
Hari ini Arga berjalan mengelilingi sebuah mall terbesar di kotanya ditemani oleh Liyani dan Kanaya yang sudah banyak sekali memegang tas belanjaan yang cukup penuh. Arga bahkan tak merasa canggung ketika beberapa orang menatapnya sebab ia berjalan dengan dua gadi sekaligus di sisi kanan serta kirinya.
Bak seperti seorang playboy, Arga pun dengan santai berjalan diantara kedua gadis cantik yang saat ini tengah sibuk dengan pikirannya masing masing. Kanaya bahkan terlihat sangat bersemangat dengan senyum di wajahnya karena bisa berbelanja sesuka hatinya dengan uang yang Arga miliki.
"Aku mau ketoilet sebentar" ucap Liyani pada Arga.
Pria itu menganggukan kepala dan mulai berjalan bersama Kanaya untuk duduk di dekat sebuah toko pakaian. Arga bahkan sudah menghubungi Om Galang agar mereka bisa bertemu di mall tersebut dan memperlihatkan kedua kandidat yang Arga percayai sebagai Rindu.
Pria dengan perawakan yang tinggi serta gagah, mulai terlihat oleh Arga hingga Arga pun memberi kode untuk duduk di dekat kursinya. Kanaya yang saat ini sedang sibuk dengan barang belanjaannya tak sadar jika saat ini Galang sedang berada di dekatnya . Kanaya bahkan hanya tahu teman dari ayahnya tersebut dari sebuah foto lawas san tak tahu jika Galang yang asli saat ini tengah berada di dekatnya karena ia pun tahu bahwa ayah dari Rindu yang asli sedang berada di luar negeri.
Kanaya menatap Galang sekilas dan mulai mengecek kembali belanjaan yang tadi ia beli bersama Arga. Arga pun menatap Galang dengan penuh tanda tanya apakah Kanaya sesuai ekspektasi Galang atau tidak.
Namun, pria paruh baya itu hanya menggelengkan kepala dan memberikan pesan bahwa ia pun tak yakin dengan gadis yang ia temui. Hingga akhirnya Galamg berjalan menuju sebuah tolilet pria yang bersebelahan dengan toilet wanita untuk berbincang dengan Arga.
__ADS_1
Arga pun paham dengan rencana yang di lakukan Galang, sehingga tanpa ragu ia pun pamit pada Kanaya dan meninggalkan gadis itu bersama barang barangnya di dekat kursi.
"Aku pergi dulu ke toilet"
Kanyaa menganggukan kepala dan tersenyum menatap Arga. Kanaya tamoak senang sebab semua barang yang ia inginkan bisa di dapatkan dengan cara gratis hanya dengan menjual nama Rindu saja.
Arga dan Om Galamg kini bertemu di depan tanda toliet dan berbincang mengenai rencana yang akan mereka lakukan untuk mendapatkan informasi mengenai Rindu yang asli.
"Iya om. Dia adalah gadis yang datang padaku d an dan berkata bahwa dia adalah Rindu" Arga menganggukan kepala dan mulai menceritakan kejadian saat ia pertama kali bertemu dengannya.
Galang hanya terdiam dan tak tahu dengan perasaan yang ia miliki. Iabbenar benar tak tahu apakah gadis itu Rindu atau bukan. Karena ia pun sudah sedikit lupa dengan wajah putrinya dan perasaanya pun seperti biasa saja saat melihat gadis tersebut.
"Aku sudah mendapatkan sampel rambut dari gadis itu dan satu gadis yang lainnya. Rambut itu sudah ku berikan pada lab rumah sakit dan tinggal menunggu sampel rambut om saja"
__ADS_1
Tiba tiba saja Liyani yang baru selesai dari toilet berpapasan dengan Galang dan Arga di depan ruangan tersebut. Mata gadis itu tepat menatap kornea mata dari pria paruh baya di depan Arga, hingga membuat Liyani dan Galang pun kaku dan terdiam sejenak.
Keduanya saling pandang dengan hati yang terasa aneh seakan keduanya saling terikat. Liyani bahkan tanpa sadar meneteskan air mata kala menatap pria paruh baya di depannya yang sepertinya pernah ia lihat.
Liyani pun menatap Arga dan segera meninggalkan keduanya seraya mulai menghapus air matanya yang baru saja jatuh.
"Permisi tuan" ucap Liyani pelan.
Arga segera menepuk pelan tangan Om Galang dan memberitahu pria tersebut mengenai sosok gadis yang juga ia curigai sebagai Rindu.
"Dia adalah Liyani. Gadis yang hampir memiliki kesamaaan dengan Rindu yang kita kenal 80% " ucap Arga dengan lantang.
"Aku tak tahu rasa apa yang ada di hatiku. Saat aku pertama kali menatap gadis di kursi, perasaanku seperti biasa saja dan tak ada yang istimewa. Namun, ketika melihat gadis yang barusan, hatiku mulai terenyih dan dari sorot matanya entah kenapa aku yakin bahwa dia adalah gadis kecilku"
__ADS_1