Takdir Cinta Ceo Psyco

Takdir Cinta Ceo Psyco
Kabar baru


__ADS_3

Arga tersenyum puasa kala berhasil membuat perusahaannya semakin berkembang dengan bekerja sama dengan perusahaan Damar.


"Kau berhasil mendapatkan proyek ini Arga. Aku benar benar bangga padamu" Dion memeluk Arga dan menjabat tangannya dengan rasa bahagia.


"Semua ini berkatmu Dion. Jika kau tak menjadi sekertarisku dan membuat presentasi bagus seperti tadi, mungkin perusahaanku akan tetap berjalan ditempat, takan ada kemajuan. Maka dari itu untuk merayakan semua kemenangan ini aku akan memperkenalkanmu pada Rinduku"


"Hahahaha ternyata kau masih memiliki hati sehingga kau ingin memperkenalkanku dengan seorang wanita. Kalau begitu ayo sekarang saja" Dion nampak bersemangat menjagak Arga agar cepat pulang.


"Kau ini kenapa Dion? Jangan karena aku mengajakmu untuk kerumahku kau bisa seenaknya menggoda Rinduku"


Dion tertawa melihat tingkah Arga yang tiba tiba saja agresif dan posesif mengenai seorang gadis. Padahal sebelumnya Dion sudah memperkenalkan Arga dengan banyak wanita cantik dan menggoda, namun ia tak pernah tertarik dengan satu pun dari mereka.


"Kalu aku tak boleh mendekati Rindu, maka perkenalkan aku pada satu lagi gadis yang tinggal dirumahmu


Arga terhenyak, ia terkejut dengan niat dari Dion yang akan mencoba mendekati Liyani. Arga tak ingin Dion mendekati Rindu begitu pun dengan dia mendekati Liyani. Entahlah, dia sangat tak rela jika ada pria lain yang mencoba menarik perhatian Liyani selain dirinya.


"Ba...baiklah nanti akan aku kenalkan kau pada Rindu"


"Nah gitu dong Ga. Masa sama sepupu sendiri calon ipar gak kenalin"


Arga menghela nafas dan mulai membawa laptopnya pergi menuju rungan tempat ia bekerja.


"Kau pergi kemana ?"


Arga berbalik menatap Dion dan tersenyum seraya mendekatinya.


"Aku mau pergi ke toilet. Apakah kau mau ikut Dion?"


Seketika Dion mendorong tubuh kekar Arga agar menjauh darinya.


"Kau ini mulai lagi ya"

__ADS_1


"Salah mu sendiri banyak bertanya. Apakah kau tak melihat hah aku membawa laptop ini? Sudah aku ada urusan penting. Kau diam saja disini atau buatkan aku kopi"


Arga perhi berlalu meninggalkan Dion yang merasa kesal pada dirinya. Dion hanya bisa menggelengkan kepala dan mulai duduk seraya memegang kepalanya.


"Dasar anak itu"


***********


Arga berjalan menuju ruangan tempat ia bekerja dan mulai menaruh laptop serta bersandar diatas kursinya yang empuk.


"Gadis yang mengaku sebagai Rindu itu memang memiliki tanda lahir serta senyuman yang sama persis seperti Rinduku saat masih kecil. Tapi kenapa, tingkah laku Liyani justru mirip sekali dengan Rindu saat kecil dibandingkan wanita yang mengaku sebagai Rindu itu. Apa mungkin wanita itu berbohong dan melakukan penipuan terhadapku? Atau mungkin memang wanita itu memanglah Rindu yang asli, namun karena lingkungannya yang buruk sehingga ia tumbuh menjadi wanita yang nakal" Arga terus bergumam sendiri diruangannya.


Hingga tiba tiba saja pintu dibuka dan nampaklah seorang gadis memakai dres berwarna kuning cerah masuk kedalam ruangan Arga.


"Arga !" Wanita itu berteriak dan hampir memeluk tubuh Arga yang saat ini tengah duduk.


"Ish kok ngehindar sih" Wanita itu mulai mengerucutkan bibirnya tanda kecewa.


"Apa yang yang kau lakukan Anita?! Ini kamtor dan kau tak pantas melakukan itu padaku" Arga membentak Anita dan mulai bangiit untuk menjaga jarak darinya.


Arga mengerutkan kening mendengar ucapan Anita.


