
Damar mulai mengambil sebatang rokok didalam saku celananya. Ia membuka bungkusan kotak itu dan mulai menyesapnya.
"Kau mau?" tanya Damar pada wanita tersebut.
Wanita itu menganggukan kepala dan mulai mengambil sebatang roko dari Damar. Ia bahkan tanpa ragu menghisap benda tersebut di hadapan Damar yang saat ini tengah menatapnya.
"Ku lihat kau sangat pandai merokok nona" Damar memuji Cintya yang dengan santainya mengeluarkan asap putih dari mulutnya.
"Tentu saja aku sudah ahli. Aku sudah memakai ini lebih dari lima tahun yang lalu. Dan kau pikir aku polos? Tentu saja tidak. Wanita sepertiku tak ada yang polos dan lugu"
Damar tersenyum ia tahu bahwa di klub besar seperti ini tak ada wanita penggoda yang lugu ataupun polos. Semua orang disini hanya orang orang yang sedang membutuhkan hiburan serta kesenangan sementara spertinya.
"Kau mau minum?" tanya Damar pada wanita di depannya.
"Aku tak ingin minum malam ini. Aku belum mendapatkan pelanggan yang banyak. Aku sedang sangat membutuhkan uang banyak"
"Untuk?"
"Ya untuk aku hiduplah. Di dunia ini tak ada yang gratis. Aku harus menghidupi anak laki lakiku yang berusia empat tahun. Dia mengidap penyakit dan harus cuci darah setiap minggu"
Damar tertegun. Ia bahkan tak mengira bahwa cobaan wanita di hadapannya sangatlah berat. Dan terlebih lagi Cintya yang notabene adalah wanita muda yang bisa di perkirakan usianya dibawah Damar ternyata sudah memiliki seorang anak.
"Lalu sekarang anakmu sedsng bersama siapa?"
"Ah, anakku kini sedang bersama ibu kosan. Aku sengaja setiap malam menitipkannya pada ibu kos karena dia sudah ku anggap ibu sendiri. Oh, ya kau tinggal dengan siapa?"
"Kau tak perlu tahu tentang diriku. Cukup jawab semua pertanyaanku dan aku akan bayar lebih untukmu asal setelah berbincang denganku kau langsung pulang dan tidurlah bersama anakmu sebelum menyesal"
Wanita itu terdiam. Ia bahkan heran dengan tingkah Damar yang baik tak seperti pria yang biasa ia temui di sana.
"Kemana saudara dan ibumu?"
Wanita itu mengehela nafas. Berat untuknya sebenarnya menceritakan semua kisah kelam yang ia alami sejak dulu. Bahkan hidupnya bagaikan sebuah air yang keruh dan diam di tempat penampungan tak tahu kemana harus mengalir.
__ADS_1
"Hemhh, setelah ayahku meninggal, ibu ku menikah dengan pria dari negera lain dan tinggal di negera asal suaminya itu. Aku di usir karena ayah tiriku itu sering seklai mencoba melecehkanku dan dia berkilah bahwa akulah yang menggodanya. Dan kau pasti tahu, karena cinta semua orang jadi buta. Termasuk ibu ku yang tergila gila dengan pria itu. Aku di usir dan terlebih dahulu aku di siksa dengan sangat kejam oleh keduanya. Dan untuk saudaraku? Aku tak perlu mengatakannya"
Damar mulai tertarik dengan cerita Cintya yang ia rasa sangat perlu bantuannya. Damar tahu ia bukanlah siapa siapa, namun hatinya tak tega melihat seorang wanita yang harus menderita apalagi ia memiliki anak yang perlu perwatan setiap saatnya.
"Baiklah kalau begitu. Aku minta nomor ponselmu untuk nanti aku hubungi lagi. Kau bisa menumpahkan semua ceritamu itu dan menjawab semua pertanyaanku dan tentunya semua itu tak geratis. Aku akan membayarmu seharga kau melayani seorang pria hidung belang"
"Benarkah tuan?" tanya Cintya tak percaya.
"Tentu saja. Aku sekarang harus pergi dan kau harus cepat katakan nomor ponselmu itu"
"aah, tunggu sebentar" Cintya merogoh tasnya dan segera mengambil ponselnya.
