Takdir Cinta Ceo Psyco

Takdir Cinta Ceo Psyco
Malu


__ADS_3

Pagi yang cerah kini sudah menyapa mata Arga yang masih terpejam. Pria itu mengerjapkan matanya dan mulai mengucek matanya dengan perlahan.


"Hoammm"


Arga terlihat menggeliat kecil dan mulai bersiap untuk bangun.


"Pagi sepupuku yang tampan rupawan!" teriak Dion yang langsung membuka pintu kamar Arga.


Somtak saja Arga terkejut dan melemparkan satu buah bantal tepat ke muka Dion hingga membuat kacamata pria itu jatuh ke atas lantai.


"Dasar kau set**!" Arga yang kesal segera berusaha mengusir tubuh pria tegap itu ke arah luar kamarnya.


Namun, Dion hanya tertawa dan mulai memungut kembali bantal yang baru saja Arga lemparkan.


"Pagi pagi sudah marah marah. Nanti cepet tua loh" Dion meledek Arga yang bersiap membawa handuk di pundaknya untuk mandi.


Arga bahkan menatap tajam ke arah Fion yang saat ini masih saja berdiri di dalam kamarnya tanpa memperdulikan ekspresi amrah di wajah Arga.


Dion memang sudah lama mengenal Arga sebab mereka memiliki hubungan kekeluargaan. Namun, sejak kecil Dion tak pernah sedekat ini pada Arga seperti bercanda atau pun bergurau sebab Arga tipikal orang yang sangat introvert dan pendiam


Arga lebih senang menyindiri di kamarjya di bandingkan harus berkumpul dengan teman teman ataupun keluarga pamannya. Ia lebih memilih menyendiri di dalam kamar dan menatap buku harian kecil serta foto foto masa kecilnya bersama Rindu.


Arga masih menyimpan foto masa kecilnya bersama Rindu bahkan ia pun masih menyimpan gelang persahabatan yang Rindu buatkan untuknya dari seutas benang dan liontin kayu kecil.


Arga kini sudsh berada di dalam kamar mandi, sedangkan Dion masih terus saja mengoceh di dalam kamar Arga.


"Hari ini aku sangat bersemangat pergi ke kantor Arga. Kau juga pasti sangat bersemangat sebab sebentar lagi kau akan menikahi Rindu!" Dion berteriak dengan kencang agar Arga mendengar ucapannya.


Arga yang mendengar ucapan Dion hanya terdiam dan tak mau menanggapi ucapannya tersebut. Ia bahkan fokus menggosoj badannya dengan sabun dan mulai membilas seluruh tubuhnya dengan air hangat yang mengalir dari shower.

__ADS_1


"Apa kau masih hidup Arga?" tanya Dion seraya mulai mengarahkan telinganya ke dekat pintu kamar mandi.


"Apa kau baik baik saja?" Dion mulai merasa panik dan mengetuk pintu kamar mandi Arga dengan pelan.


Arga tak menjawab panggilan dari Dion sebab ia benar benar ingin pria itu menghilang saja dari kamarnya. Arga lebih suka ketenangan dibandingkan dengan kebisingan. Apalagi ia tahu bahwa Dion tipikal orang yang sangat cerewet dan sangat ceroboh.


Dion menggedor gedor pintu kamar mandi dengan sangat kencang sebab khawatir, sedangkan Arga yang kesal akhirnya membuka kunci pintu kamar mandi dan keluar untuk menegur Dion.


Namun sayang, Dion yang sejak tadi menyenderkan badannya di depan pintu membuatnya otomatis terjatuh dan tangannya berusaha meraih tangan Arga.


Malang, Arga yang hanya mengenakan handuk di pinggan pun jadi sasaran kecerobohan Dion. Dion dengan spontan menarik handuk yang dikenakan eh Arga hingva membuat seorang wania yang baru saja sampai di depan pintu kamar Arga pun menjerit dengan keras.


"Akhhhhhhh!" teriak Liyani menggemparkan seisi rumah.


Arga yang panik langsung mengambil handuknya kembali, sedangkan Dion berlari menuju Liyani dan menutup matanya dengan kedua tangan Dion serta tangan Liyani sendiri.


