
"Atas nama Arga?" ucap pria berhelem logo salah satu jasa pengantar paket pada Arga.
"Iya saya sendiri"
"Maaf pak ini ada paket untuk anda. Mohon tanda tangan disini sebentar" Pengantar pajet tersebut segera menyodorkan sebuah kertas dan satu pulpen pada Arga.
Dengan cepat pria itu kini mulai menandatangani kertas tersebut dan kembali menyerahkannya pada sang pengantar paket.
Arga bahkan merogoh kantung saku celananya dan memberikan selembar uang berwarna merah pada kurir tersebut.
"Ini untukmu"
Raut wajah pengantar paket tersebut seketika tampak bahagia. Ia bahkan terkejut dengan tindakan Arga yang begitu baik hati padanya.
"Ini terlalu banyak pak" ucap sang kurir dengan sungkan.
Arga kemudian tersenyum dan mulai terlihat ramah pada sang pengantar paket istimewanya.
"Ambilah. Itu rezeki untukmu. Terimakasih banyak karena telah mengantarkan paketku sepagi ini" Arga perlahan kembali berjalan menuju halaman rumahnya.
Ia bahkan segera berlari menuju dalam rumahnya dan menatap sekeliling rumahnya yang tampak sepi sebab Dion dan Rindu masih di dalam dapur membereskan bekas sarapan tadi, sedangkan Rindu palsu entah pergi kemana.
Arga pun berlari menaiki anak tangga dan berjalan menuju kamarnya untuk segera membuka paket. Arga menutup pintunya dengan rapat dan mulai duduk di atas ranjang dengan perasaan sangat senang.
__ADS_1
"Ini yang selama ini aku tunggu" Arga segera mengambil sebuah cutter dan mulai membuka plester yang menempel pada kardus paket tersebut.
Perlahan lahan Arga membuka paket tersebut dan nampaklah dengan jelas bahwa kini seragam lama cinta masa kecilnya ada di tangan Arga. Seragam sekilah dasar dengan warna yang mulai luntur, serta name tag yang tertera disana sudah rusak membuat Arga tersenyum kecil dan yakin bahwa Liyani adalah Rindu yang asli.
Arga tampak bahagia dan mulai memeluk seragam tersebut hingga air matanya pun sedikit jatuh.
"Kau ada disini Rindu. Aku mencarimu selama ini dan membawa gadis asing yang mengaku dirimu. Tapi aku masih ragu dengannya sebab aku yakin, kaulah Rindu yang asli"
Arga segera menghubungiorang kepercayaannya dan mulai menyuruh orang tersebut untuk mencari tahu siapa gadis yang menyamar sebagai Rindu di rumahnya. Arga benar benar sangat marah dan akan menyiapkan rencana balas dendam untuk gadis tersebut beserta orang yang berada di balik kepalsuan yang dibuat oleh gadis itu.
Nomor mulai di tekan oleh Arga. Ia kini sudah tersambung dengan tangan kanannya dan memintanya untuk segera mencari tahu siapa sebenarnya gadis yang mengaku sebagai Rindu. Arga bahkan akan mengambil DNA ayah dari Rindu dan mencocokannya dengan dua wanita di dalam rumahnya.
***
"Bagaimana ini ayah? Arga ku rasa sudah mulai curiga denganku. Dia bahkan seakan acuh pada apapun yang aku lakukan untuknya. Aku benar benar ingin menikahinya ayah. Aku cinta dia"
Pria paruh baya di sebrang telpon pun juga merasa sangat khawatir. Apalagi ia baru saja tahu bahwa Arga adalah dalang pembunuhan pria yang ia temukan di pinggir sungai. Ayah Kanaya mulai tahu bahwa Arga adalah seorang pembunuh berdarah dingin dan ia takut Kanaya ataupun dirinya akan dilukai oleh pria tersebut.
