
Arga dan Rindu kini berjalan beriringan menuju dapur. Langkah mereka begitu senada saat menuruni anak tangga hingga Liyani yang sedang duduk diatas sofa ruang tamu pun sadar dengan kehadiran keduanya.
"Liyan!" teriak Rindu dengan semangat.
Liyani hanya tersenyum manis ketika melihat wajah Rindu yang tampak begitu ceria dan cerah. Ia bahkan menatap Arga yang menampilkan ekspresi risih saat Rindu terus saja menggelayut di tangan kekarnya.
"Kamu sudah makan?" tanya gadis yang mengaku sebagai Rindu.
"Ya aku sudah makan"
"Yah, kukira kita akan makan bersama malam ini. Tapi tak papa, berhubung kau sudah makan maka aku akan makan berdua bersama Arga" Rindu menatap wajah Arga yang saat ini tersenyum tipis padanya.
Ia kini mulai berjalan menuju arah dapur yang memiliki sekat dengan ruang tamu sehingga Liyani pun bisa melihat perlakuan lembut yang Arga berikan pada Rindu. Dalam hati, Liyani sangat merasa heran dengan kepribadian yang Arga miliki, sebab disatu sisi pria itu sangatlah baik dan di satu sisi ia sangatlah menyeramkan.
"Jika kau bosan nyalakan saja tv itu!" teriak Arga yang sedang menyuapkan sesendok makanan ke mulutnya.
Liyani pun merasa senang, sebab akhirnya ia tak harus mendengarkan tawa kedua manusia itu dan segera mengambil remot yang berada di atas meja ruang tamu.
Tv besar dengan speaker di sisi kanan dan kiri membuat Liyani takjub dengan benda tersebut. Hingga akhirnya ia pun menyalakan tv tersebut yang saat ini tengah menyiarkan sebuah berita pembunuhan.
Sesosok mayat pria ditemukan di dekat aliran sungai dengan lambang yang digoreskan oleh pembunuh itu membuat para polisi kebingungan sampai detik ini. Liyani yang sadar dengan sosok mayat didalam berita pun menatap ke arah Arga yang saat ini juga menatapnya dengan tajam. Sontak saja gadis itu merasa ketakutan dan membulatkan matanya ketika melihat Arga yang dengan lahap mengunyah daging di atas piringnya.
Wajah Arga nampak begitu dingin dan tak ada rasa penyesalan sedikitpun di matanya. Ia benar benar acuh dan seolah tak takut bahwa ia akan di jadikan sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan tersebut.
Liyani menelan salivanya menahan rasa takut dan gugup.
"Marak sekali ya pembunuhan saat ini, apapalagi pembunuhnya tak tahu tempat dan situasi. Semoga saja pembunuhnya bisa segera di tangkap" ujar Rindu dengan santai.
__ADS_1
Dengan cepat Arga tersenyum menanggapi ucapan Rindu yang begitu berharap dirinya segera di tangkap.
"Pembu** sepertinya pasti akan sulit ditangkap. Bahkan jika pun ia tertangkap pasti dia akan bebas kembali karena kurangnya bukti. Lagi pula aku ingin tahu seberapa cepat kerja mereka dalam mengusut kejahatan dengan seorang pembu* yang sama"
"Pasti dia akan tertangkap Arga. Lihatlah, dia begitu bod*h meninggalkan gambar seperti itu di tiap orang yang dia bun*h"
"kau sebaiknya jangan menilai kepintaran seseorang jika kau tak tahu siapa dia sebenarnya. Lagi pula memangnya ada berapa koraban yang orang itu bu**h* tanya Arga seraya menatap Liyani yang kini tengah menatap dirinya.
"Dia adalah pemb**h berdarah dingin. Ia bahkan tahu tiap titik pusat kehidupan seseorang yang ia bunuh sehingga walaupun dengan sekali tusukan korban itu akan ma**. Dalam. Setahun ini sudah tercatat tiga orang yang meninggal dengan gambar motif di tubuh tubuh korban, dan tubuh itu sama persis. Bahkan salah satunya adalah wanita"
"Wanita!" Liyani berteriak dengan keras sehimgga membuat Arga dan Rindu menatap ke arahnya.
