
Entah apa yang harus dilakukan Liyani kali ini. Ia bahkan tak tahu cara bernafas di depan Arga dan Rindu. Ia benar benar merasa sangat takut. Nyawanya seolah terancam jika terus terusan harus tinggal disini.
"Kau kenapa?" tanya Rindu dengan mulut yang tak henti mengunyah.
"Ah, aku hanya merasa lelah. Aku ingin merebahkan diri di kamar. Permisi" Liyani mematikan tv dan berjalan pergi menuju kamar.
Ia menatap Arga sekilas dan segera berlari menuju kamarnya.
"Aku ingin tahu kenapa kau bisa menjadi sepupu Liyani? Padahal dia seperti tak mengenalmu?" tanya Rindu dengan pelan.
Arga bingung harus menjawab apa pada Rindu. Ia mengatakan bahwa Liyani adalah sepupu jauhnya sedangkan Rindu pun tahu sejak kecil ia tak memiliki sepupu.
"Ah ceritanya sangat panjang. Nanti jika ada waktu akan aku ceritakan padamu Rin. Sekarang kau makan saja yang banyak. Aku ingin melihat kau tumbuh menjadi anak yang gendut" arga mencubut pipi Rindu dengan penuh kasih sayang.
Selama bertahun tahun ia mencari cinta sekaligus sahabat kecilnya, kini ia telah menemukannya dan kini berada di hadapannya sendiri.
"Ahhhh, Arga aku sedang makan" Rengek Rindu manja.
Arga tersenyum dan mulai mengacak ngacak rambut Rindu dengan gemas. Ia bahkan menghiraukan wajah jengkel dan kesal dari Rindu karena ia benar benar sangat rindu dengan Rindu.
"Jika kau sudah makan, maka cepatlah mandi. Aku rasa tubuhmu sudah penuh dengan daki" Arga menggoda Rindu seraya tertawa.
"Arga!" Rindu berteriak dengan senyum manisnya.
Arga hanya menatap wajah gaid di depannya yang tampak bersemu merah karena terus ia goda. Bahkan ia tak sengan meledek Rindu yang masih menyuapkan makanan ke dalam mulutnya itu.
"Kau benar benar lapar atau rakus?" tanya Arga dengan tawa jahilnya.
Rindu yang kesal segera menghentikan makannya dan mulai menyimpan sendok di atas piring. Ia mengerucutkan bibir dan mulai banhkit untuk pergi meninggalkan Arga sendiri.
"Kau mau kemana?" tanya Arga seraya mencekal tangan Rindu.
"Aku mau pergi. Aku sudah kenyang kau goda dan aku pun sudah kenyang kau ledek dari tadi. Permisi"
Arga mencekal tangan Rindu dan dengan secepat kilat Arga pun menarik tubuh Rindu agar berada di pangkuannya. Rindu yangbterkejut pun hanya mampu terdiam seraya memandang wajah tampan pria di hadapannya.
__ADS_1
Dadanya berdebar dengan sangat kencang, serta pipinya ia rasa mulai memerah karena menahan malu.
"Kau kenapa?" tanya Arga pada gadis di pangkuannya....
"Ak..aku...aku aku harus pergi"
Rindu segera berlari dari pangkuan Arga dan segera pergi menaiki anak tangga meninggallan Arga sendirian.
Arga hanya menggelengkan kepala .elihat tingakah Rindu yang pemalu namun sangat agresif. Namun entah kenapa bayang bayanag wajah Liyani selalu saja hadir di hadapannya. Bahka saat ini ia masih memikirkan gadis yang sudah mengetahui rahasia besarnya itu
"Mau harus membungkam mulut gadis itu. Aku yakin dia adalah gadis yang lugu dan polos sehingha mungkin saja jika ada musuh yang mengetahui wanita itu di rumahku maka dia akan mencari informasi mengenaiku. Aku harus mengajaknya berbicara"
Arga segera berjalan menaiki anak tangga dan berlari menuju kamar Liyani. Baru saja ia membuka lamar gadis itu ia dikejutkan dengan teriakan dari Liyani yang baru saja seleai mandi, keluar hanya dengan memakai handuk saja.
