Takdir Cinta Ceo Psyco

Takdir Cinta Ceo Psyco
Berdebar


__ADS_3

Pagi yang cerah menampilkan sang fajar yang kini mulai tepat menyorot mata gadis cantik yang masih terlelap. Angin yang lembut seakan berbisik di telinga Liyani yang masih pulas tertidur hingga membuatnya kini mulai membuka matanya secara perlahan.


Bola mata yang indah, serta wajahnya yang cantik rupawan mampu membuat siapapun yang memandangnya pasti sangat tergila gila pada Liyani. Gadis manis nan lugu itu mulai bangkit dan melangkahkan kaki menuju kamar mandi.


Tanpa ia sadari ia bahkan lupa membawa anduk dan langsung membuka bajunya untuk segera membasuh seluruh tubuhnya dengan keringat. Air dingin yang mengalir di setiap inci tubuhnya, membuat Liyani memajamkan mata menikmati setiap sentuhan yang air itu berikan pada tubuhnya.


Harum sabun mandi yang sudah tersedia dikamar mandi sungguh Liyani senang sebab ia selama ini tak pernah mendapatkan sabn mandi mewah seperti yang Arga sediakan untuknya.


Saat air keran dimatikan Liyani mulai mencari cari handuk yang selama ini ia pakai di rumah Arga dan ia pun ingat bahwa dirinya lupa membawa handuk.


"Astaga aku lupa" Liyani menepuk jidatnya dan mulai memakai kembali dres semalam yang ia pakai.


Rambut basah yang terurai, serta tubuhnya yang juga masih basah dengan air shower membuat siapapun lelaki yang mungkin menatap Liyani saat ini pasti akan tergoda.


Tak terkecuali Arga yang saat ini diam mematung menatap kecantikan Liyani di hadapannya. Arga terkejut dan mulai menelan saliva ketika melihat keadaan Liyani yang begitu menggodanya dengan rambut basah yang terurai.


Liyani yang masih belum sadar akan kehadiran Arga mulai membuka lemari kamarnya dan mengambil handuk yang sebelumnya ia letakan.


"Akhirnya ketemu juga"


Gadis itu mulai mencoba mengeringkan rambutnya dengan handuk dan membawa pakaian yang ada didalam lemari untuk ia kenakan. Sampai saat Liyani akan membuka pakaiannya, ia melempar handuk yang ia kenakan sebelumnya tepat mengenai wajah Arga yang tediam.


Arga mengambil handuk di wajahnya dan ketika ia ingin memarahi Liyani, sontak saja ia malah berteriak sebab Liyani tengah berusaha mengangkat bajunya untuk dilepaskan.


"Ahhhhhkkkk!" teriak Arga dengan keras.


Liyani pun yang terkejut ikut berteriak seraya memandang Arga dan dirinya yang masih lengkap dengan dres merah yang masih menempel ditubuhnya.


"Ahhkkk." Liyani yang ikut berteriak pun membuat Arga segera membalikan tubuhnya dan melemparkan handuk ke arah Liyani berdiri.


"Jika ingin masui kedalam kamar wanita setidaknya ucapkan salam ataupun mengetuk terlebih dahulu!" ucap Liyani kesal seraya membelakangi Arga.


Arga yang saat ini dengan posisi membelakangi Liyani pun kesal dan mulai mengajak gadis itu untuk berdebat.


"Ini rumahku dan aku berhak untuk masuk kedalam ruangan manapun. Jika kau memang wanita setidaknya ganti pakaian didalam kamar mandi jangan disini"

__ADS_1


Liyani yang mendengar jawaban Arga pun kesal dan mulai menatap tubuh pria tersebut.


"Eh tunggu dulu! Kau datang ke kamar ini dengan tiba tiba sehingga aku pun tak tahu kau ada di sini. Lagi pula jika aku berganti pakaian disini apakah menjadi masalah? Toh aku juga menutup pintunya tadi sebelum kau masuk tanpa ijin"


Arga pun mulai membalikan badan dan kini mereka pun saling berhadapan satu sama lain.


"Ish dasar wanita tak tahu terimakasih. Sudah jelas ini ruamahku. Aku bebas masuk kemanapun yang aku mau. Tanpa izin tanpa ketuk, aku bebas masuk kemanapun yang aku mau. Justru kau yang salah, kau sudah ku berikan fasilitas lengkap disini setidaknya kunci pintu terlebih dahulu. Untung saja aku yang masuk"


"Untung? Kau sudah gila ya?! Untung darimananya coba? Kau sebentar lagi akan melihat tubuhku dan kau bilang untung kau yang masuk? Ahh sungguh pria mesum"


Arga yang tak terima dijuluki pria mesum, segera melangkahkan kaki mendekati Liyani hingga wanita itu terkantuk di dinding kamar.


