
Arga memarkirkan mobilnya di depan kantor yang ia miliki. Ceo muda itu kini melangkahkan kakinya menuju lobi kantor dan terlihat banyak sekali orang yang merupakan bawahannya telah setia menunggu Arga hanya untuk memerinya sambutan.
"Selamat pagi Tuan Arga" ucap para pegawai serempak.
Arga berjalan dengan tubuh yang tegap serta pandangan yang lurus. Ia hanya perlu mengangkat tangannya untuk menjawab semua sambutan dari para bawahannya.
Lain halnya kala ia bertemu dengan Dion, sekertaris muda yang merupakan anak dari pamannya sendiri.
"Tumben datang sepagi ini" ucap pria itu kala berpapasan dengan Argan didalam lift.
Arga menatap pria itu sekilas lalu melihat kearah jarum jam yang masih menunjukan pukul setengah tujuh pagi.
"Semua ini gara gara wanita itu" gumam Arga pelan.
"Wanita? Sejak kapan kau menyembunyikan seorang wanita di rumahmu? Kau sering berkata ingin sekali menemukan Rindu, lalu kenapa kau malah menyimpan seorang wanita di rumah? Ckckck Arga Arga kau benar benar pria normal"
"Kau bilang aku pria normal? Lalu sejak kemarin aku pria seperti apa hah? Apa kau pikir aku seorang ga**?"
"Ya ku pikir kau begitu"
"Baiklah jika memang kau menilaiku seperti itu. Sini biar ku cium kau" Arga segera meraih wajah Dion yang berada disampingnya.
Lift terus berjalan membawa Arga dan Dion menuju ruangan mereka masing masing. Sampai saat lift terbuka, beberapa pasang mata kini tengah menatap aneh serta terkejut pada Arga yang tengah mencium pipi Dion.
Semua karyawan Arga yang melihat kejadian ini langsung bubar dan tak jadi naik lift karena malu serta canggung. Mereka bahkan mengira bahwa Arga memang benar benar seorang ga* dan pasangannya adalah Dion.
"Lihat apa yang akan mereka bicarakan selanjutnya Arga!" Dion membenarkan dasinya yang sedikit miring.
Arga hanya tersenyum menatap Dion yang diam dan kesal.
"Lihat saja sejauh mana mereka akan menggosipkan kita Dion. Aku akan pastikan takan ada yang berani membicarakan hal ini pada orang lain. Jika pun ada yang menyebarkan rumor kita sepasang kekasih, lalu apa salahnya? Kulihat kau sangat senang"
"Dasar pria aneh! Jauhi diriku Arga!" Dion segera meninggalkan lift dan hanya menyisakan Arga yang tertawa terbahak bahak didalamnya.
Arga mulai kembali merapihkan pakaiannya serta rambutnya agar terlihat sopan. Ia pun kembali menekan tombol lift agar segera maju menuju koridor ruangan tempat dirinya bekerja.
__ADS_1
Ting!
Pintu lift terbuka dengan lebar, Arga perhi berlalu menuju ruangan tempatnya berada dengan perasaan senang serta gembira.
Entah kenapa hatinya menjadi begitu lebih bahagia setelah melakukan hal aneh pagi tadi dirumahnya. Arga tak bisa berhenti memikirkan wajah Liyani yang memarh menahan kesal serta malu.
Bahkan Arga pun mulai tersenyum sendiri ketika mengingat dirinya yang tak sengaja melihat lekuk tubuh Liyani yang hanya menggunakan dres merah basah serta rambutnya yang terurai.
"Wanita itu sungguh membuat kepalaku tak bisa berfikir jernih"
Arga membuka tas kerjanya dan segera membuka semua berkas yang sudah ia siapkan untuk rapat sebelumnya. Ia bahkan membuka beberapa file penting yang sebentar lagi akan ia tanda tangani sebagai tanda kerja samanya dengan perusahaan seorang pengusaha muda..