"Memangnya paman pernah mengajaknya bekerjasama dalam suatu proyek" Arga mulai tertarik dengan ucapan yang Anita sampaikan.


"Tentu saja Arga. Apakah kau tak tahu? Ah kau ini benar benar pria lugu. Paman itu beberapa kali menghubungi Tuan Damar dan menawarinya untuk bekerjasama dengan perusahaan ini. Namun, Tuan Damar selalu saja menolak dan malah melakukan kerja sama dengan musuh musuh kita. Tapi, sekarang lihatlah, atas usahamu dia mau bekerja sama dengan perusahaan ini. Ahhhhh! Aku sangat senang sekali" Anita terus saja berteriak kegirangan.


Ia bahkan sesekali berusaha memeluk tubuh Arga namun pria itu terus saja menghindari Anita.


"Hahahah, tentu saja aku memang hebat. Dan untuk itu kau sudah selesaikan memberikan ucapanmu padaku. Maka kau bisa keluar dan tinggalkan aku" Arga tersenyum dengan paksa kepada Anita.


Ia bahkan membuka pintu dengan cepat agar Anita segera pergi meninggalkan ruangannya.

__ADS_1


"Aku akan pergi sekarang. Tapi ada satu syarat yang harus kau sepakati"


Anita tersenyum licik pada Arga yang mulai merasa kesal.


"Berani beraninya kau meminta syarat pada atasanmu! Kau harus ingat batasanmu Anita"


"Iya, iya Arga. Aku akan pergi. Tapi kau harus memenuhi satu saja permintaanku ini. Permintaanku hanya kecil yaitu kita menghabiskan waktu makan malam berdua di restoran bintang lima dikota ini"


Arga yang mulai bosan dengan tingkah wanita didepannya segera menyetujuinya dengan terpaksa. Ia bahkan sudah muak melihat wanita itu dan ingin sekali memecatnya.


"Iya aku setuju. Tapi aku yang akan menentukan waktu kapan kita makan malam bersama. Kau tak boleh banyak bertanya ataupun protes padaku. Jika sampai kau melakukan hal itu, maka apa yang kau inginkan itu gagal"


Anita yang tampak senang pun berusaha kembali memeluk Arga namun dengan cepat pria itu menepisnya.


"Baiklah aku takan menganggumu dan takan banyak bertanya padamu. Kau itu benar benar pria yang manis" Anita pergi berlalu meninggalkan Arga dengan perasaan senang.


Sedangkan Arga segera mengunci ruangabnya dan kembali duduk dengan perasaan sedikit lega.


"Akhirnya ulat itu bisa keluar"


Arga kembali memikirkan dua wanita misterius dirumahnya saat ini. Ia benar benar tak tahu harus berbuat apa untuk tahu kebenaran tentang Rindu yang asli. Kedua wanota dirumahnya memiliki kemiripan dengan Rindu dimasa kecil. Bahkan keduanya memiliki tanda lahir yang sama di punggungnya.


Arga yang baru mendapatkan investor serta rekan bisnis yang sangat royal pun mulai bisa bersantai dikantornya. Ia bahkan banyak diam dan bersantai diruangannya seraya mulai tersenyum mengingat semua tingkah konyol yang ia lakukan dengan Liyani.


Gadis itu benar benar membuat hati Arga sedikit mencair dan tak keras seperti es batu lagi. Namun, Arga yang masih memiliki dendam pada para pembunuh orang tuanya masih tetap mencari tahu dalang dalam pembantaian yang dulu pernah terjadi dirumahnya.


Ting!


Notif pesan berbunyi diponsel pria yang saat ini tengah menengadahkan kepalanya.


[Gadis yang mengaku sebagai Rindu itu kemungkinan besar bukanlah Rindu yang anda cari. Sebaiknya anda berhati hati dengannya sebab aku menemukan data hitam tentangnya sebagai wanita penipu dan wanita bayaran]

__ADS_1


Arga mulai mengerutkan keningnya. Ia bahkan kini mulai hilang rasa pada Rindu yang ada di rumahnya saat ini. Jika benar benar wanita itu adalah penipu, maka Arga tak segan segan akan membunuhnya karena berani mempermainkannya.


"Aku benar benar akan menghabisi siapapun yang berusaha mempermainkanku"


__ADS_2