
Arga mendengus kesal mendengar perkataan orang suruhannya mengenai seragam Liyani saat ia ditemukan.
"Kenapa mereka menaruh tarif harga yang sangat mahal? Apa mereka masih waras?" ucap Arga dengan kesal.
Terlihat tatapan mata pria itu berubah menjadi sangat menakutkan kala berbicara mengenai nominal uang yang di patok oleh paman serta bibi Liyani di desa tersebut.
"Aku tak tahu tuan. Mungkin ia mau menbayar hutang hutangnya pada saudagar kaya yang tak lain orang tua gadis yang mengaku sebagai Rindu. Aku hanya tahu bahwa mereka berdua memiliki banyak sekali hutang pada lintah darat bahkan itulah alasan mereka dulu menjual Liyani pada Nyonya Zilvana"
Arga mulai mencoba menenangkan hatinya yang saat ini tengah bergemuruh. Keluarga angkat Liyani benar benar sangat mata duitan. Apalagi jika mereka tahu jika saat ini keponakan angkatnya sedang berada di rumah Arga. Tak menutup kemungkinan bahwa mereka akan datang dan memeras Arga.
"Baiklah kalau itu harga yang mereka minta. Aku akan berikan. Kau cek notifikasi kartu atm mu di ponsel, aku sekarang akan mentransfer uangnya"
"Anda akan membayar seragam lusuh itu tuan?"
"Ya tentu. Aku akan membayar seragam itu dengan harga yang sudah mereka tetapkan. Tapi, ingatlah satu hal. Kau ambil foto dari kedua manusia serakah itu dan ambil juga seragam yang sudah ku bayar"
"Baik tuan"
Arga mematikan ponselnya dan mulai melangkahkan kaki menuju rumahnya. Ia masuk ke dalam rumah dengan santai dan ia pun tampak terkejut ketika melihat sosok gadis yang mengaku sebagai Rindu saat ini tengah berada di dekat jendela.
"Kau baru pulang?" ucap Kanaya dengan manja.
Arga menatap gadis itu sekilas dan mencoba bersikap baik padanya sebelum identitas Rindu asli terkuak.
"Ya, aku baru saja tiba. Oh ya, ngomong ngoming sedang apa kau disini?" tanya Arga heran.
"Ah, ak...aku, aku hanya sedang menunggumu pulang. Ak...aku ingin menanyakan hal serius padamu"
Arga mengernyitkan dahi. Ia benar benar bingung dengan maksud serta tujuan gadis yang saat ini tengah berada di depannya.
__ADS_1
"Hal serius apa ?"
Kanaya tersenyum manis dan mulai duduk diatas sofa yang empuk.
"Kau ganti dulu saja pakaian. Aku akan menunggumu disini jika kau sudah selesai"
Arga menghela nafas dan melangkahkan kaki menuju tangga.
"Aku pergi dulu. Kau tunggulah disini sebentar"
Kanaya mengulas senyum sekilas dan menatap kembali ke arah jendela.
*********
Liyani terdiam memandang jendela kamarnya yang menampilkan awan hitam dengan taburan bintang diatasnya. Ia benar benar merasa aneh dengan perasaannya sendiri terhadap pria asing yang selalu ada di dekatnya.
Arga adalah pria misterius yang selalu saja memenuhi setiap kebutuhannya serta pria pertama yang mampu membuat jantungnya berdegub kencang.
Semakin ia berusaha mengingat kenangan serta masa lalu yang pernah terjadi di hidupnya, semakin sakit juga ia rasa di bagian kepalanya.
"Siapa dia sebenarnya" gumam Liyani pelan.
Liyani berjalan menuju luar kamarnya dan hendak turun menuju dapur untuk mencari makanan sebab ia merasa sangat lapar. Namun, belum sempat ia menuruni anak tangga, langkahnya harus terhenti kala melihat sosok pria yang mampu membuatnya tak nyenyak tidur, saat ini tengah duduk berdua dengan gadis yang dicintainya.
