
Beberapa hari kemudian.
Suasana rumah tampak ramai sejak pagi hari. Hari ini merupakan hari bersejarah untuk Rama dan Rima, karena di hari ini mereka akan mengikrarkan janji suci pernikahan sehidup semati. Acara di mulai dengan proses lamaran yang telah di lakukan di rumah Rima sejak pagi hari. Keluarga Rama membawa berbagai macam seserahan ke rumah gadis itu. Walaupun acara ini terkesan mendadak namun tidak mengurangi kebahagiaan kedua belah pihak.
Usai proses lamaran yang di persingkat, seluruh keluarga segera menuju ke rumah Rama untuk persiapan ijab kabul. Rima sangat cantik dengan balutan kebaya putih dan riasan yang natural, sementara Rama tampil gagah dengan memakai jas yang senada dengan calon istrinya.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Ananda Rama Yuda Fahrenza Bin Ahmad Malik dengan anak saya yang bernama Rima Tsania Azzahra dengan maskawinnya berupa seperangkat alat shalat, uang tunai senilai satu juta delapan puluh ribu delapan ratus rupiah, dan cincin emas seberat 5 gram dibayar tunai,"
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Rima Tsania Azzahra binti Tono Mahendra dengan mas kawinnya yang tersebut, tunai,"
"Bagaimana para saksi? Sah?"
"Sah..."
Suara hadiran menggema memenuhi seluruh ruangan. Air mata haru jatuh di mata orang tua dan kerabat mereka. Rima mencium tangan suaminya untuk pertama kalinya dengan takzim. Mereka segera menyalami para hadirin.
Tak terasa semua acara telah selesai, mereka bisa beristirahat untuk sejenak.
"Rama, ajak istri mu masuk untuk beristirahat. Biar semua orang-orang yang menangani. Besok kalian masih harus melakukan resepsi yang menguras tenaga, istirahatlah," titah ibunya.
"Iya Bu, ini juga mau istirahat," jawab Rama.
Mereka berdua akhirnya masuk ke dalam kamar Rama. Namun karena kamar mandi ada di luar, mereka harus keluar lagi untuk membersihkan tubuh, baru bisa masuk ke kamar lagi untuk beristirahat.
"Rama, sekarang kita sudah resmi menjadi suami istri. Apa kamu merasa bahagia?" tanya Rima sembari berbaring di samping suaminya.
"Tentu saja aku bahagia, bagaimana dengan perasaan mu?" tanya Rama.
"Aku tentu saja bahagia," jawab Rima.
Karena rasa lelah dan kantuk yang sangat, mereka cepat sekali terlelap. Mereka tidur sambil saling berpelukan.
Hidup baru sudah di mulai dalam babak kehidupan mereka. Dua orang manusia telah menjadi satu dalam ikatan pernikahan yang suci. Berjanji untuk saling setia, mengerti dan menghargai satu sama lain.
☆☆☆
__ADS_1
Keesokan harinya.
Kesibukan masih terlihat di kediaman orang tua Rama. Banyak kerabat dan tetangga yang berbondong-bondong membantu dalam acara pernikahan Rama dan Rima. Ada yang membuat kue, bumbu dan masakan. Mereka hanya membuat sebagian saja, sisanya mereka memesan dari luar. Kerabat pak Ahmad memang banyak sekali sehingga banyak sekali yang membantu, apalagi ini merupakan hajatan mereka yang pertama kalinya.
Tenda pernikahan telah terpasang dari mulai teras hingga menutupi sebagian jalan raya. Dekorasi pernikahan sangat indah, walaupun tidak terkesan mewah tapi sangat elegan. Kedua mempelai telah di rias sejak sehabis dzuhur.
"Massya allah, istrinya cantik sekali. Pandai sekali kamu mencari gadis, Rama," puji si penata rias.
Rama hanya tersenyum menanggapi, namun hatinya memang mengakui jika Rima benar-benar cantik. Apalagi dengan mengenakan busana pengantin, semakin menampakkan aura kecantikannya.
