Takdir Cinta Ceo Psyco

Takdir Cinta Ceo Psyco
Mulai Curiga


__ADS_3

Kanaya sangat senang sebab Arga berhasil membuat Dion bungkam dan tak bertanya lebih jauh lagi. Ia bahkan kini mulai percaya diri dengan identitas palsunya sebagai Rindu dan mendapatkan perhatian khusus dari Arga.


"Kalau itu Rindu, lalu dia siapa?" bisik Dion dengan pelan.


Arga dan Dion yang baru saja duduk diatas kursi meja makan, menatap ke arah Liyani yang senantiasa tersenyum kearah keduanya.


Liyani heran dengan tingkah laku tamu yang saat ini bersama Arga, sejak tadi menatapnya lekat dan tak berkedip. Hingga membuat gadis itu tampak risih dan malu dengan keadaan tersebut.


"Dia, Dia Liyani" Arga menghela nafasnya kala menatap Liyani yang tampak begitu mempesona dengan balutan kaos milik ibundanya.


"Hai namaku Dion, senang bertemu dengan gadis cantik sepertimu" Dion mengulurkan tangan pada Liyani dan langsung mendapatkan sambutan hangat dari gadis tersebut.


"Sudahlah Dion, ini waktunya makan. Mau sampai kapan kau menjabat tangan dia seperti itu" Arga segera melepaskan tangan Dion pada Liyani, seraya mulai menyendokan nasi ke dalam piringnya.


"Baiklah ku kira Arga sudah sangat lapar, jadi aku akan menyendokan nasi pada piring kalian" Kanaya mulai bangkit dan menyendokan nasi pada piring Arga dan Dion.


Tak lupa Kanaya pun menyendokan juga sepiring nasi pada Liyani yang saat ini tengah duduk manis diatas kursi meja makan.


"Oh ya, jika boleh aku tahu darimana kau menemukan Rindu dan Liyani?" tanya Dion dengan penasaran.


"Kami bertemu dijalanan dan secara kebetulam aku langsung menemukan Rindu" Arga menggenggam tangan Kanaya dan tersenyum manis kepadanya.


Walaupun sebenarnya Arga pun mulai meragukan wanita yang saat ini tepat berada dihadapannya.


"Lalu, kapan kalian akan menikah?" secara tiba tiba saja Dion bertanya pada Arga dan Kanaya hingga membuat Liyani yang saat ini tengah menyantap makanan langsung tersedak.


"Ini minum. Kau harusnya hati hati" Dion bangkit dan membawakan secangkir air putih pada Liyani.


Gadis itu pun menerima secangkir air pemberian Dion dan meminumnya sampai tandas. Liyani benar benar terkejut dengan pertanyaan Dion mengenai pernikahan Arga dan Rindu yang terbilang dangat cepat. Liyani bahkan tahu sosok wanita yang ia juga tahu sebagai Rindu, sangatlah modis dan terkesan memiliki pertemanan yang sangat bebas.

__ADS_1


Liyani tak pernah sedikitpun keberatan dengan pernikahan yang akan berlangsung antara Rindu dan Arga. Namun, apakah Arga sudah yakin dan tahu hal hal yang bersangkutan dengan Rindu sebelumnya. Liyani pun tak ingin mengetakan keburukan tentang Rindu yang sering dikatakan tetangga dikampungnya tentang anak angkat saudagar kaya mereka yaitu Rindu.


Tetangga sekitar kampung Liyani dan juga paman serta bibinya sering menggosipkan kelakuan Rindu yang hidup di kota penuh dengan kebebasan yang diberikan orang tuanya serta kepribadian Rindu yang sangat sombong. Namun, Liyani tak pernah menganggap semua gosip tentang Rindu itu benar, sebab ia pun saat kecil pernah berteman dengan gadis itu dan yang ia ketahui Rindu sangatlah baik sebelum ia disekolahkan oleh ayah angkatnya ke pusat kota.


"Kau kenapa Liya? Apa kau terkejut dengan ucapanku?" Dion tampak begitu bersalah pada gadis didepannya.


"Ah, aku tidak papa. Aku tidak terkejut akan hal itu. Aku hanya makan terlalu cepat dan itu membuatku tersedak" Liyani sebisa mungkin mengalihkan pembicaraan Dion agar tak curiga dengan dia yang memang sejujurnya terkejut.


Bagiama pun Liyani harus senang dengan pernikahan Arga dan Rindu sebab mungkij dengan begitu ia bisa pergi dari rumah orang kaya dingin serta mengerikan seperti Arga.


Apalagi Rindu juga belum tahu bahwa Arga seorang pembunuh berdarah dingin.


Kepala Liyani tiba tiba saja pusing dan terasa begitu sakit. Ia memegang kepalanya dan membuat Dion yang tengah menatapnya kembali panik. Pria itu dengan sigap memegang pundak Liyani yang sempoyongan dan meminta Liyani agar segera beristirhat.


"Kau kenapa? Apa ada yang sakit? Ku lihat wajahmu semakin pucat" Dion tak henti hentinya bertanyabtentang keadaan Liyani.


Bahkan Arga yang melihat Liyani menahan rasa sakitnya pun segera bangkit dan meninggalkan makanannya.


