
Arga beranjak pergi dari kamar Liyani dan kembali menuju tempat Kanaya terakhir terlihat. Namun, gadis itu sudah pergi entah kemana sehingga membuat Arga memilih untuk kembali ke kamarnya dan merenungkan apa yang harus ia lakukan tentang Rindu dan tragedi pembantaian orang tuanya.
Kamar dengan nuansa serba putih dengan taburan hiasan yang sangat minim membuat kamar Arga tampak maskulin di pandang mata. Pria itu merebahkan tubuhnya yang terasa pegal dan mulai menatap langit langit kamarnya. Pikirannya berkelana kala mengingat semua kejadian yang terjadi di depan matanya begitu membuat hatinya sakit dan terluka.
Tepat di hadapannya sang ibu diseret oleh para perampok dan sang ayah di bunuh dengan sadis saat itu. Tepat di depan matanya juga, Rindu di culik dan Arga tak bisa melakukan apapun selain menangis dan menyalahkan dirinya yang lemah.
Kini dirinya tumbuh menjadi manusia yang tak punya hati dan dingin pada siapapun. Namun setelah kedatangan Liyani di rumahnya, ia menjadi pria yang sedikit mudah terbuka pada sekitar dan mampu menerima orang baru.
Mata yang kian lelah setelah seharian bekerja, membuat Arga tak terasa memejamkan matanya dan mulai berkelana menuju alam mimpinya. Mimpi yang buruk setiap malam membuat Arga tak bisa tidur dengan nyenyak bahkan satu malam pun.
Tepat pukul dua belas malam, Arga kembali mengigau dan merintih memanggil nama ibu serta ayahnya yang di dalam mimpinya sedang di seret dan di bantai secara sadis. Arga memanggil semua pelaku pembunuhan namun tak ada satu pun yang menghiraukannya bahkan ketika Arga mencoba menghalangi tubuh ibunya yang lemah tak berdaya.
Di dalam loteng ini, terlihat anak kecil sedang menangis dalam diam dan keringat yang membanjiri tubuhnya. Ia bahkan terlihat sangat pucat menyaksikan kejadian memilukan yang menimpa ayah serta ibunya.
Arga yang saat ini tengah bermimpi berada di tengah tengah kejadian tak bisa menahan dirinya untuk membalas semua perlakuan para pelaku pembunuhan itu dan berusaha meraih tubuh salah satu dari mereka. Hingga akhirnya salah satu pelaku itu mulai sadar dengan kehadiran Arga dan mulai mencoba menyakitinya.
"Dasar kepar*! Kau tega membunuh ayah dan ibuku! Kau benar benar ibl**!" Arga berteriak dengan kencang hingga membuat seisi ruangan menggema.
Namun pria dihadapannya justru tertawa melihat tingkah Arga yang seberani itu. Pria itu mulai mencengkram lengan Arga namun Arga mampu membalikan tubuh penjahat itu dan membantingnya sampai ke dinding ruangan.
Tak lama kemudian Arga pun berlari menuju tubuh wanita yang saat ini tengah merintih kesakitan dengan luka di sisi bibirnya yang mengeluarkan banyak darah. Pakaian wanita itu tampak lusuh dan rusak. Ada banyak sekali bekas robekan di baju tersebut sehingga membuat wanita di hadapannya tampak begitu menyedihkan.
"Ibu" ucap Arga seraya membelai pipi ibunya.
__ADS_1
Namun tak lama kemudian datang seorang pria membawa senjata api dan menembakannya tepat ke kepala Arga hingga membuat Arga tersadar dan terbangun dari mimpi buruknya.
Nafasnya begitu memburu beriringan dengan keringat yang mengalor deras dari keningnya. Semua mimpi yang Arga alami merupakan keinginannya menyelamatkan sang ibu serta rasa trauma yang masih ia simpan di dalam hatinya.
Mimpi itu membuat Arga lebih berani dalam bertindak sekaligus membuat dirinya menjadi seorang psycopath yang mampu membunuh siapapun orang jahat. Arga benar benar sangat cerdik dan pandai hingga beberapa kali kasus kematian yang melibatkan dirinya tak mampu terungkap oleh kepolisian sebab Arga ahli dalam hal menghilangkan sidik jarinya.