"Mengapa kau terkejut?" tanya Arga.
Liyani segera menggelengkan kepalanya. Ia bahkan takut jika Arga akan melakukan hal yang sama pada dirinya jika banyak bicara.
"Aku pun juga terkejut pada awalnya. Namun aku tahu di dunia ini kita di kelilingi oleh orang orang yang sangat jahat dan mereka bisa memiliki topeng baik untuk mengelabui mangsanya"
"Kau pandai sekali Rindu. Bahkan orang yang membu**h kedua orang tua ku pun bertopeng baik dan berhasil mengelabui ayah dan ibuku sehingga keduanya ma*i terbunuh oleh dia"
Rindu terdiam. Ia menatap Arga seklias dan memcoba menenangkannya.
"Kau yang sabar Arga. Aku yakin kau pasti kuat menghadapi masalah ini"
"Tentu saja aku kuat. Aku akan membalaskan dendamku pada dia yang sudah menghabisi kedua orang tuaku. Bahkan aku bersumpah akan membuat tujuh turunan darinya menderita seumur hidup" Mata Arga seketika memerah, membuat Rindu dan Liyani terdiam.
Keduanya kemudian fokus kembali pada kegiatan masing masing, dan Liyani pun segera memindahkan saluran tv ke acara kartun. Matanya tak berhenti terpejam ketika melihat setiap gerakan yang dilakukan animasi tersebut di layar kaca. Bahkan Liyani pun tertawa dan tawanya berhasil membuat Arga seketika tertegun.
__ADS_1
"Tawa itu" gumam Arga pelan.
"Kau kenapa ?" tanya Rindu ketika sadar bahwa Arga tengah menatap ke arah Liyani.
"Ah, tidak papa. Aku hanya merasa berisik saja dengan tawa wanita itu"
"Maaf jika aku boleh tahu, siapa dia sebenarnya?"
Arga pun bergeming. Ia bahkan tak tahu harus mengatakan apa pada Rindu. Jika ia mengatakan bahwa ia pun tak tahu dengan Liyani, maka Rindu akan salah paham dan menganggap bahwa dirinya adalah pria tak baik.
"Dia...dia adalah sepupuku. Ya sepupuku. Dia adalah saudara pamanku dan bisa dibilang kita saudara jauh"
"Oh begitu. Ku kira dia, maaf seorang pembantu" ucap Rindu dengan pelan.
*****
Malam ini Arga tak bisa memejamkan matanya. Ia terbayang bayang wajah Liyani yang begitu lugu dan polos berbanding terbalik dengan Rindu yang selama ini cari.
"Apakah mereka tertukar" guamam Arga pelan.
"Tapi, jika memang mereka tertukar mana mungkin Liyani tak mengenaliku sedangkan Rindu bisa langsung tahu siapa diriku sebenarnya. Ini sungguh aneh. Tapi, bisa saja Rindu memang benar benar telah berubah karena dia di asuh oleh orang kaya di kampunnya dulu sehingga ia tumbuh menjadi gadis yang sedikit agresif karena pergaulannya dengan orang orang berada. Berbeda dengan keadaan Liyani, yang diasuh oleh kedua orang tuanya yang mungkin kurang mampu. Sehingga ia tumbuh menjadi gadis yang pemalu dan lugu"
"Ah aku benar benar bingung" Arga menutup wajahnya dengan selimbut dan mencoba menutup matanya.
Saat ini Liyani sedang menatap dirinya dari cermin dihadapannya dan mulai berkecamuk dengan pikirannya sendiri.
"Aku kini harus tinggal di rumah yang penuh dengan misteri. Pria yang membantuku tak lain adalah seorang psycopath yang sangat kejam. Ia bahkan tak segan membunuh wanita tak berdosa dan juga membunuh banyak orang tanpa rasa takut. Aku memang terbebas dari bibi tapi kini aku harus terperangkap di rumah yang setiap detiknya bisa menjadi waktu kematian ku"
__ADS_1