Pukulan keras dibelakang kepala Liyani pada saat penculikan mungkin membuatnya mengalami sebuah masalah serius dikepalanya. Bukan hanya kepalanya yang selalu merasa sakit, Liyani bahkan kehilangan semua ingatannya tentang identitas aslinya sebagai Rindu.


Liyani Rindu Prasasti adalah nama aslinya. Identitasnya harus lenyap kala pukulan keras tepat dibelakang kepalanya membuat ia hilang jati diri dan kehilangan semua memori ingatannya. Liyani kehilangan identitasnya sebagai Rindu, kehilangan kebersamaannya dengan Arga, bahkan ia pun kehilangan memori indahnya bersama kedua orang tua kandungnya yang senantiasa menunggunya pulang.


Liyani terpaksa harus mengganti identitasnya kala diangkat menjadi putri dari pria dan wanita paruh baya di desa terpencil dan mendapatkan nama baru yaitu Liyani Rindu Pratiwi sebab nama Pratiwi disematkan oleh ayah serta ibu angkatnya karena nama di seragam sekolah Liyani rusak dan hanya menyisakan nama depan serta nama tengahnya saja.


"Aku akan antarkan kamu kekamar" Dion mulai mengangkat tubuh Liyani yang begitu lemas dan membawanya ke lantai atas.


"Dimana kamarnya Arga?"


Arga yang membuntuti Dion mulai membukakan pintu kamar almarhumah ibunya dan membiarkan Dion membaringkan tubuh Liyani diatas ranjang besarnya.

__ADS_1


"Aku akan segera memanggil Dokter Irfan kesini" Arga mulai mengambil ponsel didalam sakunya dan segera melakukan panggilan telpon pada kerabat ibunya tersebut.


Tak perlu menunggu waktu yang lama, suara ketukan didepan pintu membuat para pelayan yang tinggal dirumah Arga dengan sigap membukakan pintu dan menyuruh Dokter Irfan menuju kamar Liyani.


Arga, Dion dan Kanaya pun menatap seorang pria paruh baya yang baru saja sampai tersebut dan segera menyuruhnya untuk mengecek kondisi kesehatan Liyani yang mulai tak sadarkan diri.


"Apa yang terjadi padanya Om?" tanya Arga dengan panik.


"Dia sepertinya terlalu kelelahan dan mengalami stres. Tapi kondisi ini akan berangsur membaik sejalan dengan keadaannya yang tak terlalu tertekan"


"Jadi dia akan baik baik saja om?" tanya Arga meyakinkan.


"Tentu saja Arga. Tapi ngomong ngomong dia itu siapa? Kenapa kau membawanya kerumah?"


Tiba tiba tatapan mata Dokter Irfan berubah menjadi sangat tajam. Tatapannya benar benar sangat menelisik, membuat Arga kikuk dan ketakutan dengan kebohongan yang ia katakan pada gadis disampingnya akan terbongkar.


"Om ikut aku sebentar" Arga memegang tangan Dokter Irfan agar menjauh dari Dion dan gadis yang ia kira sebagai Rindu.


Arga benar benar harus membuat Liyani tetap tinggal dirumahnya karena Liyani tahu akan kasus pembunuhan yang ia lakukan sebelumnya dan selain itu, kini Arga tak bisa berjauhan dengan Liyani. Perasaan Arga pada gadis itu benar benar sangat aneh dan membingungkan.


Disatu sisi dia sangat ingin menemukan Rindu yang asli, namun disisi lain ia tak bisa kehilangan Liyani yang selalu saja menghiasi pikirannya.


"Dia adalah gadis yang tak sengaja aku tabrak om. Dan kini ia kehilangan ingatannya. Dulu aku pernah membawanya ke rumah sakit dan mengecek semua kondisinya yang ternyata sebelumnya pun ia adalah korban penculikan dan mengalami tindak kekerasan yang dilakukan para penculik itu. Dan gadis yang ada disisi Dion, adalah gadis yang mengaku sebagai Rindu"


"Rindu? Jadi Rindu sudah ketemu?" tanya Dokter Irfan senang.


"Entahlah om. Aku masih ragu dengan identitasnya. Aku bahkan belum menanyakan tentang orang tuanya dan bagaimana selama ini ia tak berusaha mencari kedua orang tuanya tersebut. Padahal yang aku ketahui bahwa gadis itu diasuh oleh saudagar kaya di desa tempat ia ditemukan dulu. Dan yang anehnya lagi, Liyani serta gadis yang mengaku sebagai Rindu itu mengalami penculikan di tempat yang sama dan dibuang di tempat yang sama juga"


"Ini tak mungkin kebetulan Arga. Ini seperti sudah direncanakan sebelumnya. Om harap kau selalu berhati hati dengan dua wanita itu. Sebab kita belum tahu siapa yang saat ini tengah mencoba menjebakmu masuk kedalam rencananya"

__ADS_1


"Iya om, aku juga masih belum yakin dengan gadis yang mengaku sebagai Rindu itu. Dia benar benar berbeda dengan Rindu yang ku kenal dulu dan Liyani pun terlihat sangat mirip dengan Ridu yang selama ini aku cari. Nama, sifat serta sikapnya sangatlah sama hanya saja akhiran namanya saja yang berbeda"


__ADS_2