
Dirumah besar nan mewah ini gadis yang mengaku sebagai Rindu mulai tersenyum kala melihat foto di dinding yang menunjukan sebuah keluarga yang tengah tersenyum bahagia disana. Wanita itu mulai mengusap pelan foto Arga dan menciumnya sekilas.
"Kukira kau takan setampan ini Arga. Sejak dulu aku sangat enggan dekat dengamu bahkan aku jijik ketika para anak yang menjodohkan kita disekolah. Ku tahu aku sangat cantik dan kau sangat kaya, tapi saat kecil kau sangat culun dan mengerikan" Rindu bergumam seraya menatap wajah Arga di dalam foto.
"Ku tahu saat kecil kau sangat pendiam, namun saat dewasa kau bahkan tumbuh menjadi seorang pria yang dingin dan sangat memuja muja gadis bernama Rindu. Sayangnya kau salah Arga, kau salah menilaiku. Tanda yang ayah buat serta semua rekayasa yang ayah buat untuk menghancurkanmu lewat diriku kini berhasil membuatmu tunduk. Ku datang dengan identitas wanita yang kau cari, dan kau percaya begitu saja. Kau tampan tapi cukup bodoh Arga. Kau anggap aku Rindu tapi sebenarnya aku adalah Kanaya. Ya, Kanaya"
Gadis itu tertawa sendiri kala mengatakan semua hal itu pada foto Arga didepannya. Andaikan saja Arga tahu tentang identitas wanita didepannya, maka Arga takan segan segan membunuh gadis itu dengan sekali cekikan.
Gadis yang mengaku sebagai Rindu ternyata adalah Kanaya, teman sekelas Arga dan Rindu di saat sekolah dasar dulu yang merupakan gadis tercantik disekolah tersebut. Saat kecil Arga adalah pria yang cukup menyedihkan, penyendiri dan sangat sulit bergaul dengan siapapun kecuali Rindu.
Bahkan saat teman sebayanya meledek Kanaya sebagai pacar Arga, Kanaya langsung mengahampiri anak lelaki yang tengah terduduk sendirian dan melemparnya dengan sepotong roti coklat hingga mengotori pakaian yang Arga kenakan.
Rindu yang menatap hal itu pun segera mendorong Kanaya dengan keras hingga gadis itu terjatuh dan menangis dengan keras. Rindu saat itu adalah gadis pemberani dan sangat lugu. Ia bahkan tak segan segan meninju wajah anak pria yang berani menyakiti Arga.
Saat itulah, Kanaya sengaja di pindahkan oleh ayah serta ibunya yang merupakan rekan bisnis Arga menuju kota yang tak pernah diketahui siapapun. Hingga semuanya terungkap, ternyata gadis yang mengaku sebagai Rindu adalah Kanaya sang gadis cantik yang sengaja diperintahkan oleh ayahnya untuk mengambil alih perusahaan Arga dan membuat Arga hancur seperti ayah dan ibunya yang mati terbantai.
Ayah Kanaya merupakan salah satu pelaku yang menjadi otak pembantaian keluarga Arga saat dulu dan ia sengaja menculik Rindu saat kecil karena ia pun sudah memiliki rencana pada Arga dan Rindu yang asli.
Ayah Kanaya sengaja menculik Rindu agar anaknyalah yang bisa bersanding dengan Arga sebab ia tahu bahwa Arga terlihat tak bisa berteman dengan siapapun kecuali Rindu. Dan yang paling utama adalah ayah dari Rindu pun memiliki rahasia besar terkait pembantaian keluarga Arga.
"Kau sedang apa?" tanya Liyani pada Rindu yang saat ini tengah tertawa sendirian.
"Ah, ak..aku..aku hanya sedang melihat foto masa kecil Arga. Kau sendiri mau kemana?"
Liyani mendekat ke arah wanita yang mengaku sebagai Rindu dan mulai tersenyum pada gadis dihadapannya tersebut.
__ADS_1
"Aku ingin menemuimu untuk mengajakmu makan malam. Ku tahu kau pasti berfikir bahwa aku ada hubungan dengan Arga karena aku tinggal disini. Tapi ketahuilah jika aku dan dia tak ada hubungan apapun. Aku benar benar sepupu jauhnya saja. Kau percayakan?" Liyani menatap Kanaya penuh pengharapan.
