
Bukan hanya raga Rima yang lelah, namun jiwanya juga terasa letih. Pernikahan mereka sudah terbilang cukup lama, namun sifat suaminya belum juga berubah. Pergi sulit, bertahan juga pasti tidak mudah. Sampai kapan ia harus menjalani pernikahan seperti ini? Ia seolah berjuang sendiri, suaminya tidak mau tahu apa yang dia rasa. Ia harus melakukan semua pekerjaan itu sendiri.
Memang Rama membantunya mengurus Rendra saat ia bekerja, namun saat ia sampai di rumah semua akan kembali menjadi tanggung jawabnya pun saat dia merasa begitu lelah. Rama tidak peduli lagi, setelah ia datang bekerja suaminya langsung keluar nongkrong dengan teman-temannya. Ternyata ibu mertuanya mengeluh hal yang sama, beliau yang memang sudah mulai merasa lelah karena menjaga Rendra sendiri. Rama tidak peduli dengan putranya. Ia akan keluar tidak lama setelah Rima berangkat dan baru kembali saat sore menjelang.
"Lalu apa yang harus kita perbuat, Bu? Rama tidak bisa di biarkan terus begini?" tanya Rima.
"Dia semakin ke sini tingkahnya semakin semaunya, ibu lelah menasehatinya. Kamu bekerja justru dia senang karena semakin bebas," jawab bu Yani.
"Tapi aku butuh uang untuk keperluan Rendra dan juga yang lainnya Bu. Jika tidak bekerja bagaimana aku mencukupi semuanya,"
Rima pusing sendiri memikirkan bagaimana caranya membuat Rama berubah jadi bertanggung jawab.
"Ya kalau kamu tidak kerja, Rama harus berusaha mencari kerja,"
"Baiklah, apa salahnya di coba. Tapi aku tidak bisa berhenti sekarang, paling tidak aku bisanya setelah gajian bulan depan. Aku juga harus meminta izin kepada pak Agung dulu,"
Mereka sepakat melakukan rencana itu bulan depan.
☆☆☆
"Wah terima kasih ya Rama, sering-sering mentraktir begitu," ucap Dimas.
"Iya Rama, kalau bisa tiap hari, hahaha..." sahut yang lainnya.
"Ya doakan saja, aku banyak rejeki agar bisa sering mentraktir kalian," balas Rama.
Mereka memesan sesuka hatinya, makan, minum dan rokok. Walaupun hanya bertiga lumayan merogoh kocek Rama.
"Wah uang ku sudah sisa 150 ribu, semua gara-gara Rima yang pelit,"
Entah manusia seperti apa Rama ini, dia justru sibuk menyalahkan istrinya tanpa berkaca atas tindakannya. Ia tidak bersyukur memiliki istri sebaik Rima.
☆☆☆
Keesokan harinya.
"Bu, bos ku mengajak ku keluar kota hari ini karena ada meeting dengan klien. Tapi kita tidak pergi berdua, ia juga mengajak istri serta anaknya," ucap Rima.
"Apa kamu menginap, Sayang?" tanya bu Yani.
"Tidak kok Bu, hanya saja mungkin sampai sini sedikit malam. Aku titip Rendra ya Bu, aku yakin Rama tidak bisa di diandalkan,"
Raut wajah Rima menjadi sedih.
"Apa kamu sudah bilang kepada suami mu?"
__ADS_1
Rima menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana mau bilang, aku datang ia hanya meminta uang. Setelah dapat ia langsung pergi. Aku tidak tahu jam berapa dia pulang. Sampai sekarang dia masih juga belum bangun,"
Rima sudah terlalu sering kecewa, sekarang ia hanya pasrah dan berusaha menjalani sekuat tenaga.
"Benar-benar keterlaluan anak itu. Dia semakin malas dan memanfaatkan kamu, Rima. Sebaiknya memang lebih baik kamu berhenti secepatnya, agar dia bisa berpikir lebih dewasa,"
Keduanya geram melihat tingkah Rama yang semakin keterlaluan.
☆☆☆
"Rama, cepat bangun. Ini kamu urus Rendra, ibu hari ini harus pergi ke rumah tante mu. Mungkin baru kembali sore atau malam," ucap Bu Yani.
"Memangnya ini jam berapa, Bu?"
Rama masih malas untuk membuka mata. Semalam Ia pulang tengah malam dan masih bermain game online hingga subuh, wajar saja dia masih sangat mengantuk.