"Aku telah membuat kehormatanku dilihat oleh orang lain" Arga meringis dan mulai duduk di dalam kamar mandi.


Raut wajahnya sangat sedih menahan malu sebab Liyani telah melihat apa yang sebetulnya tak seperti yang orang bayangkan.


Wajah Arga mungkin saat ini telah merah sebab menahan rasa malu dan begitu pun wajah Liyani yang dapat dipastikan saat ini bersemu merah seperti udang rebus.


"Maafkan aku dan Arga Liy" ucap Dion yang berusaha mengikuti Liyani yang saat ini tengah berjalan menuju kamarnya.


"Akhhh sudahlah!" Liyani menghibaskan tangannya dan tak berani menatap wajah Dion apalagi wajah Arga.


Ia benar benar sangat malu sebab melihat Arga yang hanya menggenakan celana d**lam berwarna kuning saja.


"Itu semua salahku Liy. Ma...maksudku aku tadi sangat panik dengan keadaan Arga yang terus saja diam saat di dalam kamar mandi. Aku bahkan khwatir dengan kondidinya sebab tak menjawab semua perkataan yang aku ucapkan. Ta..tadi ketika aku sedang berusaha membuka pintunya, Arga malah membuka kunci kamar mandi hingga membuatku terjatuh. Namun, secara spontan aku malah menarik handuk Arga lalu...."

__ADS_1


"Suuuttttg! Aku tak meminta penjelasanmu. Aku bahkan tak berminat dengan ceritamu!'


Belum sempat Dion menjelaskan apa yang baru saja terjadi antaranya dan Arga, tibabtiba saja Liyani menaruh tekunjuknya yang lebtik tepat di bibir Dion hingga membuat pria itu otomatis terdiam.


Dion menyentuh bibirnya yang baru saja disentuh oleh Liyani. Hatinya begitu berbunga bunga sebab Liyani melakukan hal yang menurutnya sangatlah romantis.


"Sekarang kau pergilah dengan pria itu. Ma...maksduku Arga. Kalian pasti akan telat masuk kantor" Liyani segera menutup pintu kamarnya dengan rapat.


Meninggalkan Dion yang masih saja diam membeku di depan kamarnya Liyani.


"Baikalah Liy. Aku akan pergi ke kantor untuk mencari nafkah untukmu"


Dion tersenyum bahagia, bahkan sesekali ia terlihat melompat menuju ruang tamu. Ia tak henti hentinya memegang bibirnya yang baru saja disentuh Liyani dan mulai menutup wajahnya dengan bantal karena merasa sangat senang.


Tak butuh waktu yang lama, kini Arga mulai terlihat berjalan menghampiri tubuh Dion yang amsih saja berbaring di atas sofa. Arga yang kesal dan marah pun mulai berjalan melewati Dion dan segera masuk kedalam mobilnya.


Arga bahkan menyalakan mobilnya dan mulai mengendarai mobilnya menuju liar gerbang halaman rumah dan meninggalkan Dion yang baru saja sadar akan kepergiannya.


"Arga! Arga tunggu!" teriak Dion dengan kencang.


Pria berkacamata itu mulai berlari mebgejar mobil Arga sampai halaman rumah. Ia bahkan lupa bahwa dirinya pun membawa sebuah mobil dan sadar saat melihat kembalo ke arah pintu gerbang rumah Arga.


"Kekasihku ternyata masih disini" ucap Dion seraya mulai mencium cup mobilnya.


Ia kemudian masuk kedalam mobil dan mulai menjalan mobilnya untuk menyusur mobil sepupunya yang sudah melaju dengan cepat.


Dion tersenyum bahagai memikirkan kejadian yang baru saja ia alami. Sedangkan Arga saat ini tengah meratapi nasib memalukan yang baru saja menimpa dirinya dirumah.


"Liyani pasti berpikir hal yang tidak tidak denganku. Apalagi sat melihat si kuning ini" Arga menundukan kepalanya seraya mulai teringat dengan kejadian yang baru saja menimpa dirinya.

__ADS_1


__ADS_2