Takdir Cinta Ceo Psyco

Takdir Cinta Ceo Psyco
Tertegun


__ADS_3

Arga yang sudsh mendapatkan rambut Kanaya segera pergi dan berusaha menjauh dari gadis tersebut. Arga tahu tindakan ini terlalu licik, namun ia paham betul dengan taktik permaianan yang dilakukan oleh seseorang untuk mengecohnya.


"Aku harus pergi dulu. Kau bisa pergi jalan jalan dengan ini" Arga mengeluarkan beberapa lembar uang di dompetnya untuk Kanaya.


Arga tahu tipikal gadis seperti apa Kanaya ini. Arha ingin Kanaya pergi sebentar agar tak mengagalkan rencananya.


"Ini semua untukku Arga?" tanya Kanaya meyakinkan.


"Tentu saja ini untukmu. Kau bisa belanja dan bersenang senang"


"Tapi bagaimana dengan Liyani? Kau dan dia akan berduaan disini. Aku tak rela" Kanaya cemberut membayangkan Arga yang akan berduaan di rumah mewahnya.


"Aku tak akan melakukan apapun dengannya. Kau tahu di rumah ini ada Dion. Dia pasti akan marah jika aku menggoda Liyani. Apalagi aku sudah memilikimu Rindu"


Kanaya tersipu malu. Ia bahkan yakin bahwa Arga tak tahu tentang identitas aslinya yang tak lain adalah anak kecil yang dulu sangat menyebalkan di sekolah dasarnya.


"Kalau gitu kamu siap siaplah. Aku akan pergi dulu. Dan kau hati hati di jalan ya" Arga membelai rambut Kanaya.


Kanaya sangat senang dan mencoba untuk menggoda Arga. Ia bahkan mencoba menci**m bibir Arga namun dengan segera Arga pun pergi meninggalkan gadis itu dan memberikannya pengertian.


"Aku enggan menyentuh gadis yang bukan untukku. Aku takan pernah melakukan apapun pada siapapun. Aku bukan seorang pengecut. Tapi aku tahu mana yang layak dan beh ku sentuh dan belum layak untuk ku sentuh. Tunggulah saat aku menikahimu. Kau bisa melakukan apapun yang kau mau padaku"


Arga mencoba membuat Kanaya mengerti. Gadis itu pun sangat gembira sebab ia berpikir bahwa Arga akan menikahinya dengan cepat.


"Baiklah kalau begitu. Aku harus pergi dulu." Arga berjalan meninggalkan kamar Kanaya.

__ADS_1


Gadis itu terlihat sangat bahagia dan segera berdandan untuk pergi ke mall. Ia tahu bahwa Kanaya di besarkan oleh keluarga kaya di kampung tempat ia temukan namun Arga masih belum tahu identitas asli Kanaya sebab ia masih bersikap dan mengaku sebagai Rindu.


Arga berjalan menuju dapur dan mendapati Dion dan Liyani tengah saling memandang satu sama lain. Liyani bahkan saat ini berada di pelukan Dion sebab ia terpeleset dan akan terjatuh.


"Ekhem!" ucap Arga dengan keras.


Sontak saja Dion dan Liyani gugup dan segera melepaskan pegangan mereka. Liyani bahkan merapihkan pakaian serta rambutnya yang masih kusut akibat aktivitas di dapur sejak pagi.


"Kalian sedang apa?" ucap Arga dengan ketus.


Dion menghampiri Arga dan berbisik di telinganya.


"Kau menganggu usahaku Arga. Kau datang di momen yang tak tepat. Baru saja aku akan lebih dekat dengannya, namun kau malah datang dan mengacaukan semuanya"


Arga tersenyum tipis. Ia takan mungkin membiarkan Dion menyentuh Liyani sebelum ia tahu bahwa Liyani sebenarnya Rindu yang ia cari atau bukan.


Liyani menundukan kepalanya dan menatap seluruh pakaian yang ia kenakan. Ya memang pakaiannya yang berantakan serta rambutnya yang terdapat beberapa potong sayur tampak begitu mengerikan.


