
Kini kami berjalan menuju halaman rumah tempat mobilku terparkir.
Gaun yang ia kenakan sangat cantik dan cocok dibadan mungilnya. Kutatap gadis berambut hitam disampingku. Dan membukakan pintu mobil agar dia segera masuk kedalamnya.
"Duduk dan pakai sabuk pengamannya" perintahku"
Liyani pun mulai memasuki mobil dan mengambil sabuk pengaman disamping kursinya.
Aku berjalan menuju tempat kemudi dan mulai duduk disamping gadis desa yang saat ini tengah kesusahan memasang sabuk pada tubuhnya.
Dengan nafas yang memburu, aku menghadap kearah tubuhya dan mulai memasangkan sabuk pengaman dengan hati hati.
Detak jantung yang semakin cepat, aliran darah yang semakin kencang mengalir, membuatku kesusakan menahan jiwa kelelakianku kala hanya beberapa senti saja wajahku tepat didepan wajahnya.
"Tu..tuan mau apa?" tanyanya dengan gugup.
Tak kuhiraukan ucapannya dan dengan cepat segera memasangkan sabuk pengaman dengan tangan yang mulai teremor ini.
Nafas Liyani semakin kencang terdengar ditelingaku, saat ini mungkin ia tengah gugup sebab aku berada hanya beberapa sentimeter dari tubuhnya.
"Sudah selesai" ucapku dengan segera.
Rasa canggung mulai menyelimuti kami didalam sini. Tak ada obrolan diantara kami hanya sesekali kulihat dari kaca bahwa Liyani menatapku dengan tatapan yang akupun tak tahu.
"Terimakasih" ucapnya pelan.
Kuanggukan kepala dan melajukan mobil dengan kecepatan yang normal.
Hingga saat kami berada dipersimpangan jalan, kulihat seorang gadis tengah terduduk dilampu merah seraya memeluk lututnya.
"Tuan bisa kita berhenti sebentar" ucap Liyani padaku.
__ADS_1
Kutepikan mobil dan mulai keluar bersama Liyani menuju tempat dimana gadis yang kami lihat tengah menangis tadi.
"Mbak kenapa" tanya Liyani pada sosok wanita yang tengah menundukan kepalanya"
Tanpa menunggu lama, saat wanita misterius itu menganggat kepalanya, Liyani langsung menangis dan memeluk erat tubuh wanita itu.
"Kemana saja kamu?" tanya Liyani.
Tatapan mata wanita itu kini mengarah padaku. Hingga menit kemudian dia berjalan kearahku.
"Li, dia siapa? apakah dia?" dengan kalimat yang menggantung, wanita tadi kini melihat kerahku.
"Dia tuan Arga Rin" jawab Liyani dengan pelan.
Wanita lusuh misterius tadi kini memegang wajahku dan menatapku dengan dalam. Air matanya terus saja mengalir hingga kemudian dipeluknya erat tubuhku dan mulai menangis.
"Aku Rindu Arga" ucapnya seraya memperlihatkan kalung yang dulu kuberikan padanya.
Kalung berbentuk hati yang berisi fotoku dan dia didalamnya, masih terpakai rapih dilehernya yang indah.
Entah kenapa pelukan ini begitu lama tak menyentuhku. Sentuhan hangat yang selalu Rindu berikan padaku dulu seolah membuatku lupa bagaimana caranya untuk bernafas.
Apa kah benar kau Rindu yang kucari? gumamku dalam hati.
Kupeluk erat tubuh yang telah lama kurindukan. Desir di hati kini membuatku mulai bisa hidup dengan bahagia.
Tak kusangka bisa secepat ini bertemu dengan kekasih kecilku dulu. Tubuhnya yang tinggi dan lesung pipit yang terlihat dipipinya, membuat Rindu terlihat sangat cantik walaupun pakaiannya saat ini sangat berantakan. Kalung yang dulu kuberikan nampak indah terpasang dilehernya yang putih bersih.
Liyani menatap kami berdua dengan mata yang berbinar. Terlihat haru mungkin ketika aku dan Rindu tengah melepas rindu satu sama lain.
"Kita pulang kerumahku ya" ajakku pada Rindu.
__ADS_1
Tanpa menjawab pertanyaanku, anggukan kepala Rindu menjadi jawaban yang sangat jelas.
Kuapit lengannya dan membukakan pintu mobil bagian depan. Rindu berjalan dengan malu malu dan mulai duduk di samping kemudi.
Kupanggil Liyani dan segera menyuruhnya untuk masuk kedalam mobil.
Kini aku duduk disamping Rindu yang selama ini selalu kucari keberbagai pelosok kota. Cantik wajahnya masih sama seperti dulu, hanya saja sekarang dia terlihat sangat dewasa dengan sikap ramah yang ia tunjukan padaku.
Kuajak dia dan Liyani untuk pergi ke mall sekedar membeli pakaian mereka dan kebutuhan pribadi lainnya.
"Li, kau boleh mengambil barang apapun yang kau mau, dan jangan khawatir aku yang akan membayar semuanya" ucapku dengan senyum yang mengembang.
Terlihat binar dimata Rindu yang kini tengah berdiri disampingku. Hingga aku putuskan untuk menarik tangannya kedalam salah satu butik yang terkenal.
"Mau kemana Ga" tanyanya padaku.
Tak kuhiraukan ucapannya, tatapan matanya yang memabukanku justru membuatku enggan untuk berlama lama menatapnya. Aku takut jika lama memandang wajah cantik dan matanya yang indah, aku bisa saja khilaf dan melakukan hal tak senonoh padanya.
Terimakasih tuhan karna telah mempertemukan aku dengan Rindu.
Liyani yang mengekor dibelakangku, kusuruh untuk pergi mencari keperluan yang ia butuhkan dirumah nanti. Tak lupa kuberikan atm kepadanya biar dia bisa bebas sesuka hati untuk memilih barang yang ia impikan.
Fokusku saat ini hanya pada Rindu. Kuajak dia pergi menuju salon dan menyuruh karyawan butik untuk melayani Rindu dengan baik.
"Arga ini berlebihan"
"Tak ada yang berlebihan selagi kau senang Rin" jawabku seraya tersenyum.
Hingga saat semua pelayanan yang diberikan untuk Rindu selesai, kulihat dari ujung kaki sampai kepala dia sangat mempesona.
Kupeluk tubuhnya dengan erat dan mengajaknya berkeliling mall seraya makan disalah satu restoran ternama di ibu kota.
__ADS_1
Pukul tujuh malam akhirnya aku dan Rindu sampai dihalaman rumah. Baju dres yang Rindu pakai sangat cocok dan membuatku taljub akan kecantikannya.
Sampai saatnya kami sadar bahwa Liyani tak ada bersama kami. Ck sial aku lupa.