Takdir Cinta Ceo Psyco

Takdir Cinta Ceo Psyco
Arga


__ADS_3

Flash back off


Malam ini Liyani menyusuri jalanan yang sepi di ibu kota. Tak ada siapa pun yang ia kenal disini dan tak ada siapapun yang mau mendekat kearahnya. Bajunya yang sudah basah dengan keringat serta sendal yang sudah dia lepas karena terasa sakit. Tak membuat Liyani patah semangat untuk menemukan rumah tuan Arga.


"Hei nona manis sendirian aja" ucap pria asing bertubuh kekar berjalan kearah Liyani.


"Maaf saya buru buru"


Liyani mulai berjalan dengan cepat agar bisa terhindar dari kawanan pria yang ia yakini adalah orang jahat.


"Nona manis yang cantik. Ayo abang antar pulang"


"Maaf saya bisa sendiri. Permisi"


"Nona manis ayolah biar kami antar. Kami takan melakukan hal yang akan membuatmu terluka. Kau pasti akan menikmati setiap sentuhan yang kami berikan. Sebagai hadiahnya kami akan mengantarmu sampai ketujuan dengan selamat. Ayo ikut" pria bertubuh gempal itu mulai memegang tangan Liyani dengan kencang.


Liyani yang mulai merasa ketakutan segera mencoba melepaskan cekalan tangan itu dengan bersusah payah.


Dengan paksaan, tubuh Liyani kini muali terseret oleh beberapa pria menuju tempat yang gelap. Seolah megacuhkan kejadian didepan mata ataupun karena takut, beberapa orang yang berada disekitar Liyani hanya bisa memandang kejadian itu tampak ada yang mau menolongnya.


"Tolong lepaskan saya! tolong! tolong!" teriak


Liyani dengan keras.


Semua orang hanya menatap iba pada Liyani yang mulai dissret jauh dari keramaian. Tak ada siapapun yang berani menyelamatkan dia dari preman preman yang mulai menarik tubuh mungilnya.


Hingga saat tubuhnya lenyap dibalik tembok sebuah gang bangunan, nampak dari kejauhan, tubuh seorang pria berlari kearah preman tersebut dan menarik tangan Liyani dengan sangat kencang.

__ADS_1


"Hei kau berani beraninya ikut campur urusan kami! mau cari mati hah!"


Dengan senyum yang menyeringai, pria misterius memakai masker hitam kini mulai melepaskan genggaman tangannya pada Liyani.


"Kau tunggu dulu disini!" ucapnya pelan.


Liyani menganggukan kepala dan perlahan mulai mundur bersembunyi dibelakang tubuh pria misterius yang menolongnya.


"Apakah kalian tak tahu siapa saya hah?! kalian sungguh tak tahu siapa yang sedang kalian hadapi?" nada bicara yang terdengar santai namun berat, keluar dari mulut pria yang kini sedang berada di depan Liyani.


"Kami tak tahu siapa tikus kecil yang berani menganggu kesenangan kami! dan kami tak mau tahu siapa kau sebenarnya. Cepat kau tinggalkan tempat ini, jangan pernah menganggu urusan kami jika tak ingin mati!"


Senyumnya yang tersembunyi di blaik masker hitam, membuat para preman tak tahu siapa yang tengah mereka hadapi.


"Kau pergi dan naiklah kedalam mobil biru di ujung gedung bercat putih orange. Tunggu aku disana dan jangan pergi kemana mana"


"Cepat!" pria bermasker hitam itu , kini membentak Liyani dengan sangat keras, hingga membuatnya takut dan segera pergi berlalu mencari mobil yang ia maksud.


"Hei kau mau pergi kemana?!" Preman yang tadi memegang tangan Liyani segera berlari untuk mencegahnya pergi.


Namun belum sempat ia berjalan melewati pria dihadapannya, kini perutnya yang sedikit buncit merasakan sakit yang hebat karena sebilah pisau sudah tertancap dalam.


"Matilah dengan tenang" bisik pria misterius ditelinganya.


Kejadian itu sontak membuat Liyani berbalik menatap tubuh kekar yang tadi ingin melecehkannya ambruk diaspal.


Liyani hanya bisa menutup mulutnya dengan tubuhnya yang mulai berguncang hebat.

__ADS_1


"Cepat kau masuk kedalam mobil itu daj turutin keinginanku jika kau tak ingin mati sepertinya! kemana pun kau pergi, aku akan menemukanmu jika kau tak menuruti perkataanku!"


Ancaman yang keliar dari mulut pria itu sontak saja membuat Liyani semakin ketakutan. Pikirannya buntu dan ketakutan yang hebat membuatnya berjalan menuju mobil yang dimaksud pria itu. Apapun yang terjadi nanti padanya, ia tak memikirkan konsekuensinya. Yang terpenting baginya saat ini kehormatannya bisa terjaga dari preman jalanan.


"Kau apakan bos kami hah! ******"


Perlahan lahan pria dihadapan mereka mulai membuka masker serta topi yang ia gunakan. Hingga saat maskernya terbuka dengan sempurna, para preman jalanan bergidik ngeri dan mulai terkejud dengan sosok yang saat ini sedang berada dihadapan mereka.


"Kau..kau tu..tuan Arga"


Senyuman yang penuh dengan kekejaman kini membingkai di wajah Arga.


"Sudah kukatakan apakah kalian tak tahu siapa yang sedang kalian hadapi, namun kalian seolah berani dan menganggap aku seorang manusia biasa. Ck!"


"Kami minta maaf tuan. Kami..kami akan pergi!"


Tanpa melakukan perlawanan para preman yang sudah tahu siapa psykopat gila dihadapannya segera mundur beberapa langkah.


"Kau bawa pria tak berguna ini dan jangan katakan jika aku yang telah melakukan itu padanya. Jangan lupa bersihkan darah yang menempel di aspal ini!" Arga membungkuk dan mencabut pisau yang ia tancapkan diperut preman yang terbaring dengan darah yang mengalir.


"Ba...baik tuan"


Beberapa pria segera menggotong tubuh temannya yang sudah terkapar tak berdaya dijalanan. Dan sebagian lagi mencoba membersihkan ceceran darah yang menempel dijalanan.


Senyum diwajah Arga tampak begitu menakutkan dan kepuasan tengah menjalar di tubuhnya. Ia pun pergi berlalu meninggalkan tempat itu dan berjalan menuju mobil kesayangannya.


Didalam hatinya, ia yakin bahwa Liyani takan mungkin pergi dan tak menuruti perkataannya tadi. Mobil di buka dengan pelan, tampak seorang gadis tengah menangis dengan tubuh yang berguncang hebat dikursi penumpang.

__ADS_1


"Saya mohon, jangan bunuh saya" isak tangis terdengar dari mulutnya yang mungil. Tanpa menoleh pada pria dihadapannya.


__ADS_2