
Para karyawan di kantor Arga mulai berbisik satu sama lain membicarakan Arga dan Dion yang baru saja terlihat bermesraan di dalam lift. Namun, kejadian sebenarnya hanyalah sebuah ketidak sengajaan yang berbyntut pada obrolan yang cukup sensitif dianatara bebarapa karyawan yang mengatakan bahwa Arga dan Dion memiliki prilaku menyimpang.
"Semua ini salahmu Arga! Aku yang tafinya selalu di puja puna di kantor ini, kini harus menelan pil pahit ke ngerian dari banyak gadis yang mengidolakanku" Dion bersimpuh dihadapan Arga yang saat ini masih saja tertawa terbahak bahak.
"Kau sendiri yang memulai ini bukan? Lalu kenapa kau menjadi seperti ini? Nikmati saja ejekan dari para bawahanmu sama seperti ini." Arga tersenyum dan mulai membuka laptopnya.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan ketika bertemu gadis gadis? Apa aku harus mengatakan bahwa aku pria normal dan jantan agar mereka percaya?"
"Untuk itu aku pun tak tahu. Kau pikirkan saja semua solusi yang akan menguntungkanmu. Aku bahkan tak perduli dengan anggapan mereka. Aku sekarang ingin fokus mencari tahu tentang gadis manis itu"
Dion mengerutkan kening. Ia tak tahu siapa yang saat ini Arga bicarakan. Hingga akhirnya ia pun ingat bahwa mungkin Arga tengah membicarakan Rindu miliknya.
"Gadis manis? Rindu? Cie yang lagi kasmaran" Dion mengejek Arga dan segera berjalan menuju pintu ruangan.
Arga hanya menatap pria itu sekilas dan memandangi kembali laptop kerjanya yang tiba tiba sa mendapatkan email dari seseorang.
"Silahkan nikmati kebucinanmu Arga. Aku akan pergi dan membersihkan nama baikku di kalangab gadis gadis. Dadah" Dion keluar dari ruangan Arga dan meninggalkan pria itu sendirian didalam sana.
Arga semakin fokus menatap layar laptopnya dan membaca email yang dikirimkan seseorang itu untuknya.
"Damar?' gumam Arga pelan.
Email yang ia terima ternyata dari Damar yang merupakan rekan kerja barunya di bisnis properti yang ia jalankan. Damar benar benar seorang pengusaha muda yang cukup bijaksana dan cerdas sehingga meu menjalin kerja sama dengannya yang baru saja ia kenal. Padahal sebelumnya, Anita pernah berkata bahwa om nya sendiri pun telah mencoba mengajak kerja sama pada Damar namun terus saja di tolak.
Pesan dari Damar sontak saja membuat Arga tertegun. Ia mendapatkan pesan bahwa Damar ingin sekali bertemu dengan dirinya dan bertemu dengannya dirumah Arga.
"Aneh" gumam Arga pelan.
Ia pun membalas rekan bisnisnya tersebut dengan perasaan tak karuan namun ia tetap mencoba untuk berpikir positif. Sebab mungkin saja Damar menginginkan hubungan mereka berdua terjalin dengan baik dan berlangsung menjadi teman di luar bisnis mereka. Arga menyetujui ajakan Damr untuk bertemu dan mengajaknya untuk datang bertamu ke kediaman mewahnya di dekat ibu kota.
Hingga tak lama kemudian balasan pesan dari Damar pun Arga dapatkan dan akhirnya pertemuan mereka sudaj di rancang esok hari.
*******
Hari ini benar benar hari yang sangat memalukan untuk Dion sebab kini ia mendapatkan tatapan serta gunjingan dari karyawan kantor yang berpapasan dengan dirinya. Mereka menatap tajam ke arah Dion dan mulai terdiam kala berdekatan dengannya.
__ADS_1
"Ku rasa gosip ini akan membuatku mati kutu. Ck sial!' Dion mengacak rambutnya dan menyesao telah membuat hubungannya dengan Arga terlihat romantis padahal dirinya adalah laki laki yang nornal.
Hingga sampai sorw hari pun dinya begitu dijauhi oleh beberapa karyawan kantor yang sengaja ia panggil untuk melakukan survey data data tentang perusahaan Arga yang sedang ia kelola.
Jam sudah menunjukan pukul enam malam. Ini adalah waktu yang tepat untuk Dion dan Arga pulang ke rumah sebab semua pekerjaan mereka di kantor telah selesai.
Sampai pada saat Arga dan Dion terburu buru untuk pulang, tanpa sengaja mereka saling bertabrakan satu sama lain dan menyebabkan tubuh Dion jatuh ke pelukan Arga.
Sontak saja semua mata kini memandang ke arah mereka berdua tanpa ada satu pun yang berkedip. Dion berusaha keras menjauhkan tubuhnya dari Arga sehingga membuat Arga pun dengan sengaja mendorong tubuh pria itu sampai jatuh ke atas lantai.
"Kau mendorongku?" tanya Dion dengan kesal.
