Takdir Cinta Ceo Psyco

Takdir Cinta Ceo Psyco
Berubah


__ADS_3

Arga menepuk nepuk pelan pipi Rindu dan mulai menggosok gosokan tangannya agar Rindu segera terbangun. Ia bahkan seolah acuh dengan kehadiran Liyani yang saat ini tengah berdiri di sampingnya dan fokus untuk membuat gadis yang mengaku sebagai Rindu itu segera bangun.


"Apakah kau sudah makan?" tanya Arga pada Liyani tanpa menatap wajahnya.


Liyani hanya diam saja sebab ia pun ragu Arga bertanya padanya.


"Kenapa kau tak menjawab pertanyaanku? Aku bertanya padamu dan kau hanya diam saja" Arga berbalik dan menatap Liyani.


"App...apa kau bertanya padaku tuan"


"Ck kau sungguh payah" Arga kemudian mendekatkan tubuhnya kearah Liyani.


"Aku bertanya padamu Liyani. Kau sudah maka atau belum?"


"A...akku ..aku belum, belum tuan "


Arga bergeming ia kemudian duduk kembali diatas ranjang tempat Rindu berbaring.


"Kalau begitu kau cepatlah makan sana! Aku tak ingin ada dua wanita yang tak sadarkan diri dirumahku. Mungkin saja keinginanku untuk memb**nuh akan bangkit kembali jika melihat dua wanita tergeletak tak berdaya. Dan kau tahu, aku takan mungkin membu**h Rinduku" Arga mengusap pelan pipi Rindu yang masih menutup matanya.


"Ba..baik tuan. Saya akan makan dulu. Permisi" Dengan secepat kilat, Liyani pergi menuju dapur dan segera mengambil makanan yang sudah terhidang dengan rapih di atas meja makan.


Tanpa ragu ia yang memang sudah merasa kelaparan ,segera mengambil berbagai macam makanan yang ada dan mulai memakannya dengan sangat lahap. Antara takut dan lapar menjadi satu, sampai sampai Liyani tak sadar ia sudah menghabiskan dua potong ayam serta sayur didalam mangkok.


Makanan di piringnya yang sudah tandas membuat Liyani kemudian terdiam. Ia menatap kosong pada piring didepannya dan mulai berkecamuk dalam pemikirannya.


Ia bahkan saat ini tengah merasa gundah sebab dihadapkan dengan orang yang merupakan pembu**h berdarah dingin seperti Arga. Pria itu tampak seperti baik dan memang sangatlah baik sebelumnya. Namun, ia tak pernah menyangka bahwa Arga bisa membu*h seseorang tanpa penyesalan.


Bahkan Arga tak takut dengan hukum yang mungkin saja membuntutinya, sebab ia memiliki orang dalam di instansi dan ia pun memiliki tehnik untuk membu*h tanpa meninggalkan jejak sidik jarinya sedikitpun.


Brak!

__ADS_1


Arga menggebrak meja dengan keras hingga membuat Liyani yang terkejut tak sengaja menjatuhkan piring dilantai. Arga yang senang ekspresi ketakutan yang terpancar di wajah Liyani kemudian tersenyum menakutkan.


Liyani memungut pecahan piring di atas lantai dan tanpa sengaja pecahan itu tepat mengenai telunjuknya. Darah segar mengucur deras dari jarinya yang terluka. Kini kebalikannya, Arga yang terkejut segera berbalik dan mengambil tisu didalam laci dan memberikannya kepada Liyani.


"Bersihkan cepat! Aku tak ingin membuatmu lebih terluka lagi"


Liyani pun mengambil tisu yang Arga berikan dan segera mengelap darah yang terus saja mengalir dari telunjuknya. Ia bahkan terlihat gemetaran karena melihat ekspresi Arga yang sedang menahan sesuatu.


Liyani bangkit dan berjalan menuju wastafel. Ia mencuci jarinya yang kini terlihat sayatan begitu dalam dan mulai kembali menutupi luka tersebut dengan tisu.


"Ambilah satu plester di sana! Aku tak ingin melakukan hal gila padamu" Arga pergi meninggalkan Liyani.


