
Aku bermain dan bercanda bersama Rindu dirumah mewahnya. Hingga saat kami mulai akrab, aku selalu saja diusir oleh istri dari saudagar kaya yang mengasuh Rindu dan melarangku untuk datang lagi kerumahnya.
Hari hari ku lalui dengan canda tawa bersama ayah dan ibu. Mereka menyayangiku seperti mereka menyayangi anak kandungnya sendiri.
Tak ada batas antara aku dengan ayah dan ibu, karna mereka selalu berbuat baik dan selalu memberikan yang terbaik untukku.
Paman dan bibi selalu saja menyuruh ayah untuk menjualku kepada nyonya Zilvana yang terkenal dengan sebutan Mami Zilvana. Mereka menyuruh ibu dan ayah agar menjadikanku sebagai anak angkat nyonya Zilvana supaya menghasilkan uang dengan cara haram.
"Laksmi, itu si Liyani jual aja ke nyonya biar suamimu bisa berobat ke rumah sakit" ucap bibi dengan berbisik.
Ibu melihat kearahku dan mulai menu dukan kepala. Aku tahu bahwa ibu tengah bingung dengan keadaan ayah yang sakit namun tak memiliki biaya untuk membawanya berobat.
"Aku sudah sayang sama Liyani, Jum. Tak mungkin aku menjualnya ke nyonya" jawab ibu dengan pelan.
Amarah bibi tak dapat dibendung, dia mencaci ibu dan menutup pintu rumah dengan sangat keras.
"Anak pungut aja kau sayang sayang! apa untungnya kau rawat dia tanpa mengasilkan uang?! kau itu bukannya menolong suamimu malah kau pertahankan anak yang gak jelas asal usulnya seperti dia!" teriak bibi pada ibu.
Aku berlari menghampiri ibu yang tengah menangis didalam dapur. Air matanya yang mengalir membuat hatiku sakit dan ikut menangis dalam pelukannya.
"Ibu kenapa gak nurutin kata bibi?" tanyaku.
__ADS_1
Ibu hanya bisa tersenyum dan mulai menghapus air matanya dengan bajunya yang mulai kusam.
"Ibu sayang Liyani seperti anak ibu sendiri. Ibu gak mungkin kasih kamu sama orang lain yang jelas jelas hanya akan membuat masa depanmu hancur. Jika Liyani sayang sama ibu, Liyani harus menjadi anak baik dan pintar walaupun ibu dan ayah tak bisa menyekolahkan Liyani"
Kuanggukan kepala dan memeluk erat tubuh ibu. Harumnya tubuh ibu, membuatku nyaman dan tak bisa jauh dari dirinya.
Tak berselang lama dengan gontai ayah berjalan kearahku dan ibu yang terduduk didapur.
"Ada apa bu, kok tadi ribut ribut?" tanya ayah pada ibu.
"Gak ada apa apa kok pak, tadi hanya ada Bi Jum datang kesini minta nasi. Tapi nasinya kan belum matang, terus dia marah marah karna katanya lapar" ucap ibu berbohong.
Dua malaikat didepanku terlihat sangat cantik dan tampan. Mereka terlihat seperti pasangan bahagia walaupun dengan keadaan yang sangat sederhana.
Senyum manis terukir diwajah pria dan wanita paruh baya didepanku.
Ayah pernah bercerita bahwa dia dulu adalah orang paling kaya didesa ini. Sampai suatu saat, ada orang kota yang menawarkan investasi kepada ayah dan menyuruh ayah untuk menanam modal yang cukup besar agar perkebunan yang ayah miliki dapat berkembang pesat dan ayah pun memiliki perkebunan juga diluar desa ini.
Kurangnya pendidikan dan bujukan dari paman dan bibi untuk memberikan seluruh surat tanah dan uang yang ayah miliki pada mereka, membuat ayah tertipu dan semua hartanya lenyap tak tersisa.
Bi jum dan paman membohongi ayah dan mengambil seluruh uang yang ayah miliki untuk menyekolahkan Mas Irwan, anak dari Bi Jum dan paman kuliah di ibu kota. Namun Mas Irwan justru menghabiskan semua uang yang bibi dan paman dapat dari hasil menipu, untuk berjudi dan pergi ke club malam.
__ADS_1
Sampai saat ini, bibi dan paman tak tahu dimana Mas Irwan berada, sebab dia telah lama tak menghubungi bibi dan juga paman.
Aku menjalani hidup dengan ayah dan ibu walaupun serba kekurangan dan minim pendidikan.
Hidupku bahagia jika bersama mereka. Tak ada kesedihan yang aku dapatkan saat aku hidup bersama ayah dan ibu yang jelas bukan orang tua kandungku.
Hari itu, aku berjalan menuju ladang dan mencari belalang disana. Tak ada teman dan tak ada yang mau berteman denganku.
Ayah dan ibu mendapat kabar bahwa Mas Irwan sedang dipenjara karna obat obatan terlarang. Paman dan bibi menangis tersedu sedu mendengar kabar bahwa anak mereka mengalami masalah dan terjerat masalah hukum.
Ayah dan ibu yang memiliki sebuah motor yang usang diminta pergi menemui Mas Irwan di ibu kota sebab bibi dan paman akan mencari dulu pinjaman untuk bisa menebus denda yang Mas Irwan lakukan.
Ibu dan ayah yang memiliki hati yang baik, hanya menurut dan pergi berlalu meninggalkanku sendiri dirumah ini.
"Liyani, ibu dan ayah pergi dulu sebentar. Liyani tunggu disini ya. Doain supaya ibu dan ayah sampai disana dengan selamat. Dan doakan mas mu supaya dia cepat bebas" ucap ibu seraya memelukku.
"Liyani, ayah mau pergi dulu ya. Liyani baik baik dirumah. Jangan main jauh jauh. Jika ada apa apa panggil saja paman dan bibimu. Liyani harus janji pada ayah dan ibu untuk tetap menjadi anak baik kebanggaan ayah. Jaga diri baik baik. Ayah akan pergi dulu nyusul mas mu, paling 2 hari lagi ayah pulang" dikecupnya pucuk kepalaku dengan lembut.
Kupeluk erat tubuh pria paruh baya didepanku. Bilir bening mengalir deras dipipiku. Baru kali ini aku ditinggal pergi oleh ibu dan ayah sendiri dirumah ini. Walaupun ada paman dan bibi disini, jujur saja aku sangat takut bahwa mereka akan memarahiku dan menyuruhku untuk pergi meninggalkan ayah dan ibu.
Kulambaikan tangan pada ayah dan ibu yang terlihat mulai menjauh dariku. Suara motor usang milik ayah kini mulai menjauh seiring dengan kepergian ayah dan ibu. Senyum yang mereka ukir ketika melambaikan tangan kepadaku terlihat begitu asing.
__ADS_1
Hingga ku tahu bahwa senyum itu adalah senyum terakhir kali ibu dan ayah sebelum truk dipersimpangan menabrak tubuh ringkih mereka hingga terpental kejalanan.