Takdir Cinta Ceo Psyco

Takdir Cinta Ceo Psyco
Cinta pandangan pertama


__ADS_3

Kini arga terpaku menatap sosok wanita yang tengah menatapnya. Mungkin saja wanita itu tahu tentang hal apa saja yang sudsh Arga katakan bersama tangan kanannya untuk mencari tahu identitas Liyani dan gadis yang mengaku sebagai Rindu itu.


"Ah, Rii...Rindu. Sej...jak kapan kau ada disini?" tanya Arga dengan gugup.


Kanaya yang tak tahu tentang apa yang dikatak Arga pun segera merangkul tangan pria itu dan mengajaknya untuk masuk kedalam kamar. Namun dengan cepat Arga menolaknya dan menyuruh agar Kanaya kembali masuk kedalam kamarnya lagi.


"Kenapa kau menolakku Arga? Kau kan sebentar lagi akan menjadi suamiku, lalu apa bedanya dengan sekarang?" tanya Kanaya dengan agresif.


Jujur dengan hal demikian pun Arga tahu bahwa sosok gadis yang saat ini berada di depannya bukan lah Rindu yang asli. Sebab walaupun lingkungan buruk sekali pun yang jati tempat tinggal Rindu. Arga yakin Rindu takan mau menggoda seorang lelaki apalagi dirinya yang notabene adalah sahabat masa kecilnya.


Rindu yang asli pasti akan canggung bahkan hanya untuk sekedar berpegangan tangan saja.


"Aku masih ada urusan. Kau tidurlah duluan. Nanti aku pun akan tidur di kamarku sendiri"


"Kenapa kau selalu menolakku Arga? Apa kau tak mencintaiku?" tanya Kanaya seraya mengerucutkan bibir mungilnya.


"Aku bukan tidak mencintaimu Rindu. Hanya saja aku masih pria yang bertanggung jawab dan masih waras. Aku takan menodai wanita yang selalu ku cintai bahkan sekalipun aku dalam keadaan sedang menginginkannya. Aku pria normal, namun akalku lebih mengutamakan tentang harga diri seirang wanita. Wanita seharusnya di jaga bukan dirusak. Apalagi wanita yang benar benar di cintai seorang pria sejati takan pernah ia lukai ataupun menjikannya sebagai budak nafsu saja. Aku lelaki setia dan aku lelaki sejati. Aku bukanlah pengecut ataupun bajing**n yang akan merusak kehormatan seirang gadis"


Kanaya tertegun. Baru kali ini ia mendapatkan sebuah penolakan dari laki laki. Padahal dulu setiap ia datang ke club ataupun berpacaran dengan mantan mantan kekasihnya terdahulu, mereka takan sanggup menolak ajakannya.


Arga merupaka sosok pria yang baik dan bertanggung jawab. Selain itu Arga adalah pria yang pertama kali menolak Kanaya dan inilah hal yang membuat Kanaya semakin tertantang untuk mendapatkan Arga.


"Ya sudah kalau begitu. Kau jangan tidur larut malam. Dan besok aku ingin membicarakan sesuatu padamu"


Arga terdiam. Apa yang sebenarnya ingin gadis ini katakan. Apakah Kanaya mendengarkan percakapannya tadi ditelpon? Arga terus saja berbicara dengan hatinya sendiri.

__ADS_1


"Iya. Sebentar lagi aku akan tidur. Aku akan ajak dulu Dion ke kamar tamu dan membiarkan Liyani beristirahat. Kau tidurlah yang nyenyak. Besok aku juga akan membicarakan hal penting denganmu"


Mata Kanaya berbinar binar seketika mendengarkan ucaoan Arga yang ingin berbicara hal penting dengannya. Kanaya terus saja berpikir mungkin saja Arga besok akan membicarakan acara lamaran serta pernikahan mereka.


"Aku pergi dulu. Dah Arga" Kanaya segera menc*m pipi Arga sekilas.


Sontak saja mata Arga membat sempurna kala mendapatkan ciu**man di pipinya yang baru saja ia dapatkan dari seirang gadis.


Sebelumnya bahkan jika ada yang berani menyentuh tangannya, Arga akan marah serta membentaknya. Namun kali ini Arga benar benar bingung sebab identitas gadis yang saat ini bersamanya masih samar samar dan belum dipastikan dia adalah Rindu.


