
Arga dan Dion kini tampak sedang memperhatikan Liyani yang masih saja menutup matanya. Kesadarannya belum sepenuhnya kembali bahkan saat ini kepala Liyani masih sangat terasa sakit.
Gadis itu bahkan tak bisa membuka matanya sebab rasa trauma yang ia alami di bagian kepalanya sangat parah.
"Aku benar benar tertarik pada wanita ini" Dion membuka percakapan dirinya dan Arga.
Arga yang mendengar ucapan Dion pun hanya bisa menatap wajah pria itu dengan datar. Ia benar benar tak pernah mengira bahwa sepupunya itu memiliki kepribadian yang sangat agresif dan to the point.
"Kau baru melihatnya sekali dan mengatakn tertarik padanya. Kau bahkan belum tahu sikap serta sifatnya yang sebenarnya"
Kanaya yang masih saja berpura pura sebagai Rindu kini tengah bersantai didalam kamarnya dan mulai membayangkan kehidupannya setelah menikahi Arga. Ia bahkan tak tahu bahwa Arga saat ini tengah mencari tahu identitas aslinya seperti apa.
"Kau bahkan tak tahu bahwa aku sebanrnya adalah Kanaya Arga, kau benar benar lugu dan juga bodoh. Kau bahkan tak mengenali Rindu yang selama ini kau cari dengan baik. Kau pria tampan dengan IQ yang sangat rendah" Kanaya teratawa seraya mulai mencpba menghubungi ayahnya.
Ia bahkan dengan tenang menghubungi ayahnya dan merencanakan solusi untuk masalahnya tersebut. Ia kini mulai membicarakan hal penting dengan ayahnya mengenai ayah serta ibu kandung Rindu.
"Bagaimana dengan kondisi ayah serta ibunya Rindu yang asli ayah? Bagaimana jika Arga mengetahui bahwa aku bukanlah Rindu yang asli"
"Tenang saja sayang. Ayah sudah merencanakan ini selama belasan tahun. Dan rencana ayah sudah sangat matang. Arga bahkan tak mengenalimu dan mengira bahwa kau adalah Rindu yang selama ini ia cari. Kau hanya perlu diam dan ikuti saja apa yang ayah katakan"
"Oh ya, tapi aku punya hal mengejutkan ayah"
"Apa itu nak?"
"Rindu yang asli kini ada di rumah Arga"
Ucapan Kanaya sontak saja membuat ayahnya panik dan ketakutan. Rencana yang selama ini ia susun rapih sebentar lagi akan hancur bahkan sebelum Arga memberikan kekayaan serta perusahaannya pada putrinya tersebut.
"Apa? Bagaimana mungkin dia ada disana? Ini adalah hal yang paling konyol yang pernah kudengar"
__ADS_1
"Benar ayah. Rindu yang asli kini ada bersamaku, namun untungnya saat ayah menyuruh para preman menculiknya dulu, Rindu dipukul dengan sangat keras dibagian kepalanya. Rindu kini mengalami amnesia dan tak ingat apapun tentang jati diri serta Arga"
"Apa kau sedang bercanda?"
Kanaya tertawa dengan pelan dan mulai menghela nafasnya.
"Ayahku sayang, putrimu ini takan pernah berbohong padamu. Aku mengatakan hal yang sebenarnya. Rindu yang asli telah kehilangan memorinya bahkan kehilangan ingatan tentang jati dirinya. Maka dari itu ayah jangan khawatir. Arga sebentar lagi akan melamarku dan menikahiku"
Tok! Tok! Tok.
Pintu diketuk dengan kencang, Kanaya yang saat ini tengah berbincang dengan ayahnya ditelpon mulai panik dan segera mematikan telponnya.
"Nanti akan ku hubungi ayah kembali. Ayah jaga diri baik baik"
"Iya nak. Kau juga jaga diri baik baik"
Tutttt.
Seorang pria kini tengah menatapnya dengan datar. Pria itu bahkan tak menampilkan kasih sayang yang selama ini ia tunjukan pada kanaya yang mengaku sebagai Rindu.
"Ah, ka..kau ada disini? Apa kau butuh sesuatu Arga?" tanya Kanaya dengan panik.
