
Aku duduk terdiam disamping pria yang dulu berhasil membebaskanku dari orang orang yang mencoba merenggut kesucianku saat kecil. Untuk kedua kalinya dia menolongku dan membebaskanku dari pria pria jahat yang hanya ingin meniknati tubuhku.
Entah kenapa hatiku begitu berdebar kala melihat wajahnya yang tampan dan berwibawa. Walaupun ku tahu dari dirinya sendiri, dia adalah pria nakal. Namun bagiku dia tetap sosok lelaki yang baik yang sudah lama ku kenal.
Kakeknya adalah penolongku dan dia adalah penerus kebaikan kakek padaku. Aku berhutang banyak padanya. Selain karena uang yang ia berikan pada Nyonya Zilvana, aku juga berhutang budi karena ia telah menjaga kehormatanku.
Kini mobil sudah memasuki pekarang rumah bibiku. Dari arah dalam terlihat seorang wanita paruh baya dan seorang pria yang bergegas keluar melihat kedatangan kami yang menggunakan mobil bagus.
"Siapa itu pak?"
Daoat kudengar dengar jelas teriakan bibi yang bertanya pada paman mengenai mobil yang terparkir dihalaman rumahnya. Hingga saat aku dan Mas Damar membuka pintu, ia tampak terkejut dengan penampilanku yang hanya menggunakan pakaian terbuka serta jas yang menutupi kakiku yang ditutupi dengan kain dress selututu.
Ditatapnya penampilan aku dan Mas Damar dari atas samapai bawah. Bibi dan paman begitu terkejut dengan penampialnku yang berani dan penampilan Mas Damar yang begitu berkharisma.
"Kamu kenapa kesini hah! bukannya kamu harus jalan bersama klien Nyonya Zilvana?"
Bibi berjalan kearahku dan segera mendorong tubuhku dengan keras. Mas Damar yang sadar bahwa aku akan jatuh segera menangkap tubuhku dipeluakannya.
"Maaf anda tak seharusnya mendorong dia"
__ADS_1
"Kau siapa? apakah kau orang yang sudah menyewa dia dari nyonya ?" bisik Bibi pada Mas Damar.
"Maaf saya yang sudah membelinya dari tempat sampah itu. Dan aku akan mengembalikannya kesini"
"Hahahaha....kau membeli wanita udik sepertinya? sayang sekali uangmu harus habis banyak hanya untuk wanita macam ini? kau itu orang kaya tuan dan kau sudah membelinya dari tempat itu. Lalu mengapa kau malah memberikannya lagi pada kami? kami saja sudah muak melihat wajahnya. Ambil saja dia toh kamu sudah membelinya. Sekarang kau bisa menikmati tubuhnya yang mura**han itu"
Bibi dan paman tertawa melihat penampilanku yang begitu seperti umpan. Bagi mereka diriku adalah hanya beban dan sampah. Mereka sesuka hati membuangku dan menginginkan aku pergi dari sini.
"Aku ingin sekali membawanya pergi dari gubug jelek kalian tapi sayangnya dia ingin tinggal bersama mahluk alien seperti kalian"
Mas Damar tersenyum sinis kearah bibi dan paman yang tak henti hentinya menatap mobil dibelakang kami.
"Aku akan datang kesini bulan depan dan membawakan uang senilai 50 juta sebagai tanda pembebasan Liyani dari kalian. Jangan sampai kalian melukai ataupun menjualnya lagi kepada siapapun sebum aku datang. Jika tidak kalian menuruti perkataanku, maka siap siap aku akan menjebloskan kalian kedalam penjara."
Seketika mata bibi dan paman membulat mendengar ancaman yang keluar dari mulut Mas Damar. Keduanya tampak begitu takut ketika mendengar kata polisi.
"Baiklah kalau itu yang kau mau. Tapi kau juga jangan ingkar janji. Datanglah kesini bulan depan dan bawakan kami uangnya, kami takan menyakiti dia lagi. Dan satu lagi, jika kau telat datang kesini dan tak membawa uangnya bulan depan, maka jangan salahkan kami jika kami menjualkan atau menikahkannya kepada orang lain" ancam paman sontak membuatku tertegun.
"Baik jika itu keputusan kalian. Oh ya ngomong ngomong apakah kalian lupa dengan saya?" tanya Mas Damar seraya tersenyum leihat raut wajah paman dan bibi.
__ADS_1
Keduanya tampak begitu bingun dengan wajah yang Mas Damar miliki.
"Memangnya siapa kau?"
"Aku. Aku adalah anak yang kalian usir waktu dulu. Aku adalah cucu dari Kakek yang datang kesini menggunakan sepeda hanya untuk bermian bersama Liyani namun kalian mengusirku"
Sontak ucapan Mas Damar membuat keduanya bungkam dan terkejut.
"Jadi kau adalah anak kampung itu? anak kampung dulu yang selalu saja rusuh menanyakan Liyani? sekarang kau sudah kaya ya. Dapat darimana semua uangmu? hasil judi atau hasil menjual wanita wanita?"
Mas Damar menatap nyalang kearah paman. Ia nampak tak suka dengan perkataan yang paman katakan.
"Jangan sampai aku melupakan bahwa kau adalah orang tua. Aku bisa saja membunuh kalian sekarang juga"
Mas Damar melangkah kearahku dan segera pamit pulang.
"Liy aku pamit dulu. Hati hati disini, jika ada apa apa bilang saja padaku. Aku akan memberikan pelajaran dengan mereka"
Mas Damar segera masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya dengan kencang.
__ADS_1