
Arga tersenyum menatap Liyani yang saat ini tengah terduduk manis diatas kursi penumpang. Bahkan Arga tanpa sadar sudah membuay Liyani merasakan ketakutannakibat perbuatannnya pada para preman yang menganggu Liyani.
"Jangan bunuh saua tuan. Saya mohon" Liyani merengek memohon pada Arga yang saat ini tengah berdiri disampingnya.
"Aku takan mencelakakanmu asal kau patuh dan menuruti setiap ucapan ku paham?"
Dengan cepat Liyani menganggukan kepala dan menghapus air matanya dengan kasar. Ia sungguh takut dengan sifat asli Arga yang seorang psycopath berdarah dingin. Tanpa rasa bersalah dan tanpa berdosa, Arga duduk disamping Liyani.
"Kit..kita mau kemana tuan?" tanya Liyani dengan pelan.
"Kita akan pulang ke rumah. Aku yakin Rundu sudah menunggu kita disana. Aku tak ingin ia merasa bosan dan jenuh. Maaf"
Liyani merasa heran dengan ucapan Arga. Baru tadi ia lihat Arga telah menyakiti orang lain dan kali ini ia mengatakn permintaan maaf padanya. Apakah ini tipu dayanya.
"Maaf untuk ap..apa tuan?"
"Sudahlah jangan banyak bertanya. Kau diam saja dan jangan banyak bicara. Kita akan pulang dan kau segera pakai pakaian yang sedikit tertutup. Aku yakin kau bahkan sudah dinikmati oleh nyamuk jalanan" Arga tersenyum kecut seraya menatap jalanan yang begitu lenggang.
Liyani hanya diam, ia bahkan tak sanggup berbicara pada Arga karena ia takut bahwa pria itu akan menyakitinya. Ia hanya bisa patuh dan tunduk pada perkataan pria asing disampingnya.
*******
Jalanan yang begitu sepi oleh pengendara, membuat Arga lebih cepat sampai di halaman rumahnya. Dari kejauhan terlihat gadis yang mengaku sebagai Rindu kini tengah menatap mobil Arga yang teroarkir dihalaman rumah.
Tanpa basa basi, Wanita itu segera memeluk tubuh Arga dengan sangat erat tanpa memperdulikan reaksi Liyani yang saat ini tengah berdiri menatapnya canggung.
"Kemana saja kau? aku sungguh takut dirumah ini. Aku takut jika ada orang jahat yang ingin menyakitiku lagi"
__ADS_1
Arga segera menepuk pelan punggung Rindu. Ia bahkan mencium kening Rindu hingga membuat Liyani yang sedang menatap mereka merasa canggung dan memilih membalikan tubuhnya.
"Kau tak usah takut. Aku takan membiarkan orang melakukan hal jahat padamu, bahkan aku takan membiarkan serangga menyentuh tubuhmu" Arga tersenyum menatap Rindu .
"Ah iya. Liyani apakah kau baik baik saja?" tanya Rindu pada Liyani
"Aku baik baik saja" Liyani menjawab seraya menatap wajah Arga yang tampak begitu dingin seolah tak terjadi apapun seblumnya.
"Ya sudah kalau begitu. Ayo kita masuk. Aku yakin kau sudah sangat lapar sekarang" ucap Arga seraya merangkul Rindu dengan mesra.
Arga dan Rindu kini berjalan masuk kedalam rumah megah bercat putih tersebut, sedangkan Liyani tertinggal di belakang kemudian berjalan membuntuti keduanya.
Liyani sangat terkejut dengan sikap asli dari Arga, padahal sebelumnya ia menilai bahwa Arga adalah seseorang yang baik dan sangatlah perhatian. Namun, setalah Liyani melihat kejadian mengerikan dihadapannya tadi, ia bahkan sekarang sangat takut jika berbicara dengan Arga.
"Kau tinggal disini sendirian ?" tanya Rindu seraya menatap sekeliling rumah Arga yang tampak begitu mewah.
"Ya aku sendiri, masa kau lupa?"
"Maksudmu aku jelek? Begitu?" tanya Arga meyakinkan.