"Selamat ya Rama, nenek tidak menyangka kamu akan secepat ini menikah. Semoga langgeng sampai kakek nenek,"
Neneknya yang datang dari desa memeluknya dengan air mata berlinang karena terharu. Baru sekitar seminggu yang lalu wanita itu menampung cucunya di rumahnya, kini pria yang di anggapnya masih kecil ternyata sudah resmi menjadi seorang kepala keluarga.
Karena mengusung adat jawa yang lumayan padat acaranya, maka proses resepsi di mulai sejak sore hari. Tamu undangan tidak henti berdatangan, dari mulai tetangga, teman sekolah, teman kerja Rima, saudara serta teman dari orang tua mereka turut hadir memberikan selamat.
"Selamat ya Rima, selamat ya Rama,"
Danu dan beberapa teman sekolah mereka memberi ucapan selamat secara bergiliran. Mereka senang melihat teman-temannya datang. Tak terasa malam semakin larut, acara resepsi pun telah usai. Perias pengantin telah melepas dan mengemas pakaian serta perlengkapan yang di pakai saat upacara.
"Iya, aku juga mau mandi setelah ini," balas Rama.
Saat semua orang masih menikmati sisa-sisa pesta tadi, kedua mempelai telah memasuki kamar pengantin. Tidak ada yang spesial dengan kamar mereka, hanya saja lebih rapi dan wangi dari sebelumnya.
"Rima, ini adalah malam pengantin kita,"
Rama seakan memberi kode kepada istrinya.
"Iya, aku tahu. Memangnya kenapa?" tanya Rima dengan polosnya.
"Astaga Rima, kamu memang lugu apa pura-pura sih," jawab Rama sedikit kesal.
Rima tersenyum, lalu mendekati suaminya perlahan.
"Sekarang kita sudah sah, aku siap kapan pun kamu mau, Sayang," ucap Rima dengan senyum menggoda.
__ADS_1
"Tapi masih banyak orang di luar, kita pemanasan saja ya. Kalau lelah kita tidur dulu, tidak enak kalau sampai kedengaran mereka yang di luar," balas Rama.
Kamar Rama memang berada di depan, bersebelahan dengan ruang tamu. Pasti banyak orang yang keluar masuk di dekat kamarnya, walaupun suara sound system masih terdengar walau tidak terlalu keras, tetap membuat keduanya takut kelepasan ketika bercinta nanti.
"Kalau begitu kita tidur dulu saja ya, aku juga merasa lelah," ucap Rima.
"Ya sudah sini aku peluk," balas Rama.
Mereka tidur berpelukan, terlihat begitu bahagia. Karena kelelahan keduanya tidak bangun sesuai kesepakatan di awal. Mereka terlelap sampai pagi menjelang.
☆☆☆
"Rima, ayo ikut ibu ke pasar," ajak bu Yani.
"Iya Bu, aku ganti baju dulu ya," jawab Rima.
Menantu dan mertua itu cukup akur, mereka jalan beriringan ke pasar untuk membeli bahan untuk membuat masakan.
"Bu, masakan yang waktu pesta kan masih banyak, kenapa masih belanja lagi?" tanya Rima.
"Sudah ibu bagi-bagikan ke tetangga dan saudara. Lagian orang rumah pasti sudah bosan makan itu Rima," jawab bu Yani.
'Ya Allah enaknya jadi orang kaya bisa makan apa saja yang mereka mau. Padahal masakan pesta masih banyak dan enak-enak, sedangkan di rumah kadang lauk sampai 3 hari masih di makan,' batin Rima.
"Wah sayang sekali, padahal masakannya enak-enak Bu," ucap Rima jujur.
"Memangnya kamu mau? Kalau mau ambil saja Rima, masih ada sebagian di dapur. Berikan saja kepada orang tua mu, ambil juga kue dan buah itu masih banyak di kulkas," balas bu Yani.
"Benar boleh, Bu?"
"Iya ambil saja, jangan sungkan kita sekarang adalah keluarga,"
Rima begitu senang, ternyata ibu mertuanya baik tidak seperti yang ada di sinetron yang selalu berlaku buruk kepada menantunya.
Hidup memang pilihan, tapi kebahagiaan kita yang menentukan. Manusia adalah tempatnya salah, namun jangan biarkan kesalahan menjadikan alasan untuk membuat kesalahan menjadi semakin salah.
__ADS_1