Liyani sungguh tak ingin jika gadis didepannya ragu dengan pernikahan yang Arga inginkan. Bahkan, Liyani pun takut jika Rindu palsu membatalkan semuanya dan meninggalkan Arga lagi.
Kanaya memegang tangan Liyani dan mulai mengajaknya untuk duduk diatas kursi.
"Kau tahu Liy, saat kita kecil dulu. Kau adalah anak yang kuat. Kau bahkan masih bisa bergerak dan hidup padahal semua preman yang menculik kita sudah memukul kepalamu dengan keras"
Liyani yang mendengar perkataan Rindu pun mulai memegang belakang kepalanya yang masih terdapat luka bekas jahitan akibat pendarahan ditempurung kepalanya.
"Aku ingat itu Rin. Bahkan aku masih ingat rasa sakit yang dibuat oleh para penculik itu walaupun kejadiannya sudah lama. Namun sayang, aku tak mengingat siapa orang tua kandungku dan aku tak ingat kejadian sebelum aku diculik" Liyani menundukan kepalanya dan mulai terlihat bersedih.
"Sudahlah Liy, mungkin orang tuamu masih hidup, namun mereka pun tak bisa menemukanmu karena kau dan aku saat itu di adopsi di keluarga yang berada di desa terpencil. Jangankan televisi, mobil dsn motorpun didesa kita tak ada Liy. Jadi mungkin saja orang tuamu sudah iklas dengan kehilanganmu"
Liyani semakin sedih dengan ucapan yang dikatakan oleh Rindu.
Kanaya terhenyak. Ia bahkan tak membicarakan ini pada ayahnya. Ia benar benar lupa mengabari ayahnya bahwa saat ini ia bersama Rindu yang asli.
"Ah, itu. Itu mungkin bisa saja. Tapi bagaimana kau yakin bahwa orang tuamu ada dikota ini? Ma..maksudku mana mungkin kau yakin bahwa mereka masih ingat denganmu?"
"Hati Rin. Hatiku masih berkata bahwa ayah dan ibu kandungku masih hidup saat ini. Dan aku akn bertekad menemukannya apapun yang terjadi"
Kanaya mulai mengambil ponselnya dibalik saku celana. Ia mulai melihat jam yang tertera disana dan akan berusaha menghubungi ayahnya agar menyiapkan sebuah rencana.
Tok! Tok! Tok!
__ADS_1
Pintu diketuk dengan keras, diiringi dengan suara bunyi bel yang ditekan cukup lama.
Liyani dan Rindu palsu segera berjalan menuju pintu, namiun keduanya terdiam kala pembantu dirumah tersebut membuka pintu dan menampilkan dua orang pria tampan kini sedang berdiri didepan sana.
"Arga" gumam Kanaya pelan.
Kanaya mulai berlari menuju Arga dan menatap pria asing yang kini berada disampingnya.
"Hallo Nona" ucap Dion dengan semangat.
Tiba tiba saja Kanaya diam membisu kala menyadari bahwa pria yang saat ini bersama Arga adalah pria yang pernah ia temui di salah satu club pusat kota. Kanaya bahkan pernah mengantar pria tersebut ke rumahnya disaat Dion dalam keadaan mabuk berat.
"Tunggu sebentar" Dion mulai sadar dengan wanita yang ada didepannya.
"Dia siapa Arga?" tanya Dion dengan penasaran.
Arga melangkahkan kaki menuju Kanaya dan merangkulnya dengan mesra.
"Perkenalkan, dia Rindu. Gadis yang selama ini ku cari dan yang paling kucintai" Arga berkata dengan perasan tak karuan.
"Tapi aku pernah melihatnya Ga. Aku pernah bertemu dengannya disuatu tempat, tapi aku lupa dimana itu"
Kanaya mulai terlihat kelimpungan, ia takut bahwa Dion mengatakn hal yang sebenarnya.
"Ah, ya benar, benar. Kita pernah bertemu di jalan" Kanaya mulai terlihat panik .
__ADS_1
"Bukan, kita bukan bertemu dijalan. Tapi kita bertemu di.."
"Sudah lah Dion kau jangan menghayal. Sudah jelas bahwa Rindu baru saja ke kota ini dan aku yang pertama bertemu dengannya. Jadi kau jangan mengatakan hal yang aneh aneh. Sekarang kau cepatlah makan dan pulang" Arga menyela perkataan Dion dan menarik tangannya dengan kencang.