Takdir Cinta Rama Dan Rima

Takdir Cinta Rama Dan Rima
Bab 34 Menjadi Security


__ADS_3

Keesokan harinya.


Pagi-pagi sekali Rama sudah bangun, hari ini ia akan mulai bekerja sebagai security bersama sepupunya Rangga.


"Bagi uang, aku butuh untuk makan dan rokok nanti,"


Tanpa rasa bersalah ia menadahkan tangannya kepada istrinya.


"Apa? Tidak salah kamu minta uang kepada ku? Uang yang kamu beri sisanya kemarin kamu ambil semua, mana ada aku punya uang lagi," jawab Rima kesal.


"Lalu aku nanti makan apa?" tanya Rama.


"Ya bekal, masa kamu mau minta sama orang tua mu," jawab Rima.


"Kamu memang istri yang tidak bisa di andalkan," maki Rama.


"Sebaiknya kamu ngaca dulu, sebelum bicara,"


Rima pergi begitu saja, ia muak dengan tingkah suaminya. Sudah tidak bisa memberi nafkah, tega selingkuh dengan wanita lain, uang pemberiannya di ambil lagi, sekarang malah menghinanya sebagai istri yang tidak bisa di andalkan. Sakit rasanya hati Rima, perjuangannya tidak pernah di hargai.


"Tumben kamu bawa bekal, apa semua uang hasil usaha kamu habiskan?" tanya ibunya.


Rama tidak menjawab, ia masih tetap sibuk menciduk nasi dan lauk pauknya. Setelah di rasa cukup ia lalu pergi dari sana. Ia menuju ke rumah Rangga.


"Mau kerja kok wajah mu suntuk sekali sih," ledek Rangga.


"Malas banget aku, tidak ada uang sama sekali," ucap Rangga.


"Makanya kalau punya uang jangan di berikan ke wanita lain, kualat sama istri," sindir Rangga.


'Sialan si Rangga, dari mana dia tahu aku memberi uang wanita lain ya?' batin Rama.


"Jangan asal ngomong kamu, sudah ayo cepat berangkat," ucap Rama mengalihkan pembicaraan.


Sebenarnya Rangga pernah memergoki sepupunya itu jalan bersama perempuan lain, namun saat itu dirinya tidak mau berburuk sangka. Tapi karena melihat bagaimana usahanya gulung tikar, sedangkan konternya ramai akhirnya ia berasumsi seperti tadi.


☆☆☆


Siang harinya.


"Duh bosan sekali sih, kerjaan cuma duduk, ngawasi orang keluar masuk. Tidak betah rasanya begini terus," gerutu Rama.


"Astaga, baru juga setengah hari kamu sudah mengeluh Rama. Ayo kita istirahat dulu, ini jatah makan mu,"


Rangga segera membuka jatah makan siangnya.

__ADS_1


"Wah menunya kelihatannya enak sekali,"


Rangga makan dengan lahap, melihat sepupunya makan begitu nikmat, Rama jadi ikut lapar. Di bukanya bekal serta jatah makan siangnya. Ia makan keduanya.


"Astaga, kamu bawa bekal? Doyan apa kelaparan kamu sampai habis semua begitu," ledek Rangga.


Rama tidak peduli, ia meletakkan kotak makannya begitu saja setelah selesai. Sekarang rasa kantuk mulai menderanya.


"Rangga, aku ngantuk sekali," ucap Rama.


"Makanya jangan sering begadang. Sana cuci muka dulu sebelum kerja lagi,"


Rama menuruti saran sepupunya, ia segera ke toilet untuk membasuh wajahnya agar segar kembali.


☆☆☆


"Bu, aku pamit mau pergi ke tempat ibu ku dulu ya,"


Rima meminta izin kepada ibu mertuanya.


"Memangnya kamu bisa mengendarai motor sambil membawa Rendra?" bu Yani merasa ragu.


"Bisa kok Bu,"


"Ya sudah, hati-hati ya,"


"Astagfirullah,"


Rima terkejut dengan apa yang dia lihat. Ibunya tengah memasak, sedangkan ayahnya tengah bermesraan dengan wanita lain di kamar sebelah. Ibunya jelas dapat melihat mereka, tapi herannya mengapa ibunya diam saja seolah tidak ada masalah.


"Rima Sayang, kenapa tidak bilang jika mau datang ke sini,"


Bu Santi segera menghentikan aktivitasnya memasak, ia menuntun putrinya masuk ke dalam kamarnya.


