Takdir Cinta Rama Dan Rima

Takdir Cinta Rama Dan Rima
Bab 37 Menjemput Rima


__ADS_3

Rima tidak menjawab pertanyaan ayahnya. Ia yakin pria itu pasti akan menyalahkannya seperti biasanya, jadi percuma saja menjelaskan yang terjadi.


"Sudahlah, lebih baik kamu urusi saja pacar mu itu," ucap Bu Santi.


"Jaga mulut mu, bagaimanapun aku ini masih suami mu. Kamu harus menghargai aku," balas pak Tono.


"Lepaskan saja Ibu, Yah. Untuk apa masih mempertahankannya, jika ayah sudah memiliki wanita lain," sahut Rima.


"Tidak perlu ikut campur urusan orang tua, urus saja hidup mu sendiri. Aku yakin kamu kesini karena bertengkar dengan suami atau mertua mu. Makanya jadi wanita jangan sok pintar, jangan cerewet,"


Brukkk...


Pak Tono menggebrak pintu, kemudian pergi meninggalkan istri dan anaknya.


"Ibu benar sudah mendaftarkan gugatan cerai?" tanya Rima.


"Sudah, tapi masih dalam proses. Ibu juga tidak ingin hidup bersama ayah mu lagi, terlalu sakit hati ku melihat perilakunya,"


Bu Santi memegangi dadanya. Dari penampilannya saja terlihat jika wanita itu di penuhi tekanan batin.


☆☆☆


Di rumah Rama.


Ting tong... ting tong...


Bu Yani segera memeriksa pintu pagar, ternyata Budi yang datang. Pria itu adalah salah satu teman putranya.


"Ramanya ada, Bu?" tanya Budi.


"Ada di kamar, sebentar ya aku panggilkan,"


Budi duduk di ruang tamu, menunggu Rama.


"Rama, ini ada Budi mencari mu," teriak bu Yani di depan pintu kamarnya.


"Rama..." panggilnya lagi.


"Iya, iya aku bangun,"


Rama bangkit dengan malas, ia membuka pintu kamarnya di mana Bu Yani masih berdiri di situ. Ia melewatinya dan menuju ke ruang tamu.


"Ada apa, Bud?" tanya Rama masih setengah mengantuk.


"Kok ada apa sih? Janji mu bagaimana? Bukannya kamu sudah janji mau bayar, kenapa tidak datang-datang?" tanya Budi.


"Sssttt,"


Rama menempelkan telunjuk di mulutnya, ia menoleh ke belakang. Ia lega ibunya sudah tidak berdiri di sana.

__ADS_1


"Jangan ramai, nanti ibu ku dengar. Tenang saja, pasti segera aku ganti," jawab Rama.


"Jangan janji terus, aku butuh uang itu. Makanya kalau tidak punya uang jangan main judi," ucap Budi kesal.


"Iya maaf, aku juga tidak menyangka waktu itu akan kalah terus," balas Rama lirih.


"Aku beri waktu kamu 3 hari, jika tidak kamu bayar maka aku akan minta pada orang tua mu," ancam Budi.


"Wah jangan begitu dong, aku pasti usahakan, tenang saja,"


Budi segera pergi dari sana, percuma berlama-lama karena Rama juga tidak bisa membayar.


Rama gelisah, ia takut dengan ancaman Budi. Ia berpikir bagaimana caranya mendapat uang. Belum lagi ia harus mengganti laptop yang hilang. Kepalanya mendadak pusing memikirkan itu semua.


"Arrghhh... sial," umpatnya.


"Kemana aku harus mencari uang sebanyak itu dalam waktu cepat ya?"


Rama berpikir keras, ia teringat dengan sepupunya Ghani. Ia pasti punya banyak uang, jadi bisa meminjam kepadanya dulu. Ia segera mencari ponselnya untuk menghubungi saudaranya itu.


"Halo, Ghani,"


Rama senang Ghani segera mengangkat teleponnya.


"Wah ada angin apa ini kamu menelepon ku?" tanya Ghani.


"Memang tidak boleh aku menelepon mu?" tanya Rama.


"Maaf Ghani, kalau itu rasanya aku sudah jera. Pekerjaan itu terlalu beresiko walaupun bayarannya memang besar,"


"Ya sepadanlah dengan hasilnya. Lalu ada apa? Jangan katakan kamu merindukan ku,"


Ghani bercanda untuk mencairkan suasana.