"Ini berkas harus segera ku selesaikan hari ini juga. Bahkan sebentar lagi aku harus pergi meeting dengan pemilik perusahaan Wishtown sebelum ia kesal dan membatalkan kerjasama bernilai milyaran ini"
Arga segera membereskan semua berkasnya dengan teliti sebelum ia memberikannya nanti di presentasi. Ia bahkan dengan tekun melihat setiap huruf yang sudah du buat oleh sekertarisnya itu dan segera merapihkan berkasnya kembali.
"Ini sudah siap dan saatnya aku pergi ke ruang rapat"
Arga berjalan melewati beberapa ruang pegawainya dan kini ia sudah tiba di ruang rapat. Ia terus mremandangi jam di tangannya menunggu kehadiran pemilik perusahaan Wishtown yang baru setelah kematian pemilik sebelumnya.
"Kau sudah datang?" tanyanya heran.
"Ya, lalu harus kapan aku datang keruangan ini? Kenapa kau sangat gugup bertemu denganku? Apakah rumornya sudah menyebar?"
Dengan santai Arga duduk seraya memegang kepalanya dan tertawa melihat ekspresi yang ditunjukan Dion.
"Kumohon jangan bertingkah seperti ini Arga! Kau itu pria normal" Mata Dion terlihat mulai berkaca kaca.
Ia sungguh muak melihat raut wajah yang ditunjukan .
"Aku memang normal dan kau mungkin tidak" Arga kini mulai duduk dengan sikap sopan dan mulai menyuruh Dion untuk duduk disampingnya.
"Kau benar benar normalkan? Tanya Dion meyakinkan.
"Kau butuh bukti apa jika aku benar benar normal. Aku sungguh tak menyukai pria apalagi sepertimu. Kau bahkan tak boleh datang menemui wanita yang kusimpan dirumahku"
__ADS_1
Dion mulai mengernyitkan dahinya.
"Apa kau benar benar menyimpan seorang wanita dirumahmu?"
Arga mengangkat halisnya merasa bangga.
"Lalu bagaimana jika Rindu datang dan tahu kau tinggal bersama seorang gadis?"
"Untuk itu Rindu pun sudah tahu dan kini mereka tinggal dengan akur"
Dion bertepuk tangan dan mulai memberikan salam hormat pada Arga.
"Jadi Rindu sudah kau temukan? Ini berita yang sangat bagus. Kau bahkan menyimpan dua wanita sekaligus dirumamu. Ini benar benar luar biasa. Kalau begitu akan aku beritahu ayah dan ibu jika kau tinggal dengan dua gadis sekaligus"
"Si*lan kau!"
Dion terkekeh melihat kemarahan diwajah Arga. Ia bahkan tak takut melihat sepupunya yang seorang pembunuh berdarah dingin.
Tok! Tok! Tok!
Pintu diketuk oleh seseorang dari luar. Arga dan Dion pun segera bangkit dan menyambut kedatangan rekan bisnis barunya.
Mereka saling berjabat tangan satu sama lain serta mulai mempresentasikan semua yang akan menjadi kerja sama diantara keduanya. Hingga saat pertemuan telah selesai, akhirnya dua perusahaan ternama di ibu kota sudah resmi menjalin kerja sama.
"Terimakasih atas kepercayaan yang anda berikan untuk perusahaan kami Tuan Damar" ucap Arga dengan senang.
"Sama sama Tuan arga. Saya harap kerja sama ini akan berhasil dan memberikan keuntungan untuk kita berdua"
"Tentunya perusahaan kami akan melakukan yang terbaik untuk kerja sama ini dan saya berharap kapan kapan kita bisa bertemu dan makan malam di rumah saya sebagai ucapan rasa terimakasih"
"Baiklah Tuan Arga, kapan kapan saya akan mampir di rumah anda"
"Nanti saya akan berikan alamat lengkap rumah saya di email jika anda berkunjung lagi minggu depan di kota ini"
"Ya tentu, nanti akan saya kabari anda jika datang kembali ke kota ini"
__ADS_1
Pria yang menjadi rekan bisnis Arga tak lain adalah Damar, teman masa kecil Liyani sekaligus pria yang dulu menyelamatkan Liyani saat menjadi sasaran pelecehan para preman serta saat bibi dan paman Liyano menjualnya di club milik Nyonya Zilvana.