
Mobil putih yang terparkir kini sudah berada di depan mata. Cintya menaruh tubuh Damar di kursi penumpang.
"Kau akan pergi mengantarku pulang hah? Apakau bisa mengendarai mobil?" Damar bertanya dengan nada yang sudah tak karuan.
"Tentu saja aku akan mengantarmu pulang. Aku bisa mngendarai mobil kau tak perlu khwatir. Aku sudah sering menyetir mobil sebab semua pelangganku adalah orang berada. Oh ya, dimana rumahmu?"
"Baiklah kalau kau memang bisa mengendarai mobil. Rumahku ada di jalan Cempaka Putih Blok E25 disamping rumah bercat kuning dan rumahku bercat putih. Ingat! Kendarai mobilnya dengan baik, jangan sampai ketika aku membuka mata, aku sudah berada di dalam kuburan. Hahahaha" Damar tertawa mendengar ucapannya sendiri.
Efek dari minuman yang ia tenggak kini benar benar telah menguasai dirinya. Ia bahkan tak mampu mengendarai mobil namun untungnya Cintya mau mengantarkannya pulang.
"Kau sungguh cantik Tya, Namun sayang kau melakuan pekerjaan ini" Damar menggelengkan kepala setelah menatap wajah Cintya di sampingnya.
Berbeda dengan Cintya yang terdiam mendengarkan semua kata kata Damar yang begitu menyakiti hatinya. Tak ada satu pun wanita dimana pun yang mau menjadi seorang penghibur. Keadaan lah yang menyebabkan dirinya memilih pekerjaan seperti ini. Apalagi ketika ia mengingat kondisi kesehatan anaknya yang akan parah jika tak melakukan cuci darah setiap minggunya.
"Ah, kau menangis. Apakah perkataanku menyakiti hatimu Cintya. Maafkan ak" Damar mulai mengelus pipi mulus Cintya dan mulai tersenyum ke arah gadis cantik di sampingnya itu.
Jalanan malam ini sangatlah lenggang, hingga membuat Cintya dengan mudah mampu cepat menjalankan mobil Damar ke salah satu perumahan elit di ibu kota.
"Sebentar lagi kita akan sampai" ucap Cibtya dengan datar.
"Ya kau benar, ini sudah dekat ke rumahku. Kau bia mampir dulu di rumahku nanti" Damar menjawab ucapan Cintya dengan tawanya yang tak lepas dari setiap katanya.
Hingga saat Cintya melihat rumah yang bercat warna kuning dengan rumah di sebelahnya yang berwarna putih ia yakin bahwa inilah rumah pria di sampingnya tersebut.
"Ini rumahmu?" tanya Cintya dengan kagum ketika melihat rumah mewah dan megah kini berada di hadapannya.
"Emhh" Damar mengucek matanya dan mulai melihat angka yang tertera di pagar rumah tersebut.
"Ya ini rumahku!" Damar segera membuka sabuk pengaman namun ia gagal karena kesadarannya kian tak karuan.
__ADS_1
Cintya yang paham dengan keadaan Damar pun mupai membantunya membuka sabuk pengaman itu dengan hati hati dan saat ini wajahnya hanya berjarak lima senti dari wajah Damar yang tengah menatapnya lekat
"Kau sungguh sangat menggoda Cintya" Damar tersenyum dan mulai sedikit menyandarkan kepalanya.
Cintya segera membuka pintu mobil dan berjalan ke sisi kiri mobil untuk membuka pintunya dan memapah Damar untuk segera masuk kedalam rumahnya. Damar yang saat ini tengah dalam keadaan mabuk berat pun hanya mengikuti langkah Cintya ketika akan masuk kedalam rumahnya.
Dengan hati hati wanita itu membuka kunci pagar rumah Damar dan segera menutupnya kembali rapat rapat. Tak lupa ia pun membuka kunci rumah dengan kunci yang sebelumnya Damar berikan saat di dalam mobil tadi.
"Rumahku sangatlah besar bukan? Kau pasti sangat betah jika tinggal disini bersama anakmu itu"
Deg,
Mendengar perkataan demikian, Cintya pun tersenyum kecil. Ya, memang benar jika saja ia memiliki rumah seperti ini maka putrnya akan senang dan betah jika harus menjalankan perawatan di rumah apalagi rumah Damar sangatlah rapih dan bersih.
Cintya mulai menurunkan tubuh Damar di atas sofa dengan perlahan, namun ketika ia akan melepaskan pegangannya di pundak Damar, dengan cepat Damar mendekap tubuh Cintya dengan sangat erat hingga ia kini terbaring seraya memeluk tubuh Cintya.
