
Keesokan harinya.
"Bu, tolong jangan beritahu orang tua ku tentang kondisi ku ya," pinta Rima.
"Tapi Nak..."
"Ibu aku mohon, aku tidak ingin membuat mereka sedih dengan keadaan ku seperti ini,"
Rima memegang tangan bu Yani, menatapnya dengan mengiba.
"Baiklah, tapi kamu harus berjanji untuk mengikuti ucapan dokter agar cepat sembuh ya,"
Rima mengangguk dan mengucapkan terima kasih kepada ibu mertuanya.
"Ibu pulang dulu ya, biar Rama yang menunggu di sini. Nanti sore ibu akan menginap lagi di sini,"
Sebenarnya Rima lebih tenang jika ibu mertuanya yang menemaninya daripada suaminya itu. Ia masih trauma dengan perlakuan pria itu, sudah tahu dirinya sedang kesakitan bukannya prihatin justru menambah parah rasa sakitnya.
☆☆☆
"Rima, bangun..."
Rama mengguncang tubuh istrinya yang masih tertidur. Terpaksa Rima membuka mata.
"Rama, ada apa?" tanya Rima.
"Kamu harus cepat pulang, jangan enak-enakan di sini. Apa kamu tidak malu berobat memakai uang orang tua ku," Rama berkata dengan ketus.
"Tega sekali kamu mengatakan itu, padahal kamu yang membuat ku seperti ini. Kamu menyetubuhi aku dengan kasar saat mabuk, kamu bahkan menendang kaki ku saat aku sedang sakit. Aku juga tidak ingin di sini,"
Air mata Rima luruh seketika, badannya bergetar menahan perih di hatinya.
"Bukannya saat itu sudah aku bilang jika aku belum siap, tapi kamu yang mau mempertahankan bayi ini,"
"Sekarang kamu menyalahkan aku? Kenapa kamu berani mengajak ku bercinta jika tidak mau bertanggung jawab? Kamu yang membuat hidup ku seperti ini jadi jangan bicara seolah kamu yang jadi korban di sini,"
Rima tak mampu lagi menahan emosinya, ia berteriak mengeluarkan semua rasa sakit di dadanya.
"Berani ya kamu berteriak seperti itu kepada ku,"
Plakkk...
Rama menampar istrinya cukup keras.
"Aku tidak menyangka sifat asli mu seperti ini, kamu sangat jahat Rama,"
__ADS_1
Kali ini Rima berkata dengan lirih, ia takut suaminya akan menghajarnya lagi. Di ruangan ini dia seorang diri, tidak akan ada yang bisa membantunya jika terjadi apa-apa dengannya.
Sakit di perutnya belum juga sembuh sekarang di tambah sakit di pipinya. Belum lama ia menikah namun sudah banyak kekerasan yang ia terima, jika bukan karena bayi dalam kandungannya rasanya ia tidak sudi mempertahankan pernikahan ini lagi.
☆☆☆
"Rama, tolong bantu aku. Rama..."
Rima memanggil suaminya untuk meminta tolong, namun pria itu pura-pura tidak mendengar dan justru asyik bermain game.
"Rama..."
Rama benar-benar keterlaluan, ia tidak punya perasaan. Karena tidak sanggup menahan buang air kecil, Rima turun sendiri. Ia membawa cairan infus dan meletakkannya di depan kamar mandi, dengan tertatih-tatih dan masih menahan rasa sakit ia terus melangkah. Ia kembali beristirahat dan tidak mengindahkan kehadiran suaminya lagi.
"Selamat siang, bagaimana keadaannya Bu Rima?" tanya dokter dan perawat yang mengunjunginya.
"Alhamdulillah, sudah mendingan Dok," jawab Rima.
"Tolong benar-benar istirahat total ya, jika ibu masih ingin mempertahankan bayi ini maka harus mengikuti semua anjuran dokter. Sementara minta di layani dulu dengan orang terdekat,"
Rima hanya tersenyum dan mengangguk. Ia tidak berharap banyak jika suaminya yang menjaganya. Ia berharap ibu mertuanya segera datang untuk menemaninya. Andai saja ibunya tahu, ia pasti akan menemaninya di sini.
"Ini cepat di makan,"
Rama meletakkan makanan untuk Rima di dekatnya, lalu duduk kembali untuk bermain game. Rima hanya bisa menghela napas dan membatin kelakuan suaminya itu.