"Ya kau benar, aku sangat jelek. Kalau begitu aku permisi dulu Tuan Arga"


Arga menatap Liyani sekilas. Ia tak bermaksud membuat Liyani tersinggung namun perkataannya di waktu sekarang mungkin tak pas. Liyani mungkin sedang sensitif dan ia tersinggung dengan ucapan Arga.


"Kau mengapa mengatakan hal itu Arga? Liyani tampak begitu sempurna dimataku. Kau tak mencintainya maka kau tak tahu betapa cantiknya Liyani"


Arga berjalan pergi meninggalkan Dion. Ia segera membuka ponsel dan mengetik sebuah pesan pada om nya. Arga menyuruh ayahnya Dion agar memberikan pekerjaan mendadak pada Dion sebab ia tak menyelesaikan tugasnya untuk meeting besok.

__ADS_1


Dan benar saja. Tak lama setelah Arga memberikan pesan pada ayah Dion, ponsel Dion pun berbunyi dan terdengar Dion berbincang dengan nada kesal.


"Aku pergi dulu Ga. Ingat! Jangan kau macam macam pada bidadariku. Jangan marahi dia dan jangan bentak dia. Karena itu peringatan dariku!" Dion menunjuk wajah Arga hingga membuat Arga sedikit geram.


"Hihi, bukannya aku mengancammu Arga. Tapi aku hanya mengingatkanmu saja. Ya, kumohon" Dion tersenyum ke arah Arga.


Ia pun pamit dan segera pergi meninggalkan kediaman Arga dengan mobil miliknya yang terparkir di halaman.


Kini Arga hanya berdua saja di rumahnya bersama Liyani. Ini kesempatan emas bagi Arga untuk mendapatkan rambut Liyani agar bisa di lakukan tes DNA dengan Om Galang.


Arga segera berlari menaiki anak tangga dan berjalan menuju kamar Liyani. Kamar bernuansa serba putih itu tampak rapih dan bersih. Tampak juga pengcahayaan disana tampak begitu baik setelah diisi oleh Liyani. Arga mendengar senandung merdu dari arah kamar mandi.


Arga terdiam mendengarkan nyanyian yang berasal dari Liyani yang sedang mandi dan mulai merebahkan tubuhnya di atas ranjang tempat ibunya dulu tertidur. Arga menatap langit langit kamar dan mulai teringat kala ia ketakutan dan tertidur bersama ayah dan ibunya disini. Ia tampak tersenyum kecil dan tak lama kemudian, mata Arga menatap sebuah sisir di atas meja rias.


Saat Arga henda bangkit untuk mengambil sisir tersebut, terdengar suara pintu kamar mandi yang akan terbuka. Sontak saja Arga menggulingkan badannya untuk masuk ke bawah ranjang dan bersembunyi di dalam sana. Liyani yang tak tahu bahwa ada pria di kamarnya terus saja bernyanyi dengan riang dan mulai mendekati lemari pakaiannya.


Arga menahan dirinya agar tak bersuara dan hanya mampu melihat kaki jenjang Liyani hingga tiba tiba saja matanya membulat sempurna kala melihat handuk jatuh tepat di depannya. Liyani membuka handuk yang ia pakai untuk di ganti dengan pakaian yang ada.


Arga menutup mulutnya serta menahan detak jantung di dadanya yang begitu berdegub kencang. Arga memang tak mampu melihat tubuh Liyani namun ini pertama kalinya untuk Arga, merasakan dan melihat seorang wanita yang membuka handuknya di depan Arga.


Arga mengatur nafasnya agar kembali normal. Ia bahkan menelan ludah untuk menahan gugup di hatinya. Hingga tak lama kemudian Liyani pun pergi masuk kemvali kedalam kamar mandi untuk mengambil pakaian bekasnya tadi.


Di waktu yang sama Arga mengendap ngendap bangkit dari bawah ranjang untuk keluar darai kamar tersebut. Arga menatap Liyani yang hanya mengenakan baju yang bagian punggungnya terbuka,


Arga segera mengambil sisir di meja rias dan tak sengaja menatap punggung Liyani yang terdapat tahi lalat seperti yang dimiliki oleh Rindu.

__ADS_1


Arga tertegun, namun ia cepat sadar dan pergi meninggalkan kamar tersebut menuju kamarnya sendiri.


__ADS_2