Cintya yang mendapatkan serangan secara tiba tiba pun terkejut dan tubuhnya me jadu membemu tak mampu melakukan apapun.Hingga perlahan lahan ia pun mulai menikmati setiap perlakuan yang Damar lakukan padanya dan mulai merespon setiap sentuhannya.
Damar yang saat ini dalam keadaan mabuk tak sadar dengan apa yang ia lakukan pada wanita yang baru saja ia kenal. Bahkan saat ini Damar sedang memikirkan wajah Liyani dan dalam bayangannya gadis yang saat ini tengah berada di dalam pelukannya adalah Liyani dan bukanlah Cintya.
Perlahan lahan nafas keduanya mulai memburu dan sampai saat Damar akan satu persatu membuka kancing baju yang dikenakan Cintya, Cintya tersadar dengan apa yang kini sedang ia lakukan.
Dengan secepat kilat, Cintya menjauhkan tubuhnya dari Damar dan mulai memasang kembali kancing bajunya.
"Kenapa?" tanya Damar seraya bangkit dan terduduk dengan kepala yang sedikit pusing.
"ak...aku harus pulang. An...anakkku pasti sedang menungguku di rumah."
"Pulang? Ku kira kita akan menghabiskan malam ini bersama"
__ADS_1
Baru kali ini Cintya mengalami gugup saat berhadapan dengan seorang pria, padahal selama ini ia melayani para tamunya ia akan dengan suka rela dan tanpa rasa melakukan hal hal yang berada di luar batas.
"Anakku selalu ingin tidur bersamaku. Ia pasti akan menangis jika aku tak pulang malam ini"
"Tapi bagaimana kau akan pulang ? Ah tidak, kau akan ku antarkan pulang" Damar bangkit dan kembali terjatuh ke atas sofa.
"Tenanglah, aku akan pulang sendiri saja. Aku bisa memesan ojek online yang akan datang dengan cepat. Kau tak perlua repot repot"
Damar mendecak kesal. Ia mengerucutkan bibirnya dan mulai menatap kesal pada Cintya.
"Baiklah kalau begitu, kau boleh pulang.Tapi, ingat satu hal, mulai sekarang kau hanya milikku. Kau akan memiliki satu pelanggan tetap dan itu adalah aku. Aku akan menghubungimu ketika aku menginginkanmu dan kau harus menuruti semua perkataanku"
Cinta tertegun, perkataan Damar benar benar membuatnya pusing. Ia tahu ia hanyalah wanita penghibur dan pemu** tapi bagaimana mungkin jika ia harus melayani hanya satu pria, uang yang ia hasilkan pasti akan sedikit jika hanya melayani Damar.
"Aku tak bisa jika hanya melakukan itu denganmu. Aku sangat membutuhkan uang untuk pengobatan anakku."
"hahahah uang? Kau perlu uang berapa hah? Aku bisa menyewamu seharian full dan kau bisa memberikan servis yang membuatku sangat puas. Kau tak perlu takut dengan uang. Aku orang kaya dan aku punya banyak uang"
Air mata Cintya jatuh seketika ketika mendengar ucapan yang Damar lontarkan padanya. Benar benar baru kali ini ia merasakan sakit hati dan terluka ketika harga dirinya bisa di rupiahkan seenaknya. Padahal ia bahkan sudah merasa kehilangan harga dirinya ketika memilih menjadi seorang penghibur.
Cintya meneteskan air matanya ketika mendengarkan perkataan yang Damar ucapkan. Cacian dan makian orang orang serta para tamu yang memesannya tak bisa menyakitinya seperti ucapan yang baru saja Damar katakan.
Wanita itu menghapus kasar air matanya dab mulai tersenyum.
"Ya kau benar, harga diriku memang mampu kau beli. Kau punya banyak uang dan aku sangatlah gila dengan uang. Aku akan memberikan pelayanan yang sangat memuaskan untukmu jika kau membayarku dengan harga seperti aku menemui lima orang tamu"
"Tentu saja, aku akan memberikan uang yang banyak padamu. Kau ingat itu"
Cintya segera pamit dan bergegas pergi tanpa lupa menutup pintu rumah Damar dengan rapat. Rumah Damar kini terkunci rapat sebab kunci yang Damar pasang di setiap pintunya menggunakan kartu dan sekarang kartunya berada di atas meja ruang tamu. Tepat, berada di sebelah pria kekar yang saat ini tertidur pulas.
__ADS_1