"Setengah 9. Sudah cepat mandi sana, aku harus segera berangkat,"
"Rima kemana Bu, kasih saja Rendra padanya. Dia kan belum berangkat kerja,"
Bu Yani berkacak pinggang, kesabarannya telah habis.
"Lalu fungsi mu apa di dalam pernikahan kalian jika semua pekerjaan kamu serahkan pada istri mu? Dia sudah berangkat baru saja karena harus ke luar kota,"
"Berangkat ke luar kota? Kenapa dia tidak bilang pada ku?"
"Apa kamu peduli kepadanya? Setelah dapat uang kamu pergi bersama teman mu. Saat dia bangun kamu masih tertidur pulas. Kapan dia bisa bilang kepada mu?"
Rama langsung kena mental. Apa yang di katakan ibunya memang benar. Dia bahkan tidak mengerti rasa lelah yang istrinya rasakan. Ia segera mandi.
☆☆☆
"Apa? Jadi ibu berpura-pura keluar? Apa Rama bisa di diandalkan Bu, aku takut Rendra kenapa-kenapa?"
Rima menelepon ibu mertuanya saat istirahat. Tadinya ia ingin menanyakan keadaan putranya, ternyata bu Yani bercerita jika sedang mengerjai Rama.
"Tenang saja, aku menyuruh Rangga mengawasinya secara sembunyi-sembunyi,"
"Astaga, ibu niat sekali,"
Rima ingin tertawa tapi takut dosa.
"Aku yakin dia pasti menjaganya. Hanya selama ini dia bermalas-malasan karena ada kita yang menjaga," ucap Bu Yani.
__ADS_1
"Baiklah Bu, tolong nanti di kabari lagi perkembangannya ya,"
Rima meneruskan makan siangnya yang tertunda.
☆☆☆
"Oek... oek... oek... mamama,"
Rendra dari tadi tidak berhenti menangis, pasal Rama sudah memberinya susu.
"Kamu kenapa sih Rendra? Sudah tahu tidak ada siapa-siapa malah rewel," ucap Rama kesal.
Rama menggendongnya seperti biasanya istrinya menggendong saat anaknya itu rewel. Namun Rendra belum juga berhenti menangis.
Tut... tut... tut...
Sudah beberapa kali menghubungi Rima tapi tidak di angkat.
Tut... tut... tut...
Ia mencoba menelepon ibunya.
"Halo, ada apa Rama?" tanya bu Yani.
"Ibu kapan pulang? Ini Rendra rewel sekali aku tidak bisa mendiamkannya," jawab Rama.
"Ya kamu berusaha, masa iya merawat anak sendiri tidak bisa. Ibu masih lama,"
Bu Yani langsung menutup teleponnya. Sebenarnya ia tidak tega mendengar tangisan cucunya, tapi apa boleh buat. Ia harus membuat Rama mengerti betapa susahnya tugas seorang wanita.
"Aduh ibu gimana sih, kok teleponnya malah di tutup. Aku harus minta bantuan siapa ini,"
Rama cemas melihat anaknya masih menangis, ia menggendong Rendra dengan gendongannya. Ia melakukan seperti yang biasanya istri dan ibunya lakukan. Ia menyanyikan lagu-lagu untuk Rendra. Karena kelelahan akhirnya Rendra tertidur.
"Syukurlah, dia sudah tidur. Pundak ku sudah pegal sekali,"
Rama mendirikan Rendra di kasur perlahan, ia akhirnya bisa bernafas lega. Baru saja ingin memejamkan mata karena kecapaian Rendra menangis lagi.
"Aduh Rendra, tega sekali kamu membuat susah ayah mu ini,"
Rama terpaksa kembali menggendongnya, ia mulai menyanyikan lagu lagi agar Rendra bisa tidur lagi. Sekitar 30 menit baru ia bisa tertidur. Namun baru saja akan di letakkan Rendra rewel lagi. Rama terpaksa menggendongnya lagi.
"Astaga, ternyata capek sekali mengurus anak kecil. Kenapa wanita bisa kuat ya?"
Karena takut Rendra terbangun lagi, ia tidak meletakkan Rendra lagi walaupun sudah tertidur. Ia memilih tidur dengan menggendong anaknya dengan posisi duduk di kasur.
__ADS_1
Rasakan itu Rama, memang enak di kerjain. Hihihi...