Arga tersenyum dengan perasaan campur aduk dan berjalan meninggalkan kamar Rindu untuk segera menemui Dion dan Liyani.


Langakah kaki pria itu sangatlah ceoat, hingga tak sampai menunggu waktu lama, kini dirinya sudah ada di depan pintu kamar Liyani. Arga bahkan segera membuka pintu kamar gadis itu dan terkejut ketika melihat Dion yang tengah membelai pucuk kepala Liyani yang saat ini tengah terlelap.


"Gadis itu bisa bisanya tidur disaat ada pria asing disampingnya" Arga bergumam dengan kesal.


"Kau kenapa Arga?" tanya Dion dengan pelan.


Arga hanya diam saja hingga saat mereka sudah berada diluar kamar Liyani Arga pun mulai berani berkata sesuatu pada Dion.


"Kau apakan Liyani Dion!? Jangan kau macammacam dengannya ya. Kau bisa mendekati banyak gadis namun tidak dengannya" Arga mulai marah pada Dion namun Dion yang tak mengerti apapun hanya bisa terheran heran dengan sikap sepupunya tersebut.


"Kenapa aku tak bisa mendekati Liyani? Apa kau mencintai dia?"


Arga segera menatap Dion. Ia bahkan tak tahu dengan perasaannya sendiri.

__ADS_1


"Apa kau mencintai Liyani Arga? Jawab aku"


Arga terus saja diam tak menjawab perkataan Dion. Ia sangat menginginkan Rindu namun entah kenapa ia pun tak bisa melepaskan Liyani pada pria manapun.


"Aku mencintai Rindu" Jawab Arga dengan lirih.


"Kalau begitu maka aku bisa mendekati Liyani. Kita bisa melangsungkan dua pernikahan sekaligus.


Arga kembaki dibuat terkejut. Kini matanya hampir saja keluar ketika mendengar rencana pernikahan yang diucapkan oleh Dion.


"Apa kau gila Dion?! Kau baru saja bertemu dengan dia dan kau yakin akan menikahinya?"


"Ya! Tentu saja aku yakin. Semua yang kau bawa kerumah ini adalah pilihan yang baik dan aku tak pernah meragukan pilihanmu"


Arga mendengarkan ucapan Dion yang sangat membanggakannya. Tapi Dion tak tahu bahwa kali ini Arga pun merasa ragu dengan pilihannya untuk memilih gadis yang mengaku sebagai Rindu.


"Ya sudah kalau itu mau mu aku takan melarangmu. Aku hanya ingin kau memikirkan itu matang matang. Bicarakan dulu tentang Liyani pada ibu serta ayahmu. Aku tak yakin bahwa ibumu itu akan menerima Liyani"


Arga tahu betul sifat ibunya Dion yang sangat pemilih dan tak gampang menerima sosok asing di rumahnya. Arga bahkan tahu selera ibunya Dion yang tak mungkin menyukai Liyani yang sangat sederhana.


"Untuk urusan itu aku akan usahakan Arga. Ibuku takan mungkin menolak keinginan putra kesayangannya ini. Dia sangat mencintaiku dan akan ku pastikan dia juga mencintai Liyani. Bahkan memperlakukannya seperti putrinya sendiri"


Arga menghela nafasnya dengan panjang. Ia benar benar ragu dengan gadis yang ia pilih serta ragu dengan keikhlasannya melepaskan Liyani untuk didekati oleh Dion.


"Ini sudah malam. Kau tidurlah dikamar tamu dan beristirahatlah agar besok kita bisa bekerja dengan baik di kantor"

__ADS_1


Dengan semangat Dion menganggukan kepalanya dan mulai menutup pintu kamar Liyani dengan sangat rapat. Ia benar benar mencintai Liyani pada pandangan pertama, namun ia tak tahu bahwa sebenarnya Arga juga mulai menyukai Liyani.


Dion dan Arga mulai berjalan menuruni anak tangga untuk menuju kamar tidur mereka masing masing. Tanpa harus diberi tahu, Dion yang sering datang kerumah Arga pun mulai berjalan menuju kamarnya sendiri dan masuk kedalam kamar tamu.


__ADS_2