
Keesokan harinya.
Hari ini Rima izin kepada bosnya untuk tidak masuk bekerja, ia tidak tega meninggalkan ibunya sendirian dalam keadaan sakit begitu.
"Rima, ibu sudah membaik. Ibu juga sudah bisa jalan dan makan sendiri, lebih baik kamu pulang saja,"
Bu Santi tidak enak karena harus menjaga dirinya putrinya jadi bolos kerja, bahkan Rendra terpaksa di titipkan kepada mertuanya.
"Ibu jangan berkata begitu. Aku akan pulang dulu sebentar menjemput Rendra karena asi di kulkas mungkin tidak cukup, aku akan membawanya kemari,"
"Sudahlah Rima, kamu tidak perlu kembali lagi. Nanti malam juga ibu akan minta pulang, ibu tidak betah di sini,"
Keduanya sama-sama kukuh dengan pendiriannya.
"Aku akan kemari lagi, ibu harus menurut. Aku pergi dulu,"
Rima tidak mau mendengarkan ucapan ibunya. Wanita itu selalu merasa sungkan, padahal Rima adalah putri kandungnya.
☆☆☆
"Bagaimana keadaan ibu mu, Sayang?" tanya bu Yani.
"Sudah membaik Bu, aku akan membawa Rendra kesana. Ibu memaksa pulang ke rumah nanti malam," jawab Rima.
"Kalau kamu mau merawat ibu mu tidak masalah Rima, yang penting asi untuk Rendra jangan sampai kehabisan stok,"
"Lihat nanti saja Bu, soalnya ibu ku orangnya tidak suka merepotkan,"
"Kamu kan anaknya Sayang, jadi ya wajar,"
"Aku mau lihat Rendra dulu, Bu,"
Rima masuk ke dalam kamarnya. Ternyata Rama sedang menemani anaknya bermain.
"Halo Sayang, kamu haus tidak?" tanya Rima.
Melihat ibunya Rendra sangat senang, ia merangkak dengan badannya ke arah Rima. Rima segera menggendong putranya dan menyusuinya.
"Apa kamu akan ke puskesmas lagi?" tanya Rama.
"Iya, Rendra akan aku bawa," jawab Rima.
"Apa tidak ada saudara lain yang menjaga. Kamu sampai tidak masuk kerja, gaji mu pasti di potong nanti,"
Ternyata bukannya prihatin dengan keadaan ibu mertuanya, justru uang yang suaminya pikirkan.
"Jika kamu yang terbaring sakit, lalu anak mu tidak mau merawat mu, bagaimana perasaan mu?"
Rima mulai kesal, suaminya tidak berempati sama sekali dengan keadaan ibunya.
"Kok kamu bicara seperti itu sih? Kamu nyumpahin aku sakit?"
__ADS_1
Rama merasa tidak senang dengan kata-kata istrinya.
"Aku tidak mendoakan, hanya saja memberi contoh. Jika seandainya kamu di posisi ibu yang sedang sakit, tapi anak mu tidak mau merawat, kira-kira bagaimana perasaan mu?"
"Ya tentu saja marah dan tidak senang,"
"Lalu mengapa kamu seolah keberatan aku merawat ibu? Apa uang lebih penting untuk mu? Jika kamu tidak bisa membantu setidaknya jangan membuat orang sakit hati,"
Rima segera menyiapkan perlengkapan Rendra. Popok, makan, minyak telon dan lain-lain.
"Aku pergi dulu, assalamualaikum,"
Rima keluar dari kamarnya dan berpamitan kepada bu Yani.
☆☆☆
"Kenapa kusut sekali wajah mu?" tanya Dimas.
"Ibu mertua ku sakit, dari kemarin istri ku sibuk merawatnya. Hari ini sampai bolos kerja," jawab Rama.
"Ya wajar dong. Lalu apa masalahnya?"
"Kalau dia tidak kerja otomatis berpengaruh pada gajinya dong,"
"Astaga Rama, itu kan orang tua kandungnya. Siapa lagi yang menjaga kalau bukan Rima, ayah mertua mu kan punya wanita lain. Harusnya kamu prihatin dengan kondisi Rima dan ibunya. Kamu malah memikirkan gaji yang di potong, parah kamu,"
Dimas hanya bisa geleng-geleng kepala dengan pemikiran temannya itu. Walaupun dia bukan anak yang baik tapi tentu saja lebih peduli kepada keluarga di banding Rama.
☆☆☆
"Aku sudah bekerja kembali dua bulan ini Bu, aku sungkan dengan orang tua Rama. Sebenarnya lelah sekali rasanya, Rama jarang sekali mau membantu pekerjaan ku. Tapi kalau urusan minta uang dia nomor satu,"
Rima menjelaskan secara global tentang keadaan pernikahannya.
"Apa dia masih sering berbuat kasar terhadap mu?"
Rima menggeleng.
"Sudah tidak Bu, biasanya dia akan memilih pergi jika bertengkar,"
"Setidaknya Rama lebih baik dari ayah mu. Ayah mu tidak pernah takut kepada siapa pun, apalagi sejak kita merantau ke kota. Ia semakin semena-mena dan selalu berbuat kasar,"
Setiap mengingat perlakuan kasar suaminya hatinya terasa sakit, namun ia tidak berdaya.
"Aku tidak bisa sesabar ibu, jika Rama sampai berbuat kasar lagi aku akan meminta bercerai," ucap Rima mantap.
"Itu pilihan mu, tapi semoga saja Rama bisa berubah,"
☆☆☆
Malam harinya.
__ADS_1
Setelah Rima mengantar ibunya ke kos, Rima memutuskan untuk pulang. Namun sebelumnya dia sudah berpesan kepada para tetangga kos jika melihat ayahnya di sekitar sana agar langsung menghubungi polisi saja.
"Ingat pulang rupanya kamu? Lupa kalau sudah punya suami?"
Baru saja menginjakkan kaki di rumah, Rama menyindirnya secara langsung.
"Bukankah aku sudah pamit tadi. Kamu juga tahu ibu ku sedang sakit, tapi kamu tidak ada datang. Sebenci itukah kamu kepada orang tua ku?"
"Buat apa aku datang? Toh aku tidak di butuhkan di sana,"
Seperti biasa, Rama menyimpulkan sesuka hatinya.
"Namanya orang sakit, pasti senang jika ada yang menjenguk. Apalagi keluarganya. Semenjak menikah sikap mu menjadi berbeda kepada orang tua ku, padahal mereka selalu berbuat baik kepada mu, terutama ibu,"
Rima sebenarnya sungkan dengan sikap Rama yang selalu tidak mau jika di ajak ke rumah orang tuanya. Saat ada arisan keluarga pun dia menolak ikut. Terkadang ia malu dengan keluarganya yang lain, mereka yang dari jauh saya bisa datang.
☆☆☆
Sebulan kemudian.
Seharusnya Rima sudah berhenti bekerja dua hari yang lalu, namun karena pak Agung masih sangat membutuhkan dirinya ia di minta bekerja sampai hari ini.
"Rima, sebenarnya aku berat kehilangan diri mu. Tapi apa boleh buat, aku menghargai keputusan mu. Apabila nanti ingin bekerja kembali, kamu bisa menghubungi aku ya," ucap pak Agung.
"Terima kasih sekali, Pak. Sebenarnya saya juga nyaman di sini, tapi ada faktor yang tidak bisa saya jelaskan. Saya juga akan ingat pesan Bapak,"
"Ya sudah tidak apa-apa, ini gaji terakhir mu. Aku pas kan 3 juta, semoga berkah ya,"
Pak Agung memberikan amplop kepada Rima. Gadis itu senang sekali menerimanya. Setelah berpamitan kepada semua pekerja dan bosnya Rima segera pulang.
☆☆☆
"Tumben sudah pulang, inikan baru jam 1 siang?" tanya Rama.
"Aku sudah berhenti kerja, ini hari terakhir ku," jawab Rima.
"Apa? Tapi kenapa kamu berhenti?"
Rama terlihat tidak senang mendengarnya.
"Kantornya pindah ke pusat di luar kota, di sini khusus gudang saja," jawab Rima asal.
"Lalu bagaimana biaya hidup kita nanti?"
"Ya kamu cari kerja, aku mau fokus merawat Rendra,"
"Tapi kamu kan tahu aku susah dapat pekerjaan, Rima,"
"Itu karena kamu pilih-pilih, kalau kamu memang mau itu teman ku ada lowongan kerja di proyek bangunan,"
"Apa? Jadi kuli?" tanya Rama.
__ADS_1