"Apa ibu tidak merasa terganggu melihat pemandangan di sebelah?" tanya Rima.


Bu Santi tampak menghela napas dengan kasar, pandangannya sayu.


"Awalnya ibu sakit hati Nak, ibu selalu menangis. Kamu lihat saja badan ibu sampai habis begini karena kepikiran. Tapi sekarang sudah terbiasa, ibu tidak sudi menangis lagi untuk pria seperti ayah mu itu,"


Wajahnya tampak sedih, namun sudah tidak ada lagi air mata yang menggenangi kedua manik wanita tua itu. Kini dirinya benar-benar berusaha untuk tegar. Ia harus bisa bertahan untuk Reza. Rima sudah memiliki keluarga baru, jadi ia sedikit tenang. Pikirannya sekarang adalah Reza, karena putranya sering di jadikan bahan ancaman oleh suaminya itu.


"Lebih baik Ibu berpisah dengan ayah. Aku tidak tega ibu di sakiti terus-menerus seperti ini,"


Ia tidak tega melihat kondisi ibunya sekarang, tubuhnya sangat kurus seakan hanya tinggal tulang terbalut kulit. Begitu kentara jika hidupnya penuh beban. Semua ia tanggung sendiri.

__ADS_1


"Aku juga ingin seperti itu, ini sedang ibu usahakan untuk mengurusnya,"


Keduanya asyik bercerita. Rima juga sudah tidak kuat menahan perasaan sakit di hatinya sendiri, ia butuh berbagi. Mungkin ini terlihat bagaikan membuka aib suami sendiri, namun hanya dengan bercerita kepada ibunya akan mengurangi beban di hatinya.


"Astaga Rima, kenapa hidup mu tidak jauh berbeda dengan ku. Ibu kira jika menikah dengan Rama hidup mu akan selalu bahagia, ternyata sama saja,"


Bu Santi sangat terkejut mendengar cerita putrinya, pasalnya selama ini dia tidak pernah mengeluh apapun. Ternyata ia juga menahan beban itu sendirian, seperti dirinya.


"Ya begitulah Bu, aku juga bertahan demi anak. Sekarang aku juga bisa merasakan apa yang Ibu rasakan selama ini. Mengapa hidup kita begini, Bu?"


Rima tidak dapat lagi menahan laju air matanya yang turun dengan deras membasahi pipinya. Bu Santi memeluknya, berusaha menguatkannya.


"Sabar ya Sayang, kita doakan saja yang terbaik. Allah tidak mungkin memberi cobaan kita terus-menerus. Kamu harus kuat, kasihan Rendra masih sangat kecil,"


Rima pasrah, ia memutuskan untuk menjalani pernikahannya dengan Rama seperti air mengalir saja. Ia akan bertahan sekuat yang ia bisa.


☆☆☆


Malam harinya.


"Rima, ini sudah hampir jam 8 malam kenapa suami mu belum pulang juga ya?" tanya bu Yani.


"Ibu benar, harusnya dia pulang jam 7. Apa mungkin lembur atau dia masih nongkrong bersama Rangga, aku lihat dia juga belum datang," jawab Rima.


"Semoga saja pekerjaannya lancar, karena ini hari pertamanya," sahut bu Yani.


"Amin,"


Saat mereka tengah asyik mengobrol, terdengar suara mesin motor Rama yang baru saja datang.


"Sepertinya itu Rama Bu, panjang umur dia, baru juga kita bicarakan," ucap Rima.


"Iya, itu suara motornya,"


Mereka menuju ke ruang tamu.


"Assalamualaikum," ucap Rama.


"Waalaikum salam, kok malam pulangnya Nak?" tanya bu Santi.


Wajah Rama tampak tidak bahagia, entah apa yang terjadi padanya.


"Aku di berhentikan, tadi hari pertama dan terakhir ku bekerja di sana," jawab Rama.


"Kok bisa, memangnya kenapa?" Bu Yani dan Rima sama-sama bingung.

__ADS_1


"Tadi kampus kemalingan, sebuah laptop mahasiswa hilang. Aku tidak bisa menemukan siapa pelakunya, aku di salahkan karena saat kejadian aku ketiduran. Aku di pecat bahkan di suruh mengganti laptop yang hilang," jelas Rama.


__ADS_2