Takdir Cinta Rama Dan Rima

Takdir Cinta Rama Dan Rima
Bab 23 Cobaan


__ADS_3

Keesokan harinya.


"Hei bangun, cepat pindah ke dalam kamar," perintah Rama.


Rima melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 03.30. Sepertinya suaminya tidak tidur, tapi mengapa dia diam saja saat tadi dirinya mencoba membuka pintu. Sepertinya pria itu memang sengaja membuatnya tidur di luar. Dan karena hampir pagi ia takut ketahuan oleh orang tuanya makanya menyuruhnya masuk.


Rima tidak ingin berpikir lagi, ia sedang ngantuk berat. Sedari tadi ia tidak bisa tidur nyenyak, karena selain takut juga banyak nyamuk yang menggigit sekujur tubuhnya yang tidur tanpa selimut. Ia langsung terlelap lagi dan tidak peduli dengan tatapan suaminya.


☆☆☆


Pagi harinya, Rima bangun kesiangan dan melewatkan shalat subuh. Ia mulai membantu pekerjaan ibu mertuanya yang tidak terlalu berat, sementara suaminya masih tidur dengan nyenyak.


"Bu, setelah selesai semua aku pamit ke rumah ibu ku ya. Sudah lama aku tidak berkunjung, beliau pasti kangen. Tolong nanti beritahu jika Rama bangun ya Bu,"


"Memangnya ibu mu tidak bekerja, Sayang?"


"Masuk sore Bu, barusan aku sudah mengirim pesan,"


"Ya sudah tapi hati-hati bawa motornya pelan-pelan saja,"


"Iya, Bu,"


Rima segera menyelesaikan pekerjaannya, kemudian pergi mandi. Setelah berpakaian rapi ia pamit kepada ibu mertuanya. Ia membawa motor pelan sekali, apalagi banyak polisi tidur menuju ke rumah ibunya.


"Assalamualaikum,"


"Waalaikum salam,"


Ternyata ibunya sudah menyambutnya di depan rumah. Wanita itu segera memeluk dan mengusap perutnya yang mulai membesar dengan penuh kasih sayang.


"Bagaimana keadaan mu dan bayi mu, Nak?" tanya bu Santi.


"Alhamdulillah baik, Bu,"


Mereka duduk di atas kasur.


"Mengapa kamu melarang ibu berkunjung tempo hari? Apa keluarga Rama memperlakukan diri mu dengan baik?"


Seorang ibu memiliki keterikatan batin yang kuat dengan putrinya. Sebenarnya perasaan bu Santi tidak nyaman beberapa waktu lalu, namun karena Rima melarangnya berkunjung maka ia tahan. Ia tidak tahu jika pada saat itu putrinya sedang mendapat perlakuan tidak baik dari suaminya.


"Mereka sangat baik kok, jadi Ibu tidak perlu kuatir,"


Rima berbohong supaya ibunya tidak kuatir terhadap kondisinya. Ibunya sudah mempunyai banyak beban, ia tidak ingin menambahnya lagi.

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu, apa kamu sudah sarapan? Jika belum ayo kita sarapan bersama,"


"Sudah Bu, tadi sarapan dengan ibu mertua ku. Bagaimana kabar Reza dan ayah Bu?"


Bu Santi menghela napas dengan kasar, ia tidak ingin menutupi semua dari putrinya. Sepertinya Rima juga sudah bisa menduganya.


"Reza baik Nak, hanya lebih sering main di luar sekarang. Sepertinya dia malas tinggal di rumah,"


"Seandainya aku punya rumah sendiri aku ingin membawa dia tinggal Bu, jujur aku begitu kuatir jika dia hanya bersama ayah di rumah. Ibu tahu kan ayah orangnya suka main pukul,"


Memang mereka kuatir sekali, pria itu tidak takut kepada siapa pun. Bahkan para tetangga tidak ada yang berani mengusiknya walaupun jelas-jelas pria itu bersalah. Oleh karena itu selama bertahun-tahun ibunya tetap bertahan, karena suaminya kerap mengancam akan melukai anak-anaknya.


Mempunyai nasib yang hampir sama, kedua wanita itu terus mengobrol sampai lupa waktu. Hari telah siang saat Rima mulai tersadar. Ia harus segera pulang supaya tidak di marahi suaminya lagi. Ia kemudian berpamitan.


☆☆☆


"Rama kemana ya? Rumah ini kok sepi sekali, kemana semua orang?" tanya Rima.


