
Arga memegang pipi Liyani dan segera memeluk tubuhnya. Beberapa kaki bahkan Liyani mencoba berontak dan melepaskan tubuhnya dari Arga. Namun, semuanya sia sia saja. Arga bahkan terus memeluknya erat dan membuat Liyani semakin ketakutan.
Hingga satu dorongan berhasil membuat Arga menjauh dari tubuhnya dan Liyani pun mengambil kesempatan untuk meraih sebuah gunting di atas laci kamarnya.
"Jauhi diriku dan pergilah dari sini! Aku tahu kau adalah pemilik rumah ini dan kau memiliki harta yang berlimpah. Namun, kau tak bisa seenaknya padaku karena aku masih punya harga diri untuk tak bisa kau sentuh! Aku peringatkan kau untuk menjauhiku dan jangan sentuh aku!" Liyai mengacungkan sebuah gunting pada Arga, hingga membuat pria itu bingung dan beberapa kali menggelengkan kepala.
"Kau adalah Rindu, Liyan. Kau adalah Rindu! Berapa kali harus ku jelaskan kau adalah Rindu! Kau adalah Rindu yang ku cari! Kau adalah cintaku dan kau adalah segalanya bagiku! Lihat! Lihat ini adalah bukti tes DNA yang kulakukan padamu tanpa sepengetahuan mu. Kau memiliki DNA yang sama dengan ayahmu sendiri. Om Galang yang kau sebut tempo lalu, dia adalah ayahmu. Ya, dia ayahmu"
Liyani diam mematung. Ia benar benar bingung dengan apa yang Arga katakan. Ia tak tahu kebenaran apa yang sebenarnya Arga katakan. Liyani bahkan tak ingat apapun tentang masa lalunya.
"Apa yang kau katakan itu benar?" tanya Liyani dengan tatapan menyelidik.
"Ya tentu saja. Aku takan mungkin berbohong padamu. Kau adalah Rindu yang kucari. Oh ya tunggu sebentar, aku akan membawa sesuatu untukmu" Arga menaruh secarik kertas yang berisikan hasil tes DNA milik Liyani dengan Galang dan pergi berlalu menuju kamarnya.
Tak lama kemudian pria itu pun datang dengan sebuah pakaian kecil seorang gadis yang tampak tak asing bagi Liyani. Ia menutup mulut tanda tak percaya bahwa Arga bahkan membawa pakaian saat ia sekolah dulu.
"Kau mendapatkan ini darimana? ba..bagaimana kau bisa mendapatkan ini?" tanya Liyani.
"Kau tak perlu tahu bagaimana aku mendapatkannya. Kau bacalah hasil tes DNA itu dan kau cerna baik baik. Kau adalah Rindu yang selama ini ku cari dan kau adalah anak dari Galang Wijaya"
Liyani mulai membaca secarik kertas yang Arga berikan padanya. Dengan hati hati Liyani membaca tulisan di bagian akhir kertas saja karena ia tak mengerti dengan isi tabel yang dituliskan dibagian sana. Liyani hanyalah lulusan sekolah dasar, jadi ia hanya bisa membaca tanpa mengetahui istilah kedokteran yang ada didalam surat tersebut.
Hasil sampel milik Liyani memang memiliki kemiripan yang sangat besar dengan Galang. Hingga dalam surat tersebut oun di jelaskan bahwa Liyani adalah putri dari Galang yang beberapa belas tahun lalu hilang.
__ADS_1
"Ak...aku...bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana kau mendapatkan sampel DNA ku? Bagaimana kau bisa mengetahui orang tua kandungku?"
Begitu banyak pertanyaan di pikiran Liyani, sampai sampai ia pun tak bisa menanyakan banyak hal pada Arga karena rasa keterkejutannya.
"Akan ku ceritakan semuanya padamu dengan satu syarat yaitu kau tak boleh melakukan apapun ataupun berniat lari dariku. Aku sudah lelah mencari mu dan Om Galang pun sudah sangat merindukanmu. Kau adalah Rindu bagaimana pun keadaanmu. Kau adalah Rindu yang ku cari."
"Lalu, bagaimana dengan Rindu? Dia juga memiliki identitas yang sama denganku. Sejak kami di culik bersama dia bahkan memakai seragam dengan nama yang sama denganku. Dan dia pun memiliki identitasku"
"Dia adalah peniru yang handal. Dia adalah putri dari orang yang selama ini menjadi dalang pembantaian orang tuaku! Kau bahkan tak tahu hal ini dan nanti akan ku ceritakan semuanya"
Liyani kembali terdiam. Kepalanya bahkan tak bisa mencerna semua perkataan Arga dengan cepat. Hingga timbulah rasa sakit yang luar biasa di kepalanya dan akhirnya Liyani pun jatuh pingsan.
Arga dengan cepat membawa tubuh gadis tersebut ke atas ranjang dan membaringkannya secara perlahan. Wajah yang selama ini selalu ada di dalam pikirannya, kini tepat berada di depan mata Arga. Cinta dan kesetiaannya selama ini pada Rindu, membuat Arga bahkan tak mampu menatap wanita lain sedekat ini.
*******
Pagi telah tiba, sorot teriknya matahari kini tepat berada di mata Kanaya yang saat ini sedang terikat pada sebuah kursi kecil di ruangan yang pengap. Kanaya mengerjapkan mata menahan rasa sakit serta kantuk yang ia rasakan saat ini, hingga akhirnya ia pun sadar bahwa tubuhnya sedang diikat dengan kencang oleh seseorang.
