Takdir Cinta Ceo Psyco

Takdir Cinta Ceo Psyco
Takut


__ADS_3

Hari hari berjalan dengan sepi. Tak ada canda tawa yang selalu ibu dan ayah lakukan bersamaku.


Aku yang kini hanya tinggal sendiri dirumah, harus melakukan semua pekerjaan yang paman dan bibi berikan setiap harinya. Terlebih lagi kala rumah milik ayah dan ibu dijual oleh paman dengan harga murah untuk menutupi hutangnya yang begitu banyak.


Setiap hari aku harus mengepel, memasak dan menyiapkan makanan untuk paman dan bibi makan. Tak ada pelukan hangat yang mereka berikan padaku apalagi kecupan lembut dikening yang selalu ibu berikan saat aku akan tidur.


"Heh anak pungut! baju saya sudah kamu cuci belum!?" tanya bibi pada Liyani yang tengah mengepel lantai.


"Su...sudah bi. Liyani udah jemur di belakang rumah"


"Bagus. Kalau begitu sekarang cepat kamu belikan saya tepung sama daging ayam ke kedai milik Pak Rohman di kampung sebelah!"


Kuanggukan kepal dan mulai mengambil uang yang bibi lemparkan diatas lantai. Kulangkahkan kaki dan mulai pergi menuju kampung sebelah yang jaraknya lumayan jauh sekitar 3km. Dengan langkah yang kecil, kususuri jalanan yang begitu licin karna habis diguyur hujan semalam.


Alas kaki yang mulai koyak dan nafas yang mulai kutarik secara perlahan membuatku ingin sekali isturahat terlebih dahulu.


Siang ini matahari begitu terik membakar tubuhku. Kugenggam erat uang lima puluh ribu ditangan hingga terlihat mulai lusuh.


Terlihat warung Pak Rohman tinggal berjarak 10meter. Aku berlari dengan girang hingga akhirnya sampai.


"Assalamualaikum pak beli terigu sama daging ayamnya satu kilo" aku berteriak dengan kencang.


Dengan senyuman Pak Rohman mengambil beberapa potong ayam lalu menimbangnya dengan teliti.

__ADS_1


"Liyani kesini sama siapa?'"


"Sendiri pak"


"owalah kasihan sekali kamu jauh jauh datang kesini sendirian. Kamu pasti capek ya nak. Ini ambil, gratis buat kamu" diberikannya sekantung plastik minuman yang sangat menggugah selera.


Kuambil kresek belanjaan dan minukan yang diberikannya untukku.


"Terimakasih pak"


"Sama sama"


Kini saatnya untuk aku segera pulang. Butuh waktu satu jam berjalan dari rumah bibi menuju warung. Hari mulai sore, kutatap matahari yang begitu terik menghadap kearahku.


Panas dan lelah sudah pasti aku rasakan. Air minum ditangan kini sudah habis tak bersisa. Kulangkahkan kaki dengan cepat agar bisa sampai dirumah.


Aku berjalan dengan menunduk dan mengenggam erat belanjaan ditanganku.


Takut sudah pasti saat ini aku rasakan. Terlebih lagi kala pandangan dari para pemuda itu memnatap intens dari ujung kaki sampai ke ujum rambutku.


"Permisi" ucapku pelan seraya menunduk.


Tak ada jawaban dari mereka, hanya saja mereka mulai terlihat bangkit dan mulai berjalan dibelakangku.

__ADS_1


Tanpa banyak waktu, salah satu tangan pemuda itu memegang bahuku. Dengan refleks aku berbalik lalu mengigit keras tangan pemuda itu dan berlari sekencang mungkin.


Kupegang erat kresek belanjaan milik bibi dan berlari sekencang mungkin seraya berteriak meminta tolong.


Para pemuda dibelakangku ikut berlari mengejarku yang mulai merasa lelah. Kuambil jalan menuju salah satu rumah dipinggi jalan untuk bersembunyi.


Untung saja ada salah seorang kakek beserta cucunya yang ku perkirakan 8tahun lebih tua dariku. Mereka berdua mengajakku untuk segera masuk kedalam rumah dan bersembunyi disana.


Toktoktok...


Pintu diketuk berulang kali. Beberapa pemuda masuk dan berbincang dengan sang kakek yang membantuku.


"Gadis kecil yang tadi masuk kesini siapanya kakek?"


"Gadis kecil? oh itu dia cucukku. Ayahnya sedang bekerja diladang dan ibunya sedang mesak didapur. Saya kakeknya, kalian siapa?"


Mendengar penuturan sang kakek, membuat para pemuda itu merasa canggung dan akhirnya pergi meninggalkanku yang sedang bersembunyi didalam kamar cucunya.


"Kamu siapa" ucap anak laki laki didepanku.


"Sa...saya Liyani. Maaf jika saya membuatmu terganggu"


"Oh Liyani. Kenalin aku Damar. Aku disini tinggal sama kakek berdua, kamu gak ganggu kok"

__ADS_1


Tak berselang lama kakek yang membanguku pun datang dan bertanya mengenai para pemuda yang mengejarku. Hingga kuceritakan semuanya pada pria paruh baya didepanku, sampai akhirnya dia ingin mengantarku pulang sebab hari sudah sore.


Sepedah tua yang sudah mulai usang dikayuhnya dengan semangat membara. Aku duduk di depan dan Damar duduk dibelakang kakek. Canda tawa kami lakukan bersama sepanjang jalan. Guyonan yang kakek ucapkan membuatku terhibur dan dapat melupakan sejenak semua kesedihan yang ku alami. Itulah pertemuan pertama dan terakhir kalinya aku melihat Damar .


__ADS_2