Takdir Cinta Rama Dan Rima

Takdir Cinta Rama Dan Rima
Bab 38 Menolak Pulang


__ADS_3

Rima masih tak percaya dengan penglihatannya, sepertinya ia terlalu berharap suaminya akan datang menjemputnya sehingga seolah melihatnya datang.


"Tidak mungkin Rama datang, dia kan belum tahu tempat tinggal ibu yang baru," guman Rima.


Rima mengucek-ngucek matanya, ia melihat ke jalan tempat tadi Rama terlihat. Namun kosong, tidak ada orang di sana. Ia merasa memang benar sedang berhalusinasi. Ia melanjutkan menyusui Rendra.


"Assalamualaikum,"


Rima mendengar suara suaminya mengucap salam.


"Ah tidak, sepertinya aku terlalu berharap. Tadi orangnya sekarang suaranya yang terdengar, sepertinya aku terlalu memikirkannya," ucap Rima.


"Assalamualaikum," suara itu terdengar lagi, kali ini lebih keras dari sebelumnya.


"Apa jangan-jangan memang dia datang ya?"


Rima mau bangkit dari tidurnya yang masih menyusui Rendra.


"Rima, dari tadi ada yang datang. Kenapa tidak kamu buka pintunya, Nak?" bu Santi yang tertidur sampai terbangun.


"Ibu juga dengar? Berarti aku tidak salah dengar,"


Rima bergegas membuka pintu, benar saja Rama sudah berdiri di depan pintu.


"Masuklah," Rima berpura-pura cuek walaupun hatinya begitu senang suaminya datang.


Rama masuk ke dalam mengikuti langkah istrinya. Bu Santi yang sadar ada menantunya datang segera bangkit dari tidurnya.


"Maaf Bu, sudah mengganggu istirahat nya," ucap Rama.


"Tidak apa-apa, ibu senang kamu datang,"


Bu Santi menyuruh putrinya juga duduk.


"Dalam pernikahan itu wajar jika ada pertengkaran, perbedaan dan lainnya. Ibu hanya berharap jika masih bisa di perbaiki, ayo di perbaiki bersama. Rendra masih terlalu kecil untuk kehilangan kasih sayang orang tua yang utuh. Ibu hanya memberi saran, selebihnya terserah kalian yang menjalani,"

__ADS_1


Sejujurnya bu Santi menyayangkan jika pernikahan mereka yang masih hitungan bulan harus kandas di tengah jalan. Kasihan Rendra yang pasti menjadi korbannya. Memang tidak semua anak nakal tercipta dari keluarga yang broken home. Namun dengan adanya perpisahan orang tua sedikit banyak memang mempengaruhi mental seorang anak. Anak dari keluarga yang tidak utuh rentan mengalami kurang kasih sayang.


Keduanya terdiam, tidak ada yang menyahuti ucapan bu Santi. Rima masih merasa kesal terhadap suaminya. Sementara Rama terlalu gengsi untuk meminta maaf terlebih dahulu.


"Sebenarnya, aku mau menjemput Rendra dan Rima Bu. Ibu ku sangat kesepian tanpa kehadiran mereka," balas Rama pada akhirnya.


"Jadi kamu datang karena ibu mu? Katakan pada ibu aku dan Rendra baik-baik saja. Tapi kami tidak akan pulang," sahut Rima tegas.


"Rima, sabar Sayang jangan emosi. Kasihan Rendra nanti rewel melihat orang tuanya bertengkar," cegah bu Santi.


"Dia kesini bukan atas kemauannya, Bu. Dia kesini karena ibunya yang yang merasa kehilangan kami. Dia sendiri justru senang kami tidak ada di rumah itu,"


Rima berkata dengan air mata berlinang. Hatinya begitu sakit, menjadi orang yang tidak di harapkan oleh suaminya sendiri. Sementara Rama tidak mau membela diri, dia tidak mau mengemis kepada istrinya.


"Iya Nak, sabar,"


Bu Santi mengelus punggung putrinya agar lebih tenang.


"Aku sudah menjemput mu tapi kamu yang menolak jadi ya terserah kamu," ucap Rama santai.