"Aku kesini hanya untuk memastikan kau tak kembali pergi dari hidupku"
"Ah, Arga kau manis sekali. Tenang saja Arga, aku takan meninggalkanmu lagi. Aku janji" Kanaya memeluk Arga dengan sanhat manja.
Berbeda dengan Arga yang hanya menatapnya sekilas dan tak mau membalas pelukannya tersebut.
"Aku harus pergi menjaga Liyani. Kau mau ikut?" tanya Arga pada Kanaya.
__ADS_1
"Aku akan duduk saja disini. Aku sungguh mengantuk Arga"
"Oh begitu ya. Padahal ini masih terlalu awal untuk tidur. Tapi kau tidurlah, aku tak ingin kau sakit" Arga mengelus pipi Kanaya sehingga membuat wanita itu tampak bahagia dan luluh seketika.
"Ya sudah aku pergi dulu ya" Arga pergi menuju kamar liyani.
Ia pergi begitu saja meninggalkan sosok wanita yang masih ia curigai dengan perasaan yang sangat campur aduk. Arga benar benar tak mengerti kenapa wanita yang mengaku sebagai Rindu bisa seacuh itu pada sahabat lamanya.
Arga harus segera mencari tahu identitas asli gadis yang saat ini berada dirumahnya sebelun ia masuk kedalam jebakan yang mungkin saja sudah disiapkan oleh musuh bisnisnya.
Ting!
Bunyi notifasi sebuah pesan masuk kedalam ponsel Arga. Pria itu menghentikan langkahnya dan mengambil ponsel dibalik saku celananya.
[Saya belum menemukan identitas asli wanita yang saat ini tengah dirumah anda. Namun, saya dapat informasi penting bahwa wanita itu memang benar mengalami penculikan dan diadopsi oleh saudagar kaya di desa terpencil]
Arga membalas pesan singkat itu dengan rasa kesal. Ia tak bisa menunggu lebih lama lagi untuk mengetahu apakah dia benar Rindu yang asli ataukah bukan.
[Cepat kau cari identitas asli wanita itu dan jangan sampai kau berikan informasi palsu. Oh ya apakah kau sudah temukan identitas tentang gadis yang bernama Liyani?]
[Baik tuan. Untuk informasi gadis yang bernama Liyani saya hanya mendapatkan informasi bahwa gadis itu kemungkinan berasal dari desa yang sama dengan gadis yang mengaku sebagai Rindu. Saya mendaoatkan informasi bahwa kedua angkat wanita bernama Liyani sudah lama tiada dan beberapa tahun silam, gadis itu juga pernah dijual paksa oleh bibi serta pamannya ke sebuah club malam di pusat kota, namun ia berhasil keluar dengan bantuan dari pengusaha ternama yang masih belum dimetahui identitasnya]
"Pengusaha?" Gumam Arga pelan.
Ini informasi yang sangat penting untuk Arga. Jadi apa yang sudah dijelaskan oleh Liyani dan gadis bernama Rindu itu memang nyata. Mereka berdua berasal dari desa yang sama dan memiliki orang tua angkat yang sangat berbeda. Namun, Arga cukup terkejut dengan faktas bahwa Liyani pernah menjadi seorang wanita penghibur disalah satu club malam.
Dan Arga pun mengira bahwa Liyani tak sepolos yang ia kira bahkan ia juga mengira bahwa Liyani pernah disentuh oleh beberapa pria.
"Ternyata kau hanya berpura pura dihadapanku. Ini sungguh keterlaluan" Arga mengepalkan tangan menahan amarah yang mulai memuncak pada dirinya.
__ADS_1
Ia tak pernah mengira bahwa gadis yang terlihat polos dan lugu itu ternyata pernah menjajakan diri disebuah tempat kotor yang sering ia kunjungi. Walau bagaimanapun, selama Arga pergi ke club malam diberbagai kota, ia tak pernah sekalipun menyentuh wanita manapun. Bagi Arga, cium**n pertama serta sentuhan yang pertama akan ia lakukan pada cinta sejatinya dan tentunya itu pada Rindu yang selau ia cari.