Takdir Cinta Ceo Psyco

Takdir Cinta Ceo Psyco
Mulai ingat


__ADS_3

Arga dan Galang kini saling pandang satu sama lain. Kini keduanya bahkan telah yakin bahwa Liyani adalah Rindu yang telah lama hilang. Arga mulai meminta Galang untuk memberikan sampel rambutnya agar Arga bisa melakukan tes DNA pada Liyani dan gadis yang mengaku sebagai Rindu.


Tanpa Kanaya sadari bahkan kini takdirnya sudah berada di ujung tanduk. Tujuh belas tahun ia bahkan harus rela hidup di sebuah kampung yang cukup terpencil demi keselamatan serta rencana yang telah ayahnya siapkan. Kini harus gagal dan pupus karena sebuah takdir.


Rindu yang asli sudah kembali di waktu dan tempat yang bersamaan. Arga berpamotan pada Galang untuk menemui Kanaya dan Liyani. Arga takut kedua gadis yang ia bawa tahu tentang rencana yang ia lakukan saat ini.


"Ya suah om. Aku pamit dulu. Nanti aku kabari lagi kalau hasil tesnya sudah keluar"


"Iya Ga. Om tunggu kabar baik darimu. Om akan terus berdoa dan takan pergi ke luar negeri sebelum tahu gadis kecil om sudah ditemukan"


Arga tersenyum dan meninggalkan pria prauh baya itu sendirian. Arga mulai melangkahkan kakinya menuju tempat Kanaya sedang duduk bersama Liyani di sampingnya.


"Kita akan kemana sekarang?" tanya Kanaya tanpa basa basi.


"Sebaiknya kita pulang saja. Hari sudah semakin siang dan aku belum membereskan rumah" ucap Liyani dengan lembut.

__ADS_1


Arga menatap gadis di sebalah kanannya dan tersenyum. Entah kenapa setiap Arga menatap wajah Liyani, hatinya begitu damai dan tenang. Bahkan gadis itu tak membeli apapun di tangannya berbeda dengan Kanaya yang banyak sekali memegang kantong belanjaan.


"Aku juga akan mengecek berkas di kantor untuk besok meeting. Jadi kita sekarang pulang saja ke rumah dan kalian bisa membeli satu barang yang ingin kalian mau sebelum pulang"


Kanaya tampak senang dan segera berlari menuju toko pakaian yang berada tepat di depannya. Berbeda dengan Liyani yang malah terdiam dan menatung melihat temannya itu sangat kegirangan.


"Kau kenapa tak pergi?" tanya Arga heran.


"Aku tidak terlalu suka baeang barang mahal. Bukan aku menolak pemberianmu, hanya saja uang yang cukup bayak di keluarkan untuk satu benda membuatku berpikir beberapa kali. Aku di besarkan oleh keluarga yang serba kekurangan, jadi aku pun terlalu menyayangkan jika uang hanya kita belikan pada barang yang tidak terlalu kita butuhkan"


"Satu kali ini, kau ambilah apapun yang kau mau. Berapa pun itu akan ku bayar dan berapa banyak pun yang kau mau akan aku berikan. Cepatlah aku tak punya waktu yang banyak"


Liyani mematung ketika sampai di dalam toko yang memiliki interior cukup mewah didepannya. Matanya menatap sekeliling ruangan yang cukup terang dan glamour untuknya.


"Cepat ambil apa yang kau mau. Kau tak bisa selalu memakai baju ibuku dan aku tahu tak memiliki baju dal..ham"

__ADS_1


Dengan cepat Liyani membungkam mulut Arga dengan kedua tangannya. Ia tak menyangka bahwa Arga akan mengatakan hal seperti itu bahkan di keramaian orang.


"Kau ini benar benar menyebalkan ya." Liyani pergi menuju tempat pakaian dal**m berada.


Memang benar apa yang dikatan Arga. Ia hanya memliki beberapa potong saja pakaian dal*m yang selalu ia kenakan. Sehingga Liyani pun pergi mengambil beberapa pakaian tersebut dan ia pun segera masukan ke dalam troli belanjaan dan ketika kasir membungkusnya, Liyani pun segera menyodorkan tangannya ke arah Arga dengan wajah menunduk.


Liyani sebenarnya malu jika harus terus di beri oleh Arga. Namun apa yang bisa ia perbuat. Ia pun mempunyai kebutuhan yang tak bisa ia beli sebab ia tak bisa mencari kerjaan karena Arga selalu mengancamnya dengan tragedi pembunuhan yang ia lakukan dulu.


********


Semilir angin malam mulai menerpa wajah Liyani yang saat ini tengah menatap rembulan dari kaca jendela. Ia terus saja memikirkan wajah pria paruh baya yang baru saja ia temui di mall. Hatinya seolah terikat dan pikirannya seolah saling terhubung. Liyani bahkan seolah sangat mengenal pria itu dan ia tak bisa mengalihkan pikirannya dari pria tersebut.


"Siapa dia? Kenapa aku selalu memikirkan orang itu? Dia tampak begitu tak asing dari hidupku" Liyani terus saja bergumam tentang Galang.


Liyani tak tahu bahwa dirinya adalah Rindu yang selama ini Arga cari dan Galang adalah ayah kandungnya yang selama ini selalu menangisinya setiap malam. Liyani benar benar kehilangan memori ingatannya sehingga hanya bayang bayang dan instingnya saja yang masih bisa terasa.

__ADS_1


Hingga akhirnya Liyani pun segera pergi merebahkan dirinya di atas ranjang empuk dan mulai menutup matanya secara perlahan. Tepat saat ini mimpinya tentang seorang gadis kecil dengan ayah serta ibunya mulai menghiasi tidur Liyani. Ayah sang gadis tengah membelakangi Liyani, sampai sampai saat ia menatap wajah pria paruh baya tersebut, betapa terkejutnya Liyani sebab pria itu adalah orang yang ia temui di depan kamar mandi mall tadi pagi.


__ADS_2