"Kau sendiri yang ingin lepas dariku"
Dion bangkit dan mulai mendekatkan tubuhnya ke arah Arga. Belum sempat Dion berkata apapun, Arga justru mendekatinya dan mulai berbisik ditelinganya.
"Kau pergilah dan jangan berdebat dengankum Lihatlah tatapan mereka seolah membenarkan rumor kita disini. Aku tahu ini adalah hal yang aneh bagi mereka tapi mereka tak tahu bahwa kita tak benar benar menjalin hubungan apapun selain hubungan persaudaraan. Jangan sampai rumor itu di anggap benar sebab aku juga masih normal"
Arga pergi berlalu meninggalkan Dion yang saat ini masih di tatap dengan tajam oleh para karyawan di kantor. Sampai sampai Dion pun lari terbirit birit menuju mobilnya karena merasa malu dengan tingkahnya sendiri.
******
Arga masih bimbang dengan rasanya terhadap Liyani sebab ia kini sudah tahu bahwa gadis yang mengaku sebagai Rindu itu bukanlah Rindu yang asli.
Ting!
Notifikasi sebuah pesan kini masuk kedalam ponsel Arga. Pria itu mengambil ponsel di dalam sakunya dan mulai menatap layar ponselnya yang menunjukan sebuah pesan yang cukup membuatnya terkejut.
[Gadis yang bernama Liyani adalah gadis yang mungkin saja saat ini kau cari. Dia memiliki data serta informasi yang mirip dengan gadis yang mengaku dirinya sebagai Rindu. Diantara keduanya ada salah satu yang merupakan Rindu yang asli. Namun kita tak bisa mengidentifikasi mana Rindu yang asli jika bukan dengan DNA. Gadis yang bernama Liyani memiliki kemiripan dengan Rindu yang dulu hilang diculik]
Arga tertegu.Ia kembali memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.
Pemculikan terhadap Rindu di masa kecil, membuatnya tak memiliki teman satu pun sampai ia lulus kuliah. Ia bahkan tak bisa dekat dengan gadis mana pun sebab ia masih sangat menginginkan Rindu teman kecilnya untuk kembali.
Penculikan terhadap Rindu di masa lalu benar benar terjadi sangat cepat di depan matanya sendiri. Ia bahkan tak bisa menolong Rindu yang menangis dan menjerit di depannya saat itu sebab ia hanyalah seorang anak kecil.
__ADS_1
Arga ingat betul mobil hitam dengan tiga orang pria bertubuh kekar itu membawa Rindu didepan matanya dan menyeret tubuh mungil itu masuk kedalam mobil tersebut.
"Jadi yang mana Rindu yang asli?"
Arga menghela nafasnya dan mulai menelpon tangan kanannya tersebut untuk menanyakan informasi apa saja yang sudah ia temukan.
"Hallo" ucap Arga dengan datar.
"Ya tuan, ada apa?"
"Katakan apa yang sudah kau dapatkan tentang gadis yang bernama Liyani itu?"
Arga mendengus kesal dan kembali masuk kedalam mobilnya.
"Saya sudsh datang ke rumah paman serta bibinya gadis yang bernama Liyani dan mendapatkan informasi bahwa gadis itu di temukan oleh ayah serta ibu angkat Liyani di dekat aliran sungai yang sangat deras. Saat penemuan Liyani terjadi, beberapa warga juga menemukan anak kecil yang kemudian diadopsi oleh saudagar kaya raya bernama Haidi dan dijadikannya sebagai anak angkat"
"Lalu apa yang membuat kau mengatakan bahwa Liyani juga memiliki kemungkinan sebagai Rindu yang asli?"
"Aku menanyai paman serta bibinya Liyani dan mereka mengatakan bahwa di bagian punggung Liyani terdapat tanda lahir yang sama seperti Rindu selain itu mereka juga menunjukan sebuah kaos seragam sekolah anak kecil yang Liyani kenakan pada saat di evakuasi dari sungai"
Arga mulai mendapatkan titik harapan tentang gadis yang tak sengaja ia temukan di jalanan itu. Ia bahkan tampak tersenyum memikirkan jika memang benar Liyani yang selama ini tak bisa ia biarkan pergi ternyata Rindu yang asli.
"Apa kau bisa membawa seragam itu kemari?" Arga tampak antusias untum melihat seragam yang dikatakan suruhannya tersebut.
"Tentu saja bisa bos. Hanya saja ada masalah sedikit"
Arga terkejut mendapatkan jawaban yang diberikan oleh suruhannya.
"Masalah apa hah? Katakan?"
"Masalahnya adalah paman serta bibi Liyani menaruh tarif harga yang cukup tinggi jika sampai kita membawa seragam tersebut . Padahal seragam yang sudah kecil dan sobek itu bahkan tak layak jika di simpan terlalu lama. Aku sudah meminta mereka memberikan seragam itu agar aku bisa memperlihatkannya pada tuan. Namun harga untuk sebuah seragam itu benar benar diluar akal sehat"
"Memang berapa harganya?" Arga mulai kesal dan membentaknya.
"Harganya sepuluh juta tuan"
__ADS_1