
Cintya menatap ke sekeliling perumahan yang tampak sepi dan sunyi. Tak ada siapapun yang berada di luar rumah mewah sspertinya. Ia menatap sendu pada rumah rumah mewah di sekelilingnya yang tampak nyaman dan hangat. Tak terasa air matanya pun mengalir kala mengingat kehidupannya yang dulu sangat serba tercukupi namun kini ia bahkan memiliki profesi yang sangat buruk.
"Maafkan ibumu ini nak. Maafkan jika ibu membuatmu malu dan kau harus memakan uang haram dari ibumu ini" Cintya menangis tersedu sedu di sisi jalan perumahan.
Ia menekan tombol aplikasi ojek online dan memesan sebuah ojek untuk dirinya pulang. Ia sadar bahwa malam kian larut, dan anaknya takan bisa tidur jika tanpanya.
Tak lama kemudian seorang oengendara motor berhenti di hadapannya. Pakaian ssrta helm yang berwarna hinjau menandakan bahwa ia adalah orang yang Cintya pesan barusan untuk mengantarnya pulang.
"Dengan Mbak Cintya?" tanya ojek itu dengan ramah.
"Iya mas"
"Silahkan naik mbak. Mau pakai helm?"
Cintya menggelengkan kepala pelan. Ia lalu naik ke atas motor dan duduk dengan hati hati. Angin bertiup dengan kencang, menerpa wajahnya yang cantik serta tubuhnya yang hanya berbalut kain yang sangat tipis dan terbuka.
"Mbak kedinginan?" tanya tukang ojek itu dengan canggung.
"emh enggak pak. Saya baik baik saja kok pak"
Pria yang cukup berumur itu kemudian menghentikan motornya dan mulai melepaskan jaket yang ia gunakan.
"Maaf sebelumnya jika saya tak sopan. Tapi saya tahu bahwa mbak pasti sangat kedinginan. Ini pakai saja jaket saya sampai mbak sampai ke rumah. Saya juga gak ingin mbak jadi pusat perhatian orang orang. Maaf sekali lagi mbak saya tak bermaksud tak sopan. Hanya saja saya juga punya anak perempuan dan saya tak tega jika putri saya kedinginan dan sakit" Pria paruh baya itu d mulai memberikan jaket pada Cintya
Terlihat jelas ketulusan dimata pria itu pada Cintya. Dan Cintya yang merasa perkataan bapak ojek itu benar, kemudian menerima jekatnya dan mulai memakainya. Terlihat rasa senang di wajah pria paruh baya itu ketika Cintya mulai memakai jaket miliknya.
"Saya pinjam dulu ya pak" Cintya tersenyum menatap ke arah bapak tersebut.
Motor pun kembali melaju dengab kecepatan sedang. Cintya menatap punggung pria di hadapannya yang hanya terbalut kaos lengan panjang. Ada rasa kasihan di hatinya kala melihat pria setua ini masih saja bekerja dan harus kena angin malam seperti ini. Cintya bahkan teringat pada ayahnya yang sudah lama tiada.
"Sudah sampai mbak" ucap pria itu membuyarkan lamunan Cintya.
Dengan cept dari arah sebrang, seorang anak pria tersenyum ke arah Cintya dan langsung memeluk tubuhnya dengan erat. Anak itu bahkan tertawa dan berbicara dengan lucunya pada Cintya.
"Itu anaknya ya mbak?" tanya tukang ojek yang masih menunggu Cintya mengambil uang di tasnya.
__ADS_1
"Ah iya pak, ini anak saya. Oh ini pak uangnya. Kembaliannya ambil saja"
Pria paruh baya itu pun menatap sendu pada Cintya serta putranya yang tampak begitu pucat.
"Terimakasih banyak mbak. Semoga mbak sama anakknya sehat selalu, panjang umur dan segala urusan mbak di perlancar oleh yang maha kuasa. Amiin"
Cintya tersenyum dan melepaskan jaket milik tukang ojek online tersebut. Higga akhirnya Cintya pun sedikit melangkah mundur dan menatap pria itu dengan senyumnya.