Jarak wajah Arga dan Liyani begitu dekat sehingga gadis itu pun terdiam tak mampu mengatakan sepatah katapun karena gugup.


Rambut basah yang terurai serta aroma dari sabun yang Liyani pakai sungguh membuat Liyani tampak begitu menarik perhatian Arga.


Pria itu hanya menatap wajah cantik Liyani tanpa mengatakan apapun hingga tak lama kemudian ia pun mulai mencoba mendekatkan lagi wajahnya pada Liyani.


"Kau berani memarahiku dan kau membentakku. Kau mungkin akan menjadi mangsaku nanti LIYANI"


"Kumohon menjauhlah dariku tuan" Liyani menatap Arga penuh pengharapan.


Gadis itu terlihat ketakutan dengan Arga yang hanya berjarak beberapa senti darinya.


"Ku kira kau suka untukku dekati" Arga berbisik ditelinga Liyani dan kemudian berjalan menuju pintu kamar untuk pergi.


"Kunci pintunya dengan benar. Aku takan menjamin dirimu nanti ketika aku tak sengaja melihat bagian tubuhmu. Ingat Liyani! Aku seorang pria normal. Walaupun aku sangat mencintai Rindu tapi aku tak mampu berjanji untuk tak tertarik pada dirimu" Arga mengedipkan matanya kearah Liyani.


Liyani pun segera berjalan menuju pintu dan menutupnya dengan keras lalu menguncinya dengan sangat rapat.


"Uh untung saja"


Liyani segera mengambil pakaian didalam lemari dan membwanya kedalam kamar mandi. Ia lalu memakai pakaian yang sebelumnya sudah disiapkan Arga sebelumnya dan mematut diriya di cermin.


"Cantik" gumam Liyani pelan.

__ADS_1


Baju peninggalan ibu Arga memang masih sangat bagus dan cantik. Terlebih lagi Liyani yang memiliki tubuh ideal dan semampai, membuatnya begitu cocok menggenakan pakaian apapun.


Tanpa riasan sedikitpun diwajahnya Liyani tampak begitu sempurna dan cantik sampai sampai pada saat ia datang menuju ruang tamu, Arga yang tengah meninum secangkkr kopi pun tersedak dan menumpahkan sedikit kopinya ke atas sofa.


"Uhukkkm uhukk"


Liyani berlari mengambil air putih diatas meja makan dan memberikannya pada Arga.


"Tuan tak papa?" tanyanya panik.


Arga mengambil air ditangan Liyani dan segera menegaknya sampai habis. Ia sungguh terkejut dengan penampilan Liyani yang begitu natur namun sangat cantik.


"Ka...kau temukan baju itu darimana ?" tanya Arga yang salah tingkah.


Liyani melihat pakaian yang ia kenakan dan mulai mengambil gelas kosong ditangan Arga.


"Saya temukan baju ini didalam lemari. Ini kan yang tuan suruh pakai pada saya. Apa tuan lupa"


Arga memang benar benar lupa telah memberikan baju almarhumah ibunya pada Liyani. Pria itu benar benar sangat merasa gelisah setiap kali melihat Liyani yang begitu cantik.


Arga sungguh takut, hatinya akan mencintai Liyani dan bukannya Rindu yang selama ini ia cari.


"Ya sudah saya pergi ke kantor dulu. Tolong katakan pada Rindu saya pergi bekerja. Kau jangan lupa sarapan bersamanya. Saya pergi"


Arga berjalan meninggalkan Liyani. Namun gadis itu berteriak kembali memanggilnya.


"Tunggu tuan! Tapi apa tuan tak mau sarapan dulu?"


Manik mata keduanya kembali bertemu, Arga bahkan tak mampu menatap mata Liyani sehingga ia memilih untuk menatap jam ditangannya.


"Aku sudah telat. Kalian makan saja berdua. Dan jangan lupa ajak para pelayan juga untuk makan. Permisi" Arga berbalik dsn berjalan cepat menuju luar rumah.


Arga tak henti hentinya memegang dadanya untuk mereda degup jantungnya yang begitu berdebar dengan kencang.


"Ck sial!" gumamnya pelan

__ADS_1


__ADS_2