Sontak Liyani yang ketakutan pun naik ke pangkuan Arga yang masih berada di ambang pintu.
"Kau kenapa?" tanya Arga panik.
"Tadd...tadi ada"
Dengan posisi yang masih berada di pangkuan Arga, Liyani mengatakan bahwa di kamar mandinya ada tikus.
"Aku ...aku melihat ada se....seekor tikus di dalam sana" Liyani menunjuk ke arah toilet.
"Tikus? Kau bercanda ? Mana mungkin dirumahku ada tikus. Tiap hari pembantu pembantuku yang banyak sering memberiskan kamar ini dan mengepel seluruh ruangan di rumah ini, jadi mana mungkin ada tikus di rumahku" Arga bersikukuh membeberkan pendapat.
"Tapi aku benar benar melihatnya tadi"
"Bang saja ini hanya modusmu saja, karena kau ingin aku gendong kan ?".
Liyani segera menatap dirinya yang saat ini berada di pangkuan Arga. Ia bahkan segera menclba melepaskan dirinya dari pangkuan Arga dan segera membenarkan posisi handuknya.
"Aku rasa kau sangat tertarik padaku" Arga mulai berbicara dengan pelan.
Ia bahkan sengaja sedikit berbisik di telinga gadis di hadapannya agar ia merasa terkejut dan kesal.
__ADS_1
"Diam tuann! Aku sudah sangat lelah hati ini. Jadi kau tak bisa seenaknya padaku. Jangan coba coba menggodaku ya? Aku akan laporkan kamu"
Arga tersenyum ia bahkan tak takut dengan siapapun di dunia ini.
"Aku masih menunggu untuk kau laporkan. Dan pasal apa yang akan menjeratku. Aku bahkan memiliki orang dalem dan penting disana"
Liyani terdiam. Ia merasa takut ketika melihat Arga yang semakin mendekatinya hingga jaraknya pun tinggal sekitar 2 langkah.
"Berhenti atau aku pukul tuan" Liyani mencoba menggertak Arga agar menjauh dari pandangannya.
"Aku melihat tubuhmu sangatlah"
Dengan cepat Liyani melempar satu buah bantal tepat di wajah Arga. Ia bahkan tak takut dengan apa yang akan Arga lakukan padanya karena sudah melempar bantal tersebut.
"Berani kau ya" Arga mulai mengejar Liyani yang terus berlari menghindari dirinya.
"Ups maaf" Liyani tertawa seraya mulai berlari kembali.
Ia bahkan tersenyum melihat Arga yang terus berlari menjauhinya. Hingga tiba tiba saja, handuk yang Liyani kenakan sedikit longgar dan bagian depannya hampir saja terbuka.
Liyani yang malu segera berteriak dengan sangat kencang dan mendorong tubuh Arga hingga tepat terbaring di ranjang Liyani.
Arga yang spontan di dorong pun tak sengaja terjatuh tepat diatas tubuh Arga.
Keduanya hanya diam dan saking tatap satu sama lain. Ia bahkan menatap mata Liyani dwngan dalam sampai sampai Arga terlena dan mengatakan bahwa mata Liyani sangat mirip dengan mata sahabatnya saat kecil dulu.
Arga benar benar merasakan bahwa identitas wanita dirumahnya ini sangatlah privasi dan sngatlah misterius. Arga yang sadar bahwa dirinya sedang dberada di baw* tubuh Liyani pun bangkit dan berdiri dengan tegap
"Maafkan aku tuan .Maafkan aku"
"Ku kira kau polos Liyan. Ternuyata kau macan berina yang sedang lapar benar kan,,?"
Arga tersenyum menggoda Liyani. Semakin ia menggodanya, semakin bersemu merah pula pipi Liyani.
"Saya mohon tuan keluar dari sisi. Saya tak ingin Rindu melihat kedekatan kita. Walaupun tak ada apapun diantara kita, tapi aku tak mau ia salah paham dan hubungan pertemananku dengannya emjadi sia sia saja"
__ADS_1
Arga tersenyum dan menatap wajah Liyani begitu dalam.