
Arga membuang muka kala melihat Liyani yang saat ini tengah diperhatikan oleh Dion. Arga bahkan memendam rasa perdulinya pada gadis itu sebab ia benar benar kecewa dengan tindakan Liyani yang bekerja ditempat seperti itu. Tidak semua yang datang ke klub dan bekerja disana menjajakan dirinya, namun Arga tetap bersikukuh bahwa Liyani adalah gadis tak baik dan ia pun enggan mendekatinya sebab merasa kecewa. Namun, kenapa ia sampai membenci Liyani yang telah melakukan hal itu, toh dia bukan siapa siapa dihidup Liyani.
Arga menggaruk kepalanya dan mengacak rambut dikepalanya. Hingga membuat Dion sadar bahwa Arga tengah kesal.
"Kau kenapa?" tanya Dion dengan penasaran.
"Ah, tidak papa. Kepalaku hanya gatal saja. Aku pergi dulu, ingin keramas" Arga yang akan meninggalkan Dion dan Liyani pun segera dicegah oleh Dion.
"Eh tunggu! Kau yakin ingin keramas malam malam seperti ini? Apa kau baik baik saja kawan? Kau bahkan bisa sakit jika membersihkan badanmu tengah malam begini"
Arga melirik Dion sekilas. Sejak kapan sepupunya itu perhatian padanya. Ah apa ini mungkin strategi Dion untuk menarik perhatian Liyani dan mencapnya sebagai seorang pria baik. Arga mulai berjalan kembali menuju kursi yang ada di kamar Liyani dan duduk disana.
"Kau tak jadi pergi?" tanya Dion dengan heran.
"Tentu tidak. Aku baru saja ingat bahwa aku tak bisa membiarkan seorang gadis hanya berduaan dengan serigala sepertimu. Aku tahu isi otakmu Dion"
"Memangnya aku memikirkan apa? Aku pria baik baik dan akan menjadi seorang pemimpin keluarga yang baik. Benarkan Liy?" Dion menatap ke arah Liyani yang saat ini tengah memperhatikan keduanya.
Liyani hanya mampu menganggukan kepala kala melihat Dion yang mencoba meyakinkannya dan ia hanya mampu terdiam mendengarkan ocehan kedua pria yang saat ini tengah berada dengannya.
"Kau memang belum lama tinggal disini dsn belum lama juga mengenal pria ini Liyani. Tapi lihat lah wajah ini! Lihat wajah yang penuh dengan isi kepala yang membuatmu bergidik ngeri jika tahu" Arga memegang wajah Dion.
Dion yang tengah diperlakuan seperti boneka hanya bisa diam dan memamasang muka penuh dengan ketidak berdayaan. Hingga akhirnya Liyani mulai tersenyum manis menanggapi tingkah laku keduanya.
__ADS_1
Arga yang melihat senyum manis terukir di wajah Liyani pun mulai tersenyum. Ia bahkan tidak bisa mengendalikan perhatian serta ketertarikannya pada Liyani walaupun hatinya masih ragu dengab gadis didepannya.
Ting!
Ponsel Arga kembali bergetar, sebuah panggilan masuk kedalam ponselnya sehingga membuat Arga meninggalkan kamar Liyani dengan terburu buru.
"Telpon dari siapa Ga?" tanya Dion dengan pelan.
"Dari klien" jawab Arga dengan datar.
Pria itu pun berjalan menjauhi kamar Liyani dan segera menerima panggilan tersebut. Raut wajahnya kembali tegang kala mendapatkan telpon dari orang yang ia percayai.
"Hallo tuan"
"Saya akan menyampaikan informasi penting mengenai sosok Liyani yang saat ini tengah bersama anda"
"Ya, teruskan bicaranya"
"Baik tuan, jadi wanita yang saat ini berada di rumah tuan memang seorang gadis yang diadopsi oleh pasangan suami istri di salah satu desa terpencil yang merupakan tempat tinggal dari gadis yang saat ini mengaku sebagai Rindu. Namun sebelumnya saya pernah mengatakan bahwa gadis yang bernama Liyani pernah menjadi seorang wanita penghibur dan diselamatkan oleh seorang pengusaha muda yang kaya raya yang masih belum bisa saya ketahui identitasnya. Dan untuk informasi yang ingin sekali anda ketahui mengenai gadis itu pernah bekerja sebagai penghibur selama berapa tahun, saya katakan dia hanya bekerja selama 8jam saja"
"Cuih dasar wanita murahan!" ucap Arga dengan kesal.