"Saya pamit dulu ya mbak. Sekali lagi Terimakash banyak"
**********
Malam ini, di kegelapan malam dan sunyinya malam, Cintya merenung seraya menatap wajah putra semata wayangnya yang kinintengah tertidur dengan lelap. Ia menteskan air mata kala mengingat dirinya yang begitu kotor dan sudah kehilangan kehormatan.
Selama ini ia bahkan memberikan putranya yang sakit dengan uang yang tak halal sehingga Cintya pun mulai frustasi dengan keadaannya yang sangat menyedihkan.
"Maafkan ibu nak, karena ibu kau harus sakit seperti ini. Kau harus menanggung semua rasa sakit yang seharusnya menjadi milik ibu. Maafian ibu nak"
Tanpa sadar air mata Cintua jatuh tepat mengenai pipi putranya sehingga membuat anak kecil itu terbangun dan seketika menatap wajah ibunya yang basah karena air mata.
Dengan segera Cintua menghapus air matanya dan mulai megusap pucuk kepala putranya dan menghujaninya dsngan ciuman untuk meredakan rasa sesak di hatinya.
"Ibhu ..gak ***..eh menang...is."
"Iya ibu gak nangis kok. Ibu hanya kelilipan saja" Cintya berucap demikian agar anak semata wayangnya pun tak merasa sedih.
"Ibu gak nangis sayang. Ibu hanya keilipan. Sekarang kamu tidurlah kembali ya"
Anak kecil itu pun hanya menganggukan kepala hingga tak lama kemudian terdnegar dengkuran halus nan pelan yangkekuar dari milut mungilnya.
Cintya yang merasa menyesal karena sudah menjual dirinya sendiri mulai memikirkan cara agar ia tak terus terusan menjadi wanita penghibur pria hidung belang diluaran sana.
Ia bahkan sudah tergerak hati untuk bisa beekrja dengan halal agar anaknya pun tak terus terusan di berikan makanan dsri uang yang haram.
Cintya mulai mencoba memejamkan mata dan berharap bahw esok hidupnya akan jauh lebih baik lagi.
__ADS_1
***************
Liyani terdiam diatas kasur memikirkan identirasnya sendiri yang belum ia ketahui. Ia bahkan hanya tahu namanya saja tanpa ingat dimana orang tua sebenarnya tinggal.
Tok! Tok! Tok!.
Pintu diketuk dengan pelan dari arah luar. Seketika Liyani membalikan mata dan mulai berjalan memuju pintu untuk membukanya
Hingga sat pintu mulai terbuka sedikit, tampakah Rindu yang saat ini tengah menatapnya penuh tanya
"Ya ada apa Rin? Tanya Liyani. pelan.
"Aku mau memberitahu padamu sesuatu Liy, berita yang sangat heboh Liy" Tampak raut wajah bahagia dari Rindu.
Liyani yang penasaran pun segera menanyakan apa yang sbenarnya yang ingin dikatakan oleh Rindu.
"Apa itu Rin?"
"Aku,,sudab resmi menjadi calon istrinya Arga Liy"
Liyani yang terkejut pun hanya terdiam dan tak mampu mengatakan apapun. Natara senang dan sedih jadi satu. Entah kenapa ia takut sekali di usir dari rumah ini dan ia pun takut bahwa ia takan bisa manatap Arga lagi.
"Ah, selamat ya Rin aku ikut senang"
"Terimakasih banyak Liy. Ternyata setelah sekian lama aku dan Arga terpisah aku dan dia masih saling mencari satu sama lain. Dan yang paling mengejutkannya lagi ternyata kau adalah saudara jauh Arga"
Liyani mengernyitkan dahi ia tak tahu kemana arah pembicaraan Rindu sebenarnya.
"Sepupu?"
"Ya benar, kau adalah sepupunya Arga kan? Masa kamu lupa sih"
Liyani mulai mencari jawaban dari ucapan Rindu. Hingga akhirnya ia pun paham bahwa mungkin saja ini ucapan yang dikatakan Arga pada Rindu agar Rindu tak marah dengan kehadirannya di rumah ini.
"Ah, ya ya, kami adalah sepupu jauh. Saudara yang paliiinggg jauh sekali"
__ADS_1