Ia menyebutkan beberapa digit angka nomor ponselnya pada Damar dan tersenyum kegirangan ketika mendengar pekerjaannya yang cukup mudah namun mendapat bayaran seharga ia harus mengeluarkan keringat bersama tamu tamu.
Damar tersenyum dan kembali meminum sebotol wi*e hingga membuatnya sedikit oleng dan mabuk sebelum melangkahkan kaki pergi dari club. Tak lupa ia pun membayar semua minuman yang ia teguk secara full dan memberi juga tip untuk penyaji minuman.
"Aku pergi dulu. bye Cintya" Damar mengusap pipi Cintya sekilas.
Ia kemudian berjalan meninggalkan wanita yang saat ini menatap kagum padanya. Namun, tak lama kemudian langkahnya terhenti saat ada seorang pria menjambak rambut indah Cintya dengan kasar dan menyeretnya menuju lantai atas tempat ruang cek in.
Tanpa basa basi Damar langsung membalikan badannya dan mulai meninju wajah si pria itu dengan sangat keras sehingga tersungkur ke atas lantai.
"Breng**k kau!" Damar terus menghujani wajah si pria itu dengan pukulan keras dari tangannya.
Beberapa orang berusaha melerai bahkan Cintya pun terkejut dan juga berusaha menarik tubuh Damar dari lelaki yang baru saja menjambak rambutnya.
"Lepaskan aku! Kepar**! "
"Kau yang kepar**! Kau breng**! Berani berani nya kau menyakiti seorang wanit"
Deru nafas Damar memburu. Ia begitu marah dan kesal melihat perlakuan kasar dari pria itu pada Cintya. Hingga tak lama kemudian manager club pun datang dan membawa Damar ke luar dengan sangat kasar.
"Keluar kau pembuat onar!"
__ADS_1
Tubuh Damar di lemparkan begitu saja ke aspal jalanan. Damar yang masih dalam pengaruh alkohol pun hanya bisa terdiam dengan badan yang mulai terasa sempoyongan. Tapi untunglah Cintya bergegas keluar club dan menciba membangunkan Damar yang saat ini masih berada di atas aspal jalanan.
"Kau tak papa tuan? Tuan baik baik saja kan?" Cintya terlihat panik dan mulai berusaha memapah tubuh Damar.
"Pria itu berani menyakitimu dan menyiksamu! Pria itu pantas untuk ku hajar bahkan pantas untuk ku lenyapkan"
" Sudah jangan meracau, kau saat ini dalam keadaan mabuk berat. Katakan dimna kau memarkirkan mobil?" tanya Cintya dengan lembut.
"Emh, mobil? Mobil ya? Ah! Mobilku ada di sana"
Cintya menatap sebrang jalanan yang terdapat gang di bagian sampingnya.
"Apakah kau memarkirkan mobilmu disana? Apa warna mobilmu?"
"Aku memarkirkan mobil putihku disana! Mobil putih dengan stiker bulat kecil di bagian kirinya"
"Baiklah aku akan memapahmu ke sana dan mengantarkanmu pulang"
Cintya pun mulai membantu Damar untuk bangkit dan memapahnya berjalan menuju tempat Damar memarkirkan mobilnya. Mobil putih yang Damar maksud sangatlah sulit untuk Cintya temukan sebab terdapat banyak sekali mobil berwarna putih terparkir disana.
Tiba tiba saja langkah Damar terhenti ketika melihat gadis yang ia kenal sedang berada di kerumunan sekelompok orang jahat.
"Liyani?" gumam Damar pelan.
"Liyani? Siapa dia?" tanya Cintya pada Damar.
Damar hanya terdiam dan mulai memfokuskan matanya menatap wanita yang saat ini sedang dalam bahaya itu.
"Aku yakin pasti itu Liyani"
Damar yang berusaha berjalan kearah Liyani pun kembali terjatuh karena pengaruh alkohol dalam minumannya masih belum hilang.
"Sudahlah kau saat ini sedang mabuk! Kau pasti salah lihat"
__ADS_1
"Salah lihat? Tidak! Aku yakin itu Liyani, cintaku pujaan hatiku" Damar tersenyum membayangkan wajah Liyani yang manis.
Cintya menarik tubuh Damar agar segera kembali ke jalan menuju parkiran.