Rima memberanikan diri untuk bertanya. Ia tidak ingin menduga-duga lagi.
"Memangnya kenapa?" Rama balik bertanya.
"Aku hanya ingin tahu, jawab saja yang sebenarnya,"
Rama hanya tersenyum sinis.
"Ada tidak ada bayi itu tidak akan merubah keadaan, toh kita sudah menikah,"
"Maksud mu apa? Apa kamu ingin kita bercerai?" tanya Rima.
"Sudahlah, jangan terlalu banyak bicara. Aku capek mendengar kamu ngoceh terus tiada henti,"
Rima hanya bisa menahan rasa perih itu sendiri. Hatinya terluka mengetahui kenyataan dirinya adalah seorang istri yang tidak di harapkan.
☆☆☆
Dua hari kemudian.
__ADS_1
Keadaan Rima sudah membaik, perutnya sudah tidak terasa sakit. Hanya terasa sedikit nyeri jika dirinya mengangkat beban terlalu berat. Ibu mertuanya merawatnya dengan baik. Sedangkan sikap suaminya masih belum ada perubahan, dia masih sering marah tanpa sebab.
"Alhamdulillah ya, kamu sudah boleh pulang. Sementara jangan melakukan pekerjaan rumah dulu ya, biar ibu saja. Jika kamu butuh sesuatu panggil ibu saja," ucap Bu Yani.
"Terima kasih ya Bu, ibu sangat baik sekali,"
Rima memeluk ibu mertuanya, ia bersyukur kedua orang tua suaminya begitu baik terhadapnya.
☆☆☆
"Kamu jangan memanfaatkan kebaikan orang tua ku. Biaya rumah sakit kamu sangat banyak, kamu harus segera menggantinya," ucap Rama saat mereka berada di dalam kamar.
"Kenapa kamu begitu membenci ku, apa salah ku pada mu. Seharusnya jika kamu memang tidak menginginkan aku, kamu tolak pernikahan ini," balas Rima.
"Karena kamu hanya menjadi beban bagi ku, kamu membuat hidup ku tidak bebas lagi. Karena kamu, orang tua ku selalu memarahi ku. Kamu hanya membawa sial dalam hidup ku,"
"Semua ini karena perbuatan mu Rama, mengapa seolah kamu berkata ini semua salah ku. Kamu egois, kamu kekanakan sekali,"
Rima memalingkan wajahnya, ia memunggungi suaminya untuk menyembunyikan luka di hatinya.
"Ya Allah, aku tidak sanggup lagi jika terus hidup seperti ini," ratap Rima di dalam hatinya.
☆☆☆
Malam harinya.
Rima mengikuti saran dari dokter agar banyak beristirahat. Ia menutup telinganya dari sindirin-sindiran suaminya yang di lontarkan sepanjang waktu karena dirinya lebih banyak rebahan. Apa yang ia lakukan selalu salah di mata suaminya.
Malam sudah menunjukkan pukul 22.00, semua penghuni rumah sudah masuk ke kamar masing-masing. Begitu juga ia dan suaminya, mereka berbaring saling memunggungi. Tiba-tiba Rama melempar bantal kepadanya. Ia yang sudah hampir terlelap sangat terkejut.
"Kamu kenapa sih Rama, suka sekali mengganggu ku? Jika kamu tidak bisa berbuat baik, janganlah kamu mengganggu ku," ucap Rima kesal.
"Bicara apa kamu, berani kepada ku? Cepat sana tidur di luar, ini kamar ku,"
Rama mengusirnya, namun ia mencoba bersikap acuh dan tidak meladeninya.
"Hei... Kamu tuli ya? Cepat keluar atau aku tendang perut mu," ancam Rama.
Mata Rima yang tinggal 5 watt seketika membulat sempurna, ia spontan memegangi perutnya karena takut dengan ancaman pria itu. Ia memilih keluar dan mengalah.
Waktu terus berputar, jam di dinding sudah menunjukkan tengah malam. Rima sangat mengantuk sekali, ia memutuskan masuk ke dalam kamar.
Ceklek... ceklek...
Pintu kamar tidak bisa terbuka, sepertinya suaminya mengunci pintu dari dalam.
__ADS_1
Rima memandang sekeliling, ada rasa takut menyelinap di dadanya. Namun ia berusaha untuk berani. Ia membaringkan tubuhnya di sofa karena tidak kuat dengan rasa kantuk yang mendera. Suaminya begitu tega membiarkannya tidur seorang diri di luar.