apa itu ? Ap..apa yang telah kau temukan"


"Saya sudah mendapatkan infirmasi mengenai data data percakapan di ponsel milik orang tua anda seminggu sebelum tragedi berdarah itu terjadi. Bukti percapakan itu mungkin bisa membongkar identitas pelaku yang telah membuat kedua orang tua anda terbunuh"


"Bagus kalau begitu. Jadi apa yang harus aku lakukan saat ini? Dan apa yang akan kau lakukan selanjutnya"


"Semua ini ada kaitannya dengan orang terdekat yang menjadi rekan bisnis orang tua anda. Proyek besar yang ayah anda dapat dari seorang pengusaha luar negeri berhasil membiat para musuh bisnisnya kepanasan dan berusaha mengambil proyek tersebut dengan cara menghasut serta mencoba membakar pabrik kayu yang orang tua anda miliki"


Arga mengernyitkan dahi kala mendengar hal tersebut. Saat ini usianya benar benar sangat kecil hingga tak tahu kejadian apa saya yang menimpa perusahaan ayahnya tersebut.


"Untuk hal itu aku tak terlalu tahu dan kau bisa usut itu. Tapi yang menjadi pertanyaannya, siapa saja yang menjadi rekan bisnis ayahku?"


"Untuk orang orangnya saya masih mengumpulkan data. Namun ada satu hal yang mungkin bisa kita curigai yaitu pencairan dana dari rekening orang tua anda yang jumlahnya cukup fantastis. Itu adakah hal yang tidak mungkin terjadi sebab ayah anda sangat membutuhkan dana yang besar untuk proyek ini. Jadi takan mungkin orang tua anda mengambil uang di rekeningnya yang bisa di jadikan sebagai modal awal"


"Ya sudah kau cari tahu saja siapa orang yang menjadi teman ayah dan rekan rekan ayah di proyek tersebut. Serta cari tahu juga nama nama pembisnis yang menjadi musuh ayahku"


Arga menutup telpon dengan perasaan yang campur aduk. Di satu sisi ia benar benar senang dengan data yang di dapatkan oleh tangan kanannya tersebut. Namun, disisi lain ia pun masih saja penasaran dengan para pelaku yang bersekongkol untuk membunuh keluarganya.


Arga lekas menekan tombol panggilan pada ayah kandung dari Rindu yang sudah lama tak dihubunginya. Dulu saat ia masih kecil, ia sangat senang jika bermain dengan Rindu, sebab ia bisa merasakan kasih sayang seorang ayah dari ayah kekasib masa kecilnya tersebut.


"Hallo om"

__ADS_1


"Ya hallo, ini siapa?"


Suara parau dari sebrang telpon membuat Arga tersenyum senang. Ia sudah lama tak menghubungi ayah dari Rindu sebab kesibukannya di kantor membuat ia tak memiliki banyak waktu.


Arga ingin sekali mengatakan bahwa kini ada gadis yang mengaku sebagai Rindu tinggal dirumahnya. Namun, ia pun tak tahu jika wanita yang saat ini tengah berada di rumahnya apakah Rindu yang asli atau palsu.


"Ini aku Arga om. Om Galang gimana kabarnya?"


Tak ada jawaban dari sebrang telpon membuat Arga sedikit heran dan kembaki memanggil pria paruh baya tersebut.


"Om Galang baik baik saja kan?"


"Oh, ah baik baik. Kamu gimana kabarnya Ga? Apa kau baik baik saja?"


"Syukurlah kalau baik om. Oh ya kapan om datang ke sini?"


"Om tak tahu Ga. Om lagi ada proyek besar di sini. Kapan kapan jika proyek om selesai om akan pulang"


"Kejutan apa itu Ga?"


Arga terdiam sejenak. Ia benar benar ingin melihat Om Galang terkejut ketika mendengar kasus kematian ayahnya kini akan dibuka kembali.


"Ini tentang pembantaian ayah om. Arga sudah putuskan akan membukanya kembali ke pengadilan"


"Ka...kau membukanya kembali?"


"Tentu saja om. Arga punya bukti baru tentang pembantaian itu. Om pasti senang kan?"


"Ah, ya tentu saja om senang. Emh sudah dulu ya. Om ada pangglan dari klien penting. Nanti om hubungi lagi."


"Ya sudah om. Om jaga diri baik baik"


Tu! Tut!

__ADS_1


Panggilan di akhiri dengan cepat setelah Galang mendengar berita tentang bukti baru pembantaian tersebut. Dan Arga pun merasa sedikit heran dengan respon ayah dari orang yang ia cintai. Tapi, dengan cepat Arga menepis rasa tersebut sebab ia pun tahu bahwa ayah dari Rindu yang saat ini berada di luar negeri mungkin sedang sibuk.


Arga membalikan tubuhnya dan terkejut ketika melihat seorang wanita kini tepat berada di hadapannya.


"Ka..kau sejak kapan disini?"


Arga menatap Liyani yang saat ini tengah berdiri mematung menatapnya. Ia benar benar tak habis pikir dengan gadis tersebut yang selalu saja datang secara tiba tiba.


"Ak..aku sud..sud...sudah disini sejak kau masuk tadi"


Arga terkejut dengan ucapan Liyani dan segera menatap sekeliling ruangan. Arga benar benar lupa bahwa kini kamar ibunya telah di pakai oleh Liyani. Hingga akhirnya pria itu pun menepuk keningnya dengan pelang dan berjalan meninggalkan Liyani di kamar tersebut.


Belum jauh Arga melangkah, langkah kakinya justru harus terhenti kala Liyani beteriak memanggilnya.


"Tunggu sebentar tuan!"


Aega membalikan tubuhnya dan menatap Liyani dengan bingung.


"apa?"


Liyani terdiam sejenak dan memegang kepalanya yang terasa sedikit sakit.


"Aku ingin bertanya tentang nama orang yang anda telpon tadi. Emh..apakah nama orang tersebut adalah Galang Wijaya? Ma..maksudku namanya Pak Galang Wijaya?"


Perkataan Liyani berhasil membuat Arga bungkam. Ia bahkan tak menyebutkan nama panjang dari pria paruh baya yang sudah lama tinggal di luar neger tersebut. Namun nama yang Liyani benar benar tepat. Nama pria yang baru saja ia telpon adalah nama dari ayah Rindunya.


"Ap..apakah kau mengenal pria yang aku ajak bicara tadi?"


Liyani terdiam, kepalanya terasa berputar. Ia tiba tiba saja mengatakan nama itu dengan spontan. Ia bahkan baru saja mengingat nama asing tersebut sebab tiba tiba saja mulutnya ingin sekali mengatakan nama pria yang terlintas di pikirannya.


"Aku tak tahu dia. Aku belum bertemu dengannya. Aku hanya menebaknya" Liyani tersenyum menahan rasa gugup yang ada di dalam dirinya.


Lain halnya dengan Arga yang mula merasa bahwa Liyani adalah gadis yang selama ini ia cari.

__ADS_1


__ADS_2