
Gadis itu menatap bintang di langit sampai sampai tak sadar ia pun kini tertidur pulas di atas kursi dekat jendela.
Langkah kaki seorang pria kini tengah menuju pada Liyani yang tertidur pulas. Pria itu mulai mengangkat tubuh mungil Liyani ke atas tempat tidur dan membringkannya disana.
"Entah kenapa hatiku selalu saja berdetak lebih kencang saat berada di dekatmu seperti ini. Kau bahkan bukan siapapun yang aku kenal, namun aku merasakan bahwa kita saling terikat satu sama lain" Arga menyingkap rambut yang menghalangi wajah cantik Liyani.
Wanita itu menggeliat dengan pelan hingga kini wajahnya hanya beberapa sentimeter saja dari wajah Arga yang masih menatap wajah Liyani.
Bibir mungil yang merah serta aroma tubuh Liyani yang harum, membuat Arga seolah olah menjadikan Liyani candu baginya. Ia tahu bahwa gadis itu sangatlah baik, namun karena ke bod*hannya membunuh preman yang menganggu Liyani kemarin, Arga harus membuat gadis ini patuh dan diam dirumah ini.
Arga sengaja ingin menatap wajah Liyani sedekat ini untuk memastikan bahwa gadis dihadapannya bukanlah Rindu. Deru nafas Arga yang hangat serta tatapannya yang dalam pada Liyani, membuat Arga terpana pada gadis di hadapannya. Ia kemudian mendekatkan bibirnya pada Liyani hingga saat ia akan menyentuh Liyani, Arga pun tersadar dengan tingkah gilanya ini.
Dengan spontan ia pun menjauhkan dirinya dari Liyani dan membuat gadis itu terbangun karena terkejut dengan pergerakan Arga di atas ranjang yang sangat cepat.
"Kau..kau mau apa?" Liyani yang masih dalam keadaan kantuk pun mencengkram kuat selimbut di dekatnya.
Ia menutupi seluruh tubuhnya dengan simbut dan menatap tajam pada Arga yang kini sangat kikuk dan salah tingkah.
"Ak..aku aku hanya memindahkan dirimu ke atas ranjang saja. Aku tak tega melihatmu tertidur disana sebab aku tak ingin kaca jendelaku kotor akibat air liurmu itu. Lain kali jika ingin tidur, maka tidurlah diatas ranjang. Jangan sampai kau tidur dimana pun yang kau mau paham!" Arga bergegas pergi meninggalkan Liyani yang masih menatap tak percaya padanya.
Pintu pun di tutup dengan sangat kencang sehingga membuat Liyani sedikit kebingungan dan terkejut. Arga menyandarkan tubuhnya di pintu kamar Liyani dan menarik nafas dalam dalam untuk menetralisir degup jantungnya yang tak karuan.
Darah di jantungnya seakan mengalir deras sehingga membuat Arga begitu bingung dengan apa yang baru saja akan ia lakukan pada gadis asing yang ia temui.
"Kau benar benar bodoh Arga! Kau pria bodoh!" Arga terus merutuki dirinya yang bertindak gegabah pada gadis yang ia pun tak mengenalnya.
"Dasar otak mesum! Kau mudah sekali tergoda dengan gadis misterius sepertinya"
__ADS_1
Arga kini mulai melangkah pergi menuju kamarnya dan saat ia sampai di dalam.kamar pun, Arga mulai menutupi dirinya dengan selimbut.
Berbeda dengan Arga, Liyani yang bingung dan heran hanya mampu terdiam seraya memikirkan apa yang barusan terjadi pada dirinya. Liyani mera*a seluruh tubuhnya yang masih lengkah menggunakan pakaian serta rambutnya yang masih rapih terikat.
"Apa yang dilakukan pria aneh itu barusan? Kenapa dia peduli denganku"
Liyani terus bertanya tanya tentang apa yang Arga lakukan padanya. Ia hanya ingat baru saja memandang langit dari jendela dan terlelap begitu saja. Mungkin benar apa yang dikatana Arga barusan. Ia hanya memindahkan tubuh Liyani ke atas ranjang tanpa melakukan hal buruk padanya.
Liyani yang masih merasa ngantuk, segera membaringkan tubuhnya diatas kasur berukiran besar tersebut dan tanpa menunggu lama, Liyani pun akhirnya kembali tertidur.
*******
Dalam heningnya malam serta sepinya rumah mewah di tengah ibu kota, gadis yang mengaku sebagai Rindu perlahan lahan mengendap ngendap masuk kedalam kamar Arga.
Pria yang masih terjaga di bawah selimbut itu mulai berpura pura tertidur agar ia tahu apa yang sebenarnya gadis itu ingin lakukan di kamarnya.