"Maaf tuan, wanita itu adalah korban dari penjualan manusia yang dilakukan bibinya sendiri. Ia dijual oleh paman serta bibinya kepada Nyonya Zilvana yang merupakan pemilik dari rumah bor**dil ternama di ibu kota. Liyani di lelang oleh wanita itu sebab ia merupakan gadis yang masih per**n sehingga Zilvana pun ingin mendapatkan nilai tertinggi pada gadis yang sudah ia beli. Dan selama delapan jam, Liyani hanya disuruh untuk mengurung dirinya didalam kamar sebelum acara pelelangan dimulai, hingga pada saat pelelangan sudah tiba beberapa pria yang notabene adalah pengusaha beristri mampu menawar Liyani di harga yang sangat fantastis apalagi pria yang berhasil mendapatkan Liyani dengan merogoh kocek yang sangat luar biasa"
__ADS_1
Arga benar benar murka. Bagaimana mungkin Liyani bisa diam saja diperlakukan layaknya seekor hewan oleh paman serta bibinya tersebut. Arga bahkan akan mencari tahu identitas paman serta bibi Liyani yang berani beraninya menjual Liyani layaknya sebuah barang dipelelangan. Ini benar benar kelewatan, pikir Arga yang masih merasa kesal.
"Siapa nama paman serta bibi dari Liyani?"
"Untuk itu saya belum tahu tuan. Saya hanya mencari tahu apa yang ingin tuan ketahui. Dan untuk apa saja yang dilakukan Liyani serta pengusaha yang berhasil membelinya itu, saya hanya tahu dari rekaman cctv bahwa Liyani di ajak pergi meninggalkan Zilvana serta club tersebut dan mengantarnya pulang"
Arga bergeming, bagaimana mungkin seorang pria kaya raya mampu membeli Liyani dan tak melakukan apapun pada gadis tersebut. Padahal jika benar orang itu adalah pria normal, maka tak bisa dihindari bahwa ia akan merusak gadis malang tersebut.
"Kau tahu itu darimana? Apa kau yakin sertus persen bahwa Liyani tak disentuh oleh lelaki misterius itu?"
"Saya hanya tahu itu dari rekaman cctv di club tersebut serta dibeberapa jalan yang mobil mereka lalui. Untuk hal yang lebih detail maaf saya tak bisa pastikan sebab saya pun tak tahu apa saja yang meraka lakukan di dalam mobil sebab saya tak berada di tempat kejadian saat itu. Dan saya yakin hal buruk tak terjadi pada gadis bernama Liyani itu sebab setiap rekaman cctv di tempat tempat yang sudsh saya ketahui, menunjukan waktu yang sangat berdekatan ketika mobil melaju tanpa henti sedikitpun."
Arga menghela nafasnya. Antara lega dan masih banyak yang mengganjal dihatinya, Arga sebenarnya ingin tahu tentang apa saja yang dilakukan Liyani serta pengusaha itu didalam mobil. Hatinya masih belum tenang memikirkan hal hal yang tak pantas untuk Liyani lakukan sebab ia terlihat sangat polos dan lugu.
"Maaf tuan, jika tuan masih ragu dengan ucapan saya, maka tuan bisa tanyakan langsung pada orang yang bersangkutan"
"Apa kau sudah gila hah?! Mana mungkin aku menanyakan hal diluar konteks serta urusanku dengannya! Lagi pula aku membayarmu itu untuk mencari setiap informasi yang ingin ku ketahui mengenai banyak hal termasuk hal hal yang berkaitan dengan gadis yang mengaku sebagai Rindu dan gadis yang bernama Liyani"
"Ma..maafkan saya tuan. Saya tak bermaksud menentang perkataan serta perintah anda. Saya hanya ingin membuat anda yakin dengan jawaban serta informasi yang saya berikan"
"Ya sudah. Sekarang kau cari tahu identitas paman serta bibi Liyani. Dan ku tunggu informasimu dengan cepat" Arga mematikan telpon dengan perasaan yang masih kesal.
Hingga ia pun membalikan badannya dan terkejut ketika melihat seorang gadis tengah menatap dirinya.
__ADS_1