Arga bahkan mengurungkan niatnya kepada Liyani untuk bertanya identitas gadis itu dan identitas Rindu sebenarnya.


"Terimakasih banyak!" Liyani berucap dengan sedikit berteriak dengab keras agar Arga mendengarnya.


Pria itu hanya menghentikan langkahnya dan menatap Liyani sekilas sebelum menaiki tangga untuk ke kamar Rindu.


"Kemana semua orang?" gumam Liyani pelan.


****


Dikamar, Arga yang baru saja membukakan pintu, sedikit terkejut ketika melihat gadis yang mengaku sebagai Rindu sedang terduduk diatas ranjang.


"Kau sudah sadar Rin?" tanya Arga memastikan.


Rindu hanya diam. Ia tak menatap ke arah Arga ataupun menjawab ucapannya. Rindu benar benar diam dan beku disana.


Arga mulai berjalan mendekatinya dan segera menatap gadis yang sedang terdiam dengan tetesan air mata di pipinya.


"Kau menangis?" tanya Arga.

__ADS_1


"Maafkan aku" ucap Rindu dengan pelan.


"Untuk apa? Kau tak melakukan apapun padaku"


"Aku sudah berbohong Arga"


Arga yang mendengar pengakuan Rindu pun segera terdiam. Kini ia yang bergeming seolah membeku. Apa yang Rindu katakan benar benar membuatnya syok. Arga berfikir bahwa kini dihadapannya adalah orang asing dan bukanlah Rindu. Maka dari itu gadis dihadapannya mengatakan itu. Arga segera mengepalkan tangannya bersiap untuk memukul dan menghabisi gadis di hadapannya.


Gadis yang saat ini sedang menatap kosong ke arah tembok bahkan tak tahu bahwa Arga bersiap untuk menyakitinya, tapi untunglah ia mengatakan sesuatu yang tak membuat Arga menyesal.


"Maafkan aku karena berbohong dengan perasaanku sendiri. Aku, aku benar ingin selalu bersamamu dan ingin kau selalu ada disampingku" Rindu mulai menggerakan kepalanya ke arah tempat Arga berdiri, dan ia pun kini melihat kepalan tangan Arga yang ada tepat beberapa senti di wajahnya.


Gadis itu terdiam dan mulai merasa ketakutan.


"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Rindu gemetar ketika menatap kepalan tangan Arga tergantung di udara.


"Ak...aku aku tadi, ah aku merasa sangat pegal karena menggendongmu tadi. Ternyata tubuhmu sangat berat sekarang" Arga mencoba mengalihkan pembicaraan Rindu agar tak merasa takut dengannya.


Arga yang sedikit lega dengan ucapan Rindu pun mengurungkan niatnya untuk menghabisi wanita di hadapannya. Ia sudah berburuk sangka dengan ucapan wanita di depannya tersebut.


"Jadi apa kau juga merasakan hal yang aku rasakan?" tanya Rindu pada Arga.


"Ya tentu! Aku sudah lama mencarimu dan ingin menjadikanmu sebagai pendamoing hidupku. Bertahun tahun aku hidup sendiri di dalam rumah ini. Aku bahkan tak memiliki teman untuk aku menumpahkan setiap masalahku. Hanya kau yang dari dulu mengerti aku Rindu. Aku bahkan seperti kain kotor yang tertinggal dijalanan yang ramai. Aku sendiri dan aku sepi"


Rindu yang senang dengan ucapan Arga segera memeluknya dan menciu** pipi Arga dengan lembut . Namun Arga diam dan sadar bahwa ada sesuatu yang berbeda dengan Rindu.


Entah itu karena Rindu yang kini sudah tumbuh menjadi wanita dewasa atauapun kehidupan Rindu saat terpisah darinya membuat Rindu menjadi agresif tak seperti Rindu yang ia duga polos dan lugu.


"Maafkan aku. Aku terlalu senang dengan jawaban darimu Arga"


"Emh, ya tak papa" ucap Arga singkat seraya mengelap bekas ci**m Rindu di pipinya dengan tangan.

__ADS_1


"Ya sudah, sekarang kau turun denganku ke bawan. Kita akan makan disana" lanjut Arga seraya berjalan mendahului Rindu.


__ADS_2