"Arga" panggil wanita itu dengan lembut.
Untung saja Arga menutup seluruh tubuh serta wajahnya dengan selimbut sehingga Rindu pun pasti mengira dirinya sudah tertidur.
Klek
Suara pintu terkunci begitu nyaring, sehingga membuat Arga merasa heran dengan apa yang sebenarnya akan Rindu lakukan padanya. Sentuhan dari jari lentik gadis di sampingnya membuat Arga bergidik ngeri.
Setelah beberapa gadis mencoba menggodanya dengan keagresifan yang mereka miliki, baru kali ini Arga merasa takut dengan sentuhan gadis yang tak lain adalah Rindu.
Arga benar benar tak menyangka bahwa Rindu akan seagresif ini padanya. Apalagi mengingat dulu Rindu sangatlah lugu dan polos. Apakah mungkin trauma ataupun lingkungan tempat ia tinggal selama ini telah membuat Rindu menjadi seorang penggoda? yang pasti saat ini Arga benar benar sangat terkejut dengan tingkah nakal Rindu.
__ADS_1
Tangan Rindu dengan cepat membuka selimbut yang menutupi wajah Arga, sehingga tampak dengan jelas wajah pria tampan itu tengah berpura pura memejamkan mata.
"Kau sangat tampan dan kaya Arga. Aku takan pernah melepaskanmu kali ini. Ku tahu kau memang akan menjadi milikku, hanya milikku Kau bahkan tak salah memilihku untuk menjadi seorang pendamping di hidupmu. Akan ku berikan kau semua yang kumiliki. Cinta, kasih sayang serta belaian yang sangat memuaskan" Rindu mengusap wajah Arga dengan sangat pelan.
Rindu bahkam menelan salivanya sendiri kala melihat bibir Arga yang sangat indah di depannya. Rindu yang tak bisa menahan semua yang ingin ia lakukan, mulai mendekatkan wajahnya pada Arga dan saat bibirnya hanya tinggal beberapa senti dari wajah Arga, Arga yang tak ingin melakukan hal itu pun segera bangun dan menyingkirkan Rindu dari dirinya.
"Ah, kau bangun ternyata. Maafkan aku jika aku mengganggumu" Rindu yang masih duduk di atas ranjang Arga pun tersenyum manis ke arah pria tersebut.
Berbeda dengan Arga yang mulai risih dengan tingkah Rindu yang sangatlah nakal. Arga tak ingin ciu**m pertamanya diambil tanpa persetujuan darinya. Walaupun yang mengambilnya adalah Rindu, sang cinta pertama untuknya.
Arga sungguh bukanlah pria yang bisa seenaknya memberikan ciu**m pada gadis manapun. Sebab ia ingin yang mendapatkannya adalah gadis yang benar benar di takdirkan untuknya.
"K..kau sedang apa di kamarku?" tanya Arga denagn gugup.
Seolah merasa dejavu, Arga kini benar benar berada di posisi Liyani saat tadi ia berusaha menciu*mnya . Untung saja ia pun tadi cepat sadar dan tak memberikan ciu**m pertamanya pada orang asing yang ia temui.
"Aku hanya ingin menatap calon suamiku tertidur" Rindu mulai mendekati kembali Arga.
Berbeda dengan Arga yang berusaha menghindari Rindu yang selalu saja memancing nalurinya sebagai lelaki.
"Kau bisa menatapku setiap hari nanti, jika kita menikah. Tapi sekarang kau pergilah dan tidurlah dengan nyenyak. Aku benar benar mengantuk dan esok pun aku harus bekerja di kantor maaf"
Arga bangkit dan berjalan menuju pintu. Ia membuka pintu yang terkunci dan menyuruh Rindu untuk keluar dari kamarnya.
"Maafkan aku Rin. Tapi aku tak seperti yang kau kira. Aku akan menjaga kesucianmu sebelum kita melangsungkan pernikahan. Aku hanya ingin melakukan apa yang sudah menjadi hakku dan bukan melakukannya karena nafsu"
Rindu yang mendapatkan penolakan dari Arga pun merasa kesal dan melangkah pergi meninggalkannya. Ia berjalan begitu cepat sampai sampai ia tak menatap Arga yang saat ini tengah berada di situasi sulit.
__ADS_1
Arga menutup kembali pintu kamarnya setelah Rindu pergi dan kali ini Arga pun mengunci pintu kamarnya dari dalam untuk mencegah kejadian menegangkan seperti tadi.
"Aku benar benar telah salah menilai Rindu. Dia tigaratus enampuluh derajat berbeda dari yang ku pikirkan. Bahkan aku pun telah salah menilainya. Rindu yang ini sangatlah asing bagiku. Dan aku pun sungguh tak mengenali kepribadiannya"