"Bukan, bukan seperti itu. Maksudku dulu aku ingat betul kau itu sangatlah cengeng dan penampilanmu biasa saja seperti anak pada umumnya. Namun, sekarang kau bahkan terlihat sangat tampan dari perkiraanku" Rindu tersenyum seraya menatap wajah pria tampan berhidung mancung di depannya.
"Perkiraanmu? Jadi selama ini kau sering memikirkanku? Lalu kenapa kau tak datang kesini Rindu? Kau bahkan setiap hari mengingatku namun kau tak ingin menemuiku"
Gadis itu terdiam. Matanya tak bisa diam karena memikirkan jawaban yang tepat untuk pertanyaan Arga barusan.
"Emh, aku...aku...aku tak tahu rumahmu dimana. Kau tahu aku diculik saat masih kecil. Aku bahkan tinggal di desa dan sampai besar pun aku tak tahu alamat rumahmu ini. Yang ku ingat hanyalah rumah besar bercat putuh dengan seorang anak pria yang tinggal disana. Aku juga hanya ingat disekeliling rumahku banyak sekali gedung gedung pencakar lagit"
__ADS_1
Arga membuang nafasnya kasar. Ada yang aneh dengan Rindu yang sedang ada dihadapannya. Mungkin benar, kasus oenculikan yang terjadi pada saat Rindu masih kecil membuatnya sedikit bingung dan membuatnya lupa dengan alamat serta tempat tinggal Arga.
"Lalu apakah kau ingat rumahmu dulu dimana?"
Pertanyaan Arga kali ini benar benar membuat Rindu diam. Hingga akhirnya membuat ia berfikir keras dan jatuh pingsan akibat memikirkan jawaban pertanyaan Arga.
Arga dan Liyani yang melihat Rindu tiba tiba saja tak sadarkan diri, segera membawa tubuhnya menuju lantai atas dan membaringkannya di atas tempat tidur berukuran cukup besar yang ada dikamar tamu.
"Rindu, sadar Rindu. Kau kenapa?" Arga terus menepuk pelan pipi Rindu yang saat ini memajamkan matanya.
Arga heran dengan tingkah Rindu yang begitu misterius . Apa munkin trauma dimasa lalunya masih belum sembuh. Pikiran Arga terus saja berkelana. Bahkan saat ini ia pun tak sadar bahwa Liyani sudah pergi membawa air hangat untuk mengompres kening Rindu.
"Innn..ini tuan. Ini air hangat. Mungkin saja Rindu mengalami trauma dan lupa akan masa lalunya, jadi ia sedikit tertekan dengan pertanyaan yang tuan lontarkan"
"Tertekan? Hemh iya kau benar. Aku terlalu senang karena telah menemukan cinta pertamaku sekaligus sahabat masa kecilku. Aku juga sampai tak melihat situasi dan kondisi Rindu yang baru saja ku temui, dan aku malah menanyakan banyak sekali pertanyaan padanya seperti sedang melakukan acara kuis"
Arga tersenyum dan mulai mengambil wadah berisi air hangat dari tangan Liyani. Tanpa sengaja, tangan Arga yang menyentuh tangan Liyani begitu panas dan terasa seperti tersetrum aliran listrik, hingga air di wadah yang kini sudah Arga pegang sedikit tumpah ke atas lantai.
Sama halnya dengan Liyani, yang merasakan sensai tersengat saat tak sengaja tangannya disentuh oleh Arga baru saja.
"Maafkan sayaa tuan" ucap Liyani spontan.
Arga terdiam seraya menatap tangannya yang tak sengaja menyentuh lengan Liyani.
"Tak papa" Arga segera mengambil lap yang ada didalam wadah dan memeras air hangat yang terserap didalam kain, lalu menempelkan kain tersebut tepat dikening Rindu.
"Maafkan aku karena sudah membuatnu tertekan Rin. Aku sungguh sangat bahagia karena telah menemukanmu sampai samlai aku lupa bahwa kau menyimpan trauma mendalam atas penculikan itu."
__ADS_1
Liya menatap sendu pada Arga. Ia tahu bahwa Arga sangatlah baik, namun ia pun tak tahu mengapa Arga bisa melukai orang lain.
"Maafkan aku Rin. Aku janji tak akan membuatmu tertekan lagi. Aku janjji"