Arga terlihat sedang membicarakn hal yang serius dengan Kanaya di bawah sana. Itulah hal yang membuat Liyani mengurunkan niatnya untuk pergi menuju dapur.
"Maafkan aku Arga jika aku tak seperti apa yang kau pikirkan" ucap Kanaya seraya menundukan kepalanya.
"Maksudmu apa?"
__ADS_1
Kanaya terdiam. Matanya mulai mengembun kala berbincang dengan pria tampan di depannya tersebut.
"Maafkan aku jika aku tak sebaik yang kau kira. Aku benar benar bukan Rindu yang kau inginkan. Aku hanya gadis yang bodoh dan selalu membuat onar"
Baru kali ini gadis yang mengaku sebagai Rindu mengakui bahwa dirinya mwmang tak seperti apa yang diharapkan oleh Arga. Arga pun benar benar merasa sangat bingung dengan apa yang harus ia katakan pada gadis yang berada di depannya itu.
"Aku tak keberatan dengan dirimu yang sekarang sebab aku benar benar sangat mencintaimu Rindu. Aku benar benar ingin menjadikanmu teman hidupku untuk sekarang dan selamanya. Aku tak mempermaslahkan bibit bebet bobot dari gadis yang benar benar yang kucintai. Hanya saja aku sangat tak suka dengan seorang pembohong"
Ucapan Arga benar benar mampu membuat Kanaya diam dan tertegun. Perkataan Arga seolah menyindir dirinya yang saat ini tengah berbohong tentang identitas sebenarnya.
"Aku benar benar tak bisa memaafkan orang yang mampu membohongiku dan bahkan aku bisa membuat orang tersebut tak bisa melihat dunia yang fana ini. Jadi untuk itu, kau tak bileh takut jika aku takan menerima semua kondisimu sekarang. Sebab jika aku sudah mengambil keputusan, maka aku takan pernah mau mengubahnya"
"Te... Terimakasih Arga" Kanay memeluk erat tubuh Arga dengan perasaan campur aduk.
Saat ini ia bear benar merasa sangat takit jika sampai Arga mengetahui identitas aslinya bukanlah Rindu melainkan Kanaya.
"Oh ya, ngomong ngomong apa aku tak mau menemui ayah kandung mu?"
Kanaya membukatkan matanya mendengar ucapan Arga tentang orang tua Rindu. Kanaya bahkan lupa tak menanyakan nama asli dari ayah Rindu pada ayahnya sendiri.
"Ah, itu...itu...itu nanti akan aku temui sendiri. Aku benar benar lupa dengan mereka sebab saat aku di culik umurku kan masih sangat kecil" Kanaya tersenyum mencoba meyakinkan Arga yang sat ini tengah menatao tajam padanya.
"Bailah kalau begitu. Nanti akan aku coba tanyakan pada Om Dirga, apakah ia ada di kota ini atau tidak. Jika saja ia tahu putrinya sudah ketemu, maka ia pasti akan sangat senang dan sangat bahagia sebab bisa kembaki berkumpul dengan putri satu satunya yang selalu ia cari"
Kanaya hanya bisa menganggukan kepala menimpali setiap ucapan Arga yang begitu membingungkan untuknya. Kanaya benar benar tak tahu sedikitoun tentang keluarga Rindu yang asli sebab ia tak pernah di berikan pengajaran tentang keluarga Rindu yang asli.
Lalu apa yang harus dilakukan oleh Kanaya saat ini. Ia bahkan tak bisa bertanya pada Liyani yang merupakan Rindu yang asli sebab ia mengalami amnesia. Lagi pula jika ia menanyakan hal demikian pada gadis tersebut, Kanaya sama saya sedang emnggali kuburannya sendiri di rumah ini.
"Ashhhhhh sakit" Kanaya memegang kepalanya yang baik baik saja.
__ADS_1
Ia berpura pura sakit untuk menghindari pertanyaan Arga yang lebih jauh lagi mengenai orang tua Rindu yanga asli. Namun, Arga kini mulau tahu, bahwa gadis di hadapannya benar benar bukanlah Rindu yang ia cari.