"Ayah membunuh keluarga Arga untuk mendapatkan perusahaan yang ia miliki. Ayah yakin jika saja Arga pun mati, maka om nya itu akan merasa tertekan dan menjual semua properti yang ia miliki pada ayah. Ayah sengaja mengeluarkanmu dari sekolah dan menculik Rindu yang asli untuk mengelabui Arga yang tampak begitu bergantung pada gadis itu. Tujuh belas tahun ayah membuatmu harus tinggal di kampung itu bersama sahabat ayah hanya untuk bisa menikahi Arga ketika kalian sudah dewasa. Tapi sepertinya takdir mempermainkan ayah. Setakh rencana ini akan terwujud, ia malah mempertemukan Arga dengab Rindu yang asli"
"Apa ayah tak pernah berpikir sebelumnya jika ayah tetap membuat Rindu hidup, maka ia akan menjadi boomerang untuk kita? seharusnya ayah membunuh dia dan bukannya membuangnya hingga sampai di kampung tempat aku hidup semasa kecil"
"Itulah kesalahan ayah terbesar. Dulu aku tak tega membunuh gadis itu sebab ayah melihat ia seusia denganmu. Saat itu ayah kira gadis itu akan selamanya tinggal di kampung itu sampai ia menikah dan mati disana. Namun, dia justru datang ke kota dan sialnya dia bertemu dengan Arga sebelum dirimu"
__ADS_1
"Jadi sekarang apa ayah?"
Pria di sebrang telpon mulai mengehela nafasnya. Ia benar benar bingun dengan apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
"Sekarang ajak saja Arga menikah denganmu. Siapa tahu masih ada waktu untum membuatnya bisa menikahimu dan membalikan semua aset properti yang ia miliki atas namamu. Ayah yakin kau bisa merebut semuanya. Ayah juga akan merebut bisnis si tua Galang. Ia tahu tentang rencana pembunuhan yang ayah lakukan, bahkan ia pun turut menyewa para pembunuh bayaran untuk menghabisi ayah serta ibu Arga"
"Apa ayah yakin dia takan memberitahukan apapun pada Arga tentang kejahatan ayah jika sampai Arga tahu tentang aku yang merupakan Rindu palsu"
"Haahahah tentu saja ayah sudah menyiapkan rencana yang bagus untuknya. Jika ayah di penjara dan di hukum mati, maka ayah takan takut sebab ayah juga punya rekan sesama penjahat. Galang Wijaya juga akan terseeret dan Arga yang sudah menganggap pria itu sebagai ayahnya akan sangat murka bahkan akan melenyapkannya begitu ia tahu ayah dari orang yang ia cintai ikut dalam pembunuhan kedua orang tuanya"
Kanaya tersenyum licik. Ia harus segera mengajak Arga menikahinya dan membuatnya bertekuk lutut padanya. Walaupun demikian, Kanaya yakin jika sampai Arga menikahinya dan tahu bahwa ia bukanlah Rindu yang asli, setidaknya ia takan bisa mati konyol oleh pria psycopath tersebut sebab ia akan menyewa beberapa algojo dan ajudan untuk menjaganya dari pria tersebut.
Saat ini Arga bahkan sudah yakin mengenai kepalsuan yang Kanaya buat untuk mengelabui Arga. Pria itu kini mulai mengetuk pintu kamar Kanaya untuk melakukan sesuatu yang bisa membongkar identitas asli gadis tersebut.
"Siapa?" teriak Kanaya dengan kencang.
Kanaya berjalan menuju pintu dan mendapati Arga tengah tersebut di depan kamarnya. Arga bahkan dengan sengaja memeluk tubuh Kanaya dan mengusap rambutnya tangan tangan kekar Arga yang sudah sengaja memakai jam tangan.
Dengan sedikit bantuan serta kecerdasan yang ia miliki, Arga mulai mengacak ngacak rambut Kanya seolah terlihat gemas dengan gadis tersebut agar rambut Kanaya bisa tersangkut di jam tangannya walauoun beberapa helai saja.
"Awhhh sakit" rengek Kanaya dengan manja.
Kanaya merasakan sakit di bagian kepalanya akibat rambutnya terlepas beberapa helai. Namun syukurnya, ia tak curiga dengan Arga yang melakukan tindakan tersebut.
__ADS_1