"Hahaha... tentu saja tidak. Aku mau minta tolong pada mu,"


"Minta tolong apa?"


"Aku terlilit hutang karena kalah taruhan, aku juga harus mengganti laptop yang hilang saat aku kerja security tempo hari. Bisakah aku pinjam pada mu dulu?"


"Butuh berapa memangnya?"


Rama berpikir sejenak, ia harus melebihkan jumlah pinjamannya agar bisa ia pegang dan gunakan sisanya.


"10 juta kalau ada,"


"Kalau segitu sekarang aku tidak punya, uang ku sudah aku kirim untuk orang tua ku. Sebentar lagi aku akan menikah, jadi harus menabung. Aku hanya bisa memberi mu 2 juta rupiah, bagaimana?"


Dari pada tidak ada sama sekali tidak apa-apa pikir Rama.

__ADS_1


"Ya tidak apa-apa, dari pada tidak ada,"


"Ok, segera kirim nomor rekening mu agar bisa segera aku transfer ya,"


Setelah mengirimkan nomor rekening panggilan pun berakhir. Tidak berapa lama kemudian Ghani segera mengirim uangnya. Setelah tahu uangnya telah masuk, Rama bergegas mandi. Ia harus keluar untuk mengambil uang itu.


"Mau kemana kamu, Rama? Menjemput Rima dan Rendra ya?" tegur bu Yani.


"Tidak, aku mau keluar sebentar,"


"Mau kemana, berjudi lagi? Ibu sudah mendengar semuanya. Ayah mu pasti sangat marah jika sampai tahu kamu sampai berhutang karena kalah judi,"


Rama tersentak, ia tidak menyangka ibunya sudah tahu semuanya. Bisa panjang urusannya jika sampai ayahnya tahu masalah ini. Ayahnya pasti marah dan memukulnya. Ia harus membujuk ibunya supaya tidak melaporkannya.


"Tolong jangan bilang kepada ayah ya Bu, aku janji tidak akan berjudi lagi. Ini juga akan aku bayar hutang ku kepada Budi,"


"Memangnya kamu punya uang?"


Bu Yani tidak begitu saja percaya.


"Iya ada, ini aku mau keluar untuk mengambil uang dan memberikannya kepada Budi," jawab Rama mantap.


"Terserah kamu. Ibu akan tutup mulut, tapi kamu harus segera membawa menantu dan cucu ibu kembali, jika tidak ibu pasti cerita masalah ini kepada ayah mu,"


Bu Yani memegang kelemahan Rama, ia memanfaatkannya untuk mendapatkan apa yang di inginkannya. Rama berpikir sejenak, baru kemudian memutuskan.


"Baiklah Bu, aku akan segera membawa mereka pulang. Tapi ibu janji tidak akan bilang pada ayah ya?"


"Ok, kita sepakat. Segeralah bawa mereka pulang,"


Rama segera berpamitan. Sebenarnya ia malas sekali menjemput istrinya, hal ini pasti akan membuatnya besar kepala. Namun apa boleh buat ia tidak ada pilihan lain.


Rama segera pergi mengambil uang dan memberikannya kepada Budi untuk membayar hutangnya. Budi senang karena Rama menepati janjinya. Setelah dari sana ia segera ke tempat orang tua Rima. Namun ia tidak tahu jika mereka sudah pindah. Is terpaksa menghubungi Rima untuk meminta alamatnya. Namun nomor ponselnya tidak aktif.


"Waduh gimana ini, jika sampai aku tidak berhasil ibu pasti melaporkan ku pada ayah,"


Rama gelisah, ia terus menghubungi istrinya namun tetap tidak tersambung.


"Hei Rama, sedang apa kamu di sini?"


Ternyata ayah Rima yang menegurnya. Mungkin sebaiknya ia bertanya kepada pria itu.


"Aku ingin menjemput Rima, tapi nomor ponselnya tidak aktif Yah. Aku tidak tahu alamatnya yang baru," jawab Rama.


"Ya sudah, ayo ayah antar,"


Mereka berdua langsung menuju kos nya yang baru. Ia melihat istri dan anaknya dari kejauhan.


"Rama..."

__ADS_1


Rima tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


__ADS_2