Takdir Cinta Ceo Psyco

Takdir Cinta Ceo Psyco
Masa Lalu


__ADS_3

Pov Liyani


Kutatap pria asing yang menolongku kemarin. Dia begitu tampan dan baik hati. Tak pernah terlintas sedikitpun untuk aku bisa menyukai Tuan Arga yang terlihaat sangat sempurna ini.


Aku hanya upik abu yang memiliki nasib yang baik bisa bertemu dengan pri asing berhati emas sepertinya. Pakaian yang ia berikan padaku sangat indah dan membuatku jauh lebih percaya diri dengan penampilanku.


Banyak sekali perhatian yang dia berikan padaku, yang selalu membuatku luluh dan berharap bahwa dia adalah pangeran yang tuhan ciptakan untukku.


Namun sayang, ternyata dia tengah mencari kekasih hatinya yang tak lain adalah sahabat kecilku dulu.


Hari hari kami lalui bersama. Walaupun aku memanggilnya dengan sebutan tuan, tapi jauh dilubuk hatiku, aku ingin sekali memanggil namanya walaupun hanya dengan status sahabat.


Sungguh beruntung sekali Rindu, memiliki pria yang setia mencarinya sampai detik ini.


Malam malam kulalui dengan mimpi yang sama. Dalam mimpi, ku menangis dan terus menangis agar sang pelaku penculikan bisa membebaskanku dari ruangan yang gelap ini.


"Tolong lepaskan aku, aku gak mau disini. Kumohon lepaskan aku" teriakku dengan sangat keras.


Tak berselang lama datang seorang pria membawa seorang anak perempuan yang seumuran denganku yang akhirnya kutahu namanya adalah Rindu.


"Jangan menangis, aku ada disini" ucapnya seraya memeluk tubuhku.


Kurasakan kehangatan dan kedamaian saat berada didalam pelukannya. Tawa canda kami lakukan didalam ruangan yang sempit ini. Tak dapat kuingat kejadian sebelum aku berada ditempat ini. Yang ku ingat hanya saat aku pergi sekolah dan tiba tiba ada pria manarik paksa tubuhku serta memukul kepalaku.


Hari hari berganti. Siang malam kami hanya dibiarkan pergi ke kamar mandi untuk buang air dan mandi saja.


"Pak, Liyani kebelet pengen pipis katanya" ujar Rindu pada salah satu pelaku penculikan"

__ADS_1


"Awas kalau bohong"


Tatapan sangar terukir diwajah garang sang penculik. Aku yang gemetar hanya bisa menunduk dan mulai melangkahkan kaki menuju pintu. Hingga saat aku keluar kamar mandi aku mendapat pukulan tepat dikepala yang akhirnya membuatku pandanganku gelap.


Aku terbangun dengan nafas yang cepat dan keringat yang sudah membajiri tubuhku.


Mimpi buruk yang selalu membuatku takut akan sosok pria asing.


Kuingat, saat aku terbangun dari kejadian pemukulan itu, aku sudah berada dirumah ayah dan ibu dikampung yanh tak sengaja menemukanku ditepi sungai.


"Alhamdulillah dia sudah sadar bu" ucap ayah dengan senyum yang menggembang.


"Masa pak? Ya Allah, alhamdulillah dia sudah sadar pak" jawab ibu seraya membawa mangkok berisi air kompresan.


"Nak, nama kamu siapa?"


Lama aku berfikir hingga kutanyakan seragam yang aku pakai saat mereka temukan sebab kini aku sudah berganti pakaian.


"Oh iya, bu ambil baju tadi yang ibu cuci. Lalu lihat ada namanya atau tidak. Mungkin saja dia hilang ingatan bu"


Ibu pun pergi berlalu meninggalkan kami menuju belakang rumah. Terlihat dia tertatih tatih seraya memegang seragamku yang basah ditangannya.


"Ini pak, disini ada namanya. Liyani Rindu dan ada tulisan P diakhirnya"


"Ya sudah, jadi nama kamu Liyani toh nduk. Kalau rumahmu dimana? dan akhir nama kamu siapa?" tanya pria paruh baya didepanku.


Kuingat setiap kejadian yang menimpaku. Tak ada kejelasan diingatanku hanya rasa sakit yang mampu kurasakan kini jika mengingat semua itu. Mungkin karna dua kali pukulan para penculik yang membuatku sekarang berada dirumah ini.

__ADS_1


"Ya sudah kamu istirahat saja. Jangan terlalu banyak mengingat. Nanti kalau ingat sesuatu beritahu kami ya nduk"


Tak berselang lama ada beberapa warga berteriak ke arah rumah ini.


"Pak Karim, mau lihat ndak didesa sebelah ditemukan anak kecil yang hanyut disungai" ucap pemuda didepan pintu.


"Astagfirullah, ada lagi anak yang ditemukan disungai? benar benar jaman edan. Banyak penculikan dan tindak kejahatan disini. Baru juga aku menemukan Liyani sekarang ada lagi anak yang ditemukan sama persis disungai Bedukan. Ya sudah bu, bapak mau pergi dulu lihat anak itu. Siapa tahu ada informasi mengenai Liyani. Kasihan dia, pasti ibu bapaknya nyariin."


Senyum manis yang ibu berikan pada bapak. Hingga pria paruh baya itupun pergi bersama pemuda yang tadi untuk melihat gadis kecil yang dimaksud.


Malam pun datang. Suara ketukan dari arah luar membuat ibu bangkit dan berjalan kerah sumber suara.


"Assalamualaikum bu" ucap ayah.


"Waalaikum salam pak. Gimana? ada informasi gak mengenai anak itu? atau ada informasi mengenai Liyani ?" sambut ibu.


"Itu dia bu. Bapak gak nemu informasi tentang Liyani. Dan mengenai anak yang tadi ditemukan, dia memiliki nama yang sama dengan Liyani. Jangan janagn dia kembar bu"


Aku yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan pria paruh baya itu, mulai bangkit dan bertanya padanya.


"Maaf pak, siapa nama gadis itu?"


"Namanya Liyani Rindu Prasasti. Dia ditemukan oleh juragan Kardi pemilik perkebunan dan katanya akan diadopsi. Apakah kau kembar dengan anak itu?"


Kugelengkan kepala dan berkata tidak.


"Tidak pak, aku mengingat dia. Aku ingat saat itu kami ditempatkan diruangan yang sama. Selain itu aku tak ingat apa apa"

__ADS_1


"Ya sudah kalau gitu. Nanti kalau kamu sembuh, saya akan antar kamu menemui anak itu. Mungkin saja dia tahu tentang kamu. Sekarang kamu tinggal saja disini bersama kami. Kebetulan kami tak punya anak. Jadi kamu boleh memanggil kami ayah dan ibu sampai kamu menemukan orang tua kandungmu" diusapnya pucuk kepalaku dengan lembut. Mengalir darahku merasakan kasih sayang mereka berdua.


Hari hari kulalui dengan canda tawa bersama mereka. Tak lupa ku kunjungi Rindu dan bermain dirumah mewahnya. Kami saling bertukar cerita dan bertukar mainan. Baju Rindu yang sudah tak terpakai, dia berikan padaku. Dan akupun sangat senang bisa memakai baju bagus pemberiannya.


__ADS_2