Matanya membulat sempurna kala sadar bahwa ruangan yang ia tempati begitu kotor dan kumuh. Tangannya bahkan beberapa kali mencoba melepaskan ikatan, namun sia sia. Semakin ia berontak, semakin sakit juga pergelangan tangan serta kakinya.
Sampai tiba tiba saja, suara tawa dari seorang pria berhasil membuat Kanaya menoleh dan menatap pria itu dengan ketakutan..
"Kenapa kau mengikatku? Ke...kenapa kau melakukan ini padaku? Aku ini Rindu, kau jangan macam macam padaku atau akan ku adukan kau pada Arga!"
__ADS_1
Kaki dan tangan Kanaya memang diikat, namun, mulut Kanaya sengaja tak di tutup karena ruangan tempatnya di sekap cukup jauh dari pemukiman warga.
"Hahahahaha, coba katakan sekali lagi. Aku ingin sekali melihat kau menderita dan tersiksa. Kau wanita mur**n yang berani datang dan mengaku sebagai Rindu pada sepupuku. Apa kau tak punya rasa malu sehingga melakukan hal serendah ini untuk mendapatkan uang dari Arga? Katakan yang sejujurnya padaku dan aku akan melepaskan mu!" ucap Dion dengan seringainya.
Kanaya tak menyangka bahwa Dion akan melakukan ini padanya. Ia benar benar merasa sangat ketakutan pada Dion, mengingat dulu saat pertemuan pertamanya di club malam, Dion bisa menghajar lima orang pria bertubuh kekar yang mencoba menyentuh Kanaya.
"Katakan siapa kau sebenarnya!" Dion mencengkram pipi Kanaya dengan sangat kasar, hingga Kanaya pun meringis kesakitan.
"Aku Rindu! Aku Rindu yang Arga cari selama ini!" teriak Kanaya dengan kencang.
Dion yang merasa kalap pun tak bisa menahan emosinya. Ia membanting sebuah kursi pada dinding ruangan hingga hancur berkeping keping. Sontak saja Kanaya menjerit ketakutan melihat sikap Dion yang seratus delapan puluh derajat berbeda dari biasanya.
"Aku ingat betul saat kau menc**m bibirku karena sudah menyelamatkan dirimu dari orang orang yang berusaha menyentuhmu. Apa belum sadar juga seberapa murahannya dirimu? Oh dan satu lagi. Arga memiliki orang suruhan yang memberikan informasi sedetail mungkin tentangmu. Jika kau tak mau katakan siapa kau sebenarnya, maka aku sendiri yang akan memberitahumu karena mungkin kau pelupa"
Dion menjambak rambut indah Kanaya dengan kencang hingga gadis itu meringis kesakitan.
"Dengar ini baik baik. Kau adalah Kanaya Angela putri dari Dharma Haris, seorang pengusaha yang licik dan juga penjahat yang ulung. Kau dijadikan sebagai tumbal oleh ayahmu sendiri sejak kecil dan di jadikan alat olehnya untuk mencari keuntungan baginya sendiri. Dia ada di belakang layar dan mengatur penculikan mu dengan Rindu yang asli karena ingin menguasai perusahaan Galang Wijaya. Kau bahkan masuk dalam drama penculikan padahal kau sengaja dibiarkan tinggal bergelimang harta di salah satu rekan bisnisnya di kampung tersebut agar ketika kau dewasa bisa bertemu dengan Arga dan dijadikan permaisuri dari kerajaan bisnisnya. Benar bukan?"
"Tidak! Kau salah! Aku Rindu yang asli"
Dengan cepat Dion tersenyum dan menampar keras pipi Kanaya, hingga ujung bibir gadis tersebut mengeluarkan darah. Dion memiliki kekejaman yang hampir sama dengan Arga. Hanya saja Dion masih mampu mengontrol emosinya sehingga tak pernah sekalipun membunuh orang.
"Kau masih tak mau mendengar ucapanku dan mengakui semuanya. Baiklah. Aku disuruh oleh Arga untuk mengintrogasi mu saja agar kau mau mengakui semuanya. Lain halnya jika Arga yang ada disini, maka dia pasti akan menghabisimu tanpa sedikitpun menatap kau seorang wanita. Hei! Ingatlah satu hal. Arga memiliki seorang tangan kanan yang tahu semua informasi mengenaimu.
__ADS_1
Kau adalah gadis kaya raya bergelimang harta bahkan sejak kau diasingkan di kampung terpencil itu. Kau sengaja di manipulatif oleh ayahmu sebagai alat kekuasaannya. Kau di culik dan dijadikan sebagai Rindu palsu hanya untuk kejayaannya. Jika saja Arga jadi menikahimu, maka semua aset milik Arga serta perusahaan yang selama ini ayahmu incar, maka akan jatuh ketangannya. Begitu pula perusahaan Galang yang saat ini sudah dimiliki oleh ayahmu. Karena keterpurukan Galang kehilangan istri serta anaknya yang hilang, perusahaannya dijual pada ayahmu dengan rendah dan ia pun pergi keluar negeri. Oh aku lupa, bahkan skenario ayahmu buruk, sampai lupa memberitahu wajah Galang yang terbaru"