Ia telah mencari ke semua sudut ruangan, namun tidak seorang pun penghuni rumah yang terlihat. Perasaannya menjadi tidak nyaman. Ia mencoba akan bertanya kepada saudara keluarga mertuanya.


"Rima..."


Seseorang memanggil namanya, spontan ia pun menoleh.


"Rangga, ada apa?" tanya Rima.


"Iya, kok kamu tahu?"


Rangga menempelkan telunjuk di bibirnya, sebagai tanda jika Rima tidak boleh ramai.


"Rama di bawa polisi barusan, ia tertangkap tangan sedang mengkonsumsi obat terlarang bersama temannya. Orang tuanya ikut menemaninya ke kantor polisi,"


Seketika dunia Rima terasa runtuh mendengar penjelasan Rangga. Sejak kapan suaminya mengenal barang haram itu? Ia pun tidak tahu pasti. Pantas saja perangainya sering berubah-ubah, ternyata benda itu penyebabnya.


"Kamu tidak sedang bercanda, bukan?"


Rima masih menolak percaya, namun sepertinya pria itu tidak berbohong.


"Buat apa aku bercanda untuk masalah seserius itu. Aku masuk dulu,"


Pria itu masuk ke dalam rumahnya lagi, sementara Rima langsung menghubungi ponsel suaminya. Nomornya ternyata tidak aktif. Tak kehilangan akal ia segera menghubungi nomor bu Yani namun tidak di angkat.


Rasa gelisah membuatnya tidak bisa duduk dengan tenang. Ia hanya bisa hilir mudik menunggu kedatangan mereka. Mau mencari ke kantor polisi ia juga tidak tahu suaminya di bawa ke kantor polisi yang mana.

__ADS_1


Karena lelah menunggu Rima tertidur di sofa, ia terbangun saat mendengar suara pintu di buka. Ternyata mertuanya sudah pulang.


"Bu, bagaimana dengan Rama? Kata Rangga polisi sudah membawanya? Apa dia baik-baik saja, Bu?"


Rima membombardir bu Yani dengan banyak pertanyaan. Mertuanya menuntunnya untuk duduk di sofa kembali.


"Doakan suami mu ya Rima, semoga ia bisa bebas besok. Jangan lelah untuk menasehati dirinya untuk menuju jalan lurus," Bu Yani berkata dengan lembut.


"Ibu rasanya tidak sanggup mendapat cobaan begini, hiks... hiks..."


Bu Yani memeluk menantunya itu dengan air mata berlinang, ia tidak sanggup menahan perasaannya lagi.


"Sabar ya Bu, ini adalah cobaan bagi kita semua. Semoga setelah ini Rama bisa sadar dan tidak mengulangi hal yang sama,"


Rima berusaha menghibur ibu mertuanya yang sedang rapuh. Padahal sebenarnya dirinya juga butuh dukungan saat ini. Ia hanya bisa berdoa di dalam hati agar suaminya cepat bebas. Walaupun pria itu selalu kasar kepadanya, namun ia tetaplah suaminya. Ia akan tetap mendoakan yang terbaik untuknya.


☆☆☆


Keesokan harinya.


Rima sedang membantu pekerjaan ibu mertuanya seperti biasanya. Menurut infonya Rama akan pulang hari ini. Ayahnya telah memberi jaminan yang tidak sedikit agar suaminya itu bisa bebas. Kekuatan uang memang maha dasyat, bahkan hukum pun bisa di beli.


"Assalamualaikum,"


"Waalaikum salam,"


Mereka segera melangkah ke depan mengetahui suara khas yang memberi salam.


"Rama, kamu sudah pulang Nak,"


bu Yani segera memeluk putranya sembari menangis.


"Rama..."


Rima juga memeluk suaminya namun tidak di balasnya. Orang tuanya menyuruh Rama untuk beristirahat, mereka tahu putranya tidak mungkin bisa tidur saat di dalam sel.


"Rama, aku sangat senang kamu kembali. Semoga semua cobaan ini segera berakhir cukup sampai di sini,"


Rima menghampiri suaminya di dalam kamar.


"Semua karena kamu, aku begini karena diri mu. Jika saja kamu tidak menyuruh ku bekerja, aku tidak akan kembali ke dunia itu," balas Rama ketus.


"Apa maksud mu, Rama?" tanya Rima bingung.

__ADS_1


"Uang yang aku berikan untuk mu tiap hari waktu itu adalah hasil menjual barang haram,"


"Apa? Jadi kamu bekerja..."


__ADS_2