Kemanapun pria itu pergi, ia selalu menyimpan rapih sarung tangan karet di dalam sakunya, sehingga juka sewaktu waktu ada orang yang ingin sekali ia bunuh, ia bisa menghalangi sidik jari di tangannya agar tak menempel di tubuh sang korban.
Liyani tiba tiba saja terbangun ketika mendengar suara suara aneh yang berasal dari kamar Arga. Ia bangkit dan berjalan menuju kamar pria itu hingga tak memperdulikan apa resiko yang akan ia terima setelahnya.
Arga yang baru saja terbangun dari mimpinya kembali berbaring dan mencoba memejamkan matanya namun tak bisa. Sehingga pria itu memilih untuk berbaring dengan mata yang tetap terjaga sampai sampai listrik di rumahnya tiba tiba saja padam dan menjadikan seluruh rumahnya menjadi gelap gulita.
Liyani yang sadar dengan listri di rumah tersebut padam sedikit merasa lega sebab sekarang ia bisa lebih leluasa untuk mengecek kondisi pria yang membawanya ke tempat tersebut. Liyani tiba tiba saja merasa khwatir dan ingin sekali mengecek kondisi Arga di dalam kamarnya.
Arga yang sadar bahwa ada seseorang masuk kedalam kamarnya mulai bersiaga.
"Apakah ada yang menganggu tuan?"
Arga kembali diam, tak menjawab pertanyaan dari wanita yang sudah ia ketahui bahwa itu adalah Liyani. Arga masih ingin tahu maksud dan tujuan gadis itu berani masuk ke dalam kamarnya.
"Ma...maafkan aku jika masuk ke sini dengan lancang. Tapi aku hanya ingin memastikan bahwa tuan baik baik saja sebab beberapa kali aku mendengar tuan sedikit berteriak tadi"
Liyani mulai mendekat ke arah Arga yang masih berbaring dengan posisi badan membelakangi pintu.
__ADS_1
"Tuan tidur?" Liyani kembali bertanya namun tak ada jawaban. Hingga akhirnya langkah wanita itu terdengar mulai menjauh dari tubuh Arga.
Liyani berjalan dengan cepat sebab ia takut Arga terbangun dan memarahinya . Bahkan Liyani pun tak melihat bahwa ada paku tajam yang jatuh dari dinding dan menusuk kakinya.
Liyani merintih kesakitan sebab paku tersebut cukup dalam menancab di kakinya hingga membuat kakinya berdarah cukup banyak. Arga pun mulai panik dan beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan mendekati Liyani. Raut wajah pria itu terlihat sangat khawatir sampai sampai ia pun mengamgkat tubuh Liyani dengan spontan dan mendudukannya di atas tempat tidur.
Ruangan yang gelap gulita dengan cahaya bulan yang mengintip dari balik tirai jendela, membuat Arga membeku kala dirinya tepat beberapa sentimeter dari tubuh Liyani.
Tatapan mata keduanya beradu dan larut dalam suasana malam ini. Keduanya saling bertatapan dan tanpa sadar Arga pun mulai mendekatkan wajahnya ke arah wajah Liyani yang tepat berada di hadapannya.
Semakin dekat Arga mendekatkan wajahnya kepada Liyani hingga tiba tiba saja lampu dikamar tersebut menyala secara tiba tiba.
Arga yang salah tingkah langsung bangkit dan berjalan menuju lemari kamarnya untuk mengambil obat merah.
"Ka...kau ini kenapa ceroboh hah?!"
Liyani terdiam, ia masih merasa salah tingkah dengan tindakannya yang baru saja memejamkan mata kala Arga mendekatkan wajahnya.
"Ak..aku tadi..tadi"
"Ah kenapa kau masuk ke kamarku? Apa kau mau mencuri sesuatu?" Arga kembali menatap Liyani dari jarak yang dekat.
Bahkan dengan spontan Liyani pun berbaring sebab terkejut dan takut Arga akan menci**m dirinya.
__ADS_1