"Lebih baik kamu cepat pulang. Aku tidak akan pernah kembali jika kamu tidak berubah. Aku juga rela jika harus berpisah, untuk apa hidup dengan orang yang tidak menginginkan kehadiran kita,"


Rima bangkit dan pergi ke belakang. Ia menangis sejadi-jadinya tanpa bersuara. Tekadnya sudah bulat. Jika memang tidak dapat di perbaiki lebih baik tidak sama sekali.


"Maafkan Rima ya, dia masih sangat terluka. Lebih baik kamu pulang dan pikirkan lagi. Jika memang kamu masih mengharapkan anak dan istri mu datanglah kembali, jangan datang jika hanya karena perintah orang tua mu,"


"Baik Bu, permisi..."


Rama pergi dengan segudang rasa kecewa di hatinya. Ia yakin ibunya akan marah padanya. Namun ini bukan kesalahannya, ia sudah datang untuk menjemputnya namun malah di usir begitu saja.


☆☆☆


"Rima, kenapa kamu menolak untuk pulang?" tanya bu Santi.


"Apa ibu tidak dengar tadi, dia menjemput hanya karena perintah ibunya. Bukan keinginannya sendiri. Aku tidak mau hidup tersiksa seperti sebelumnya, Bu," jawab Rima.

__ADS_1


"Terkadang sebagai wanita kita tidak punya pilihan selain menjalani, walaupun itu begitu sulit. Kita juga tidak boleh egois, ada anak yang harus kita pikirkan,"


Bu Santi kembali menerawang ke masa lalu, di mana dirinya berada di posisi Rima sekarang. Tersiksa, jiwa dan raga. Namun tatkala melihat Rima kecil dan Reza yang masih bayi ia tidak bisa memilih, selain menjalani hidupnya yang jauh dari kata bahagia.


"Maaf Bu, aku tidak kuat jika harus berkorban seperti ibu. Apa yang ibu korbankan selama mungkin 20 tahunan itu sia-sia. Ayah tidak pernah berubah, justru semakin menjadi. Aku dan Reza juga tidak hidup bahagia. Lalu apa gunanya berkorban seperti itu?"


Kata-kata putrinya begitu telak menghujam jantungnya. Ia benar, sepanjang pengorbanannya selama ini hanya rasa sakit yang ia terima. Kedua anaknya juga tidak bahagia. Bu Santi tertunduk, air matanya luruh bersama kesadarannya.


Rima merasa bersalah telah membuat ibunya terluka karena ucapannya. Ia memeluk ibunya dengan erat.


"Ibu, maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakiti mu. Aku hanya tidak sependapat dengan ibu mengenai hal itu," ucap Rima.


"Tidak apa-apa Nak. Justru ibu baru sadar, jika memang apa yang aku korbankan hanya sia-sia. Aku akan segera menggugat cerai ayah mu. Aku tidak mau memaafkannya terus-menerus,"


"Apa? Jadi ibu belum menggugat cerai ayah? Bukankah ibu bilang sudah ya?"


Rima bingung karena ia ingat betul pernah bertanya mengenai hal ini dan ibunya berkata sudah memasukkan gugatan.


"Maaf Nak, ibu berbohong. Tapi kali ini ibu serius, ucapan mu membuat ku sadar jika tidak ada gunanya menunggu lebih lama lagi,"


"Astaga, hati ibu itu sebenarnya terbuat dari apa sih? Ayah sudah sering kasar kepada ibu, bahkan dia terang-terangan berselingkuh di hadapan ibu. Kenapa ibu masih juga berharap dengan pria seperti dia?"


Rima sangat gemas dengan ibunya yang super sabar. Baginya dia bukan lagi manusia tapi malaikat.


"Iya Nak, ibu memang terlalu naif. Ibu juga tidak mengerti mengapa begitu sulit meninggalkan ayah mu, selalu saja ada rasa kasihan di hati ini,"


"Jangan-jangan ibu sudah di guna-guna oleh ayah," tebak Rima.


"Huss... tidak boleh berprasangka buruk begitu," ucap Bu Santi.


"Lagian ibu itu terlalu sabar. Jika aku jadi ibu, sudah pasti aku laporkan kepada polisi," sahut Rima.


"Ada apa ini? Siapa yang mau di laporkan ke polisi?"


Pak Tono memandang anak dan istrinya bergantian. Nyali Rima menciut melihat kehadiran ayahnya secara tiba-tiba. Ia ketakutan seolah ayahnya adalah monster yang sangat